5 Kelemahan Blitzkrieg Jerman

Blitzkrieg atau taktik perang kilat digadang-gadang sebagai sebuah strategi revolusioner yang dihasilkan Jerman pada babakan awal Perang Dunia ke 2. Taktik ini dianggap sebagai sebuah tonggak sejarah, di mana perang sebelumnya yang mengandalkan tenaga manusia digantikan oleh tenaga mesin.

Blitzkrieg Blitzkrieg Jermanjuga dianggap merevolusi jalannya perang yang dahulu lama dan berlarut-larut, menjadi perang yang cepat dan mobile. Cara perang yang baru ini digunakan untuk menghindari perang parit yang statis seperti yang terjadi pada Perang Dunia 1 di sepanjang front barat.  Taktik perang yang dianggap terlalu memakan banyak korban dan tidak inovatif. Hitler yang pada Perang Dunia 1 berperang di dalam parit agaknya merasa jijik dengan strategi itu.

Dengan berbagai keunggulan diatas, muncul pertanyaan, mengapa Blitzkrieg yang dilancarkan Jerman akhirnya gagal memenangkan Perang Dunia ke 2? Apa yang salah dengan taktik tersebut?

Berikut kami mencoba untuk menguraikan 5 titik kelemahan dari Blitzkrieg yang dilancarkan Jerman selama Perang Dunia ke 2:

1. Membutuhkan Minyak Yang Banyak

Kendaraan bermotor pada umumnya membutuhkan minyak agar ia dapat bergerak. Namun kendaraan bermotor dengan ukuran tonase yang berat membutuhkan lebih banyak minyak lagi. Legiun-legiun panzer Jerman sangatlah haus akan minyak, dan minyak ini tidak dapat diproduksi di dalam negeri Jerman. Ia membutuhkan impor dari negara-negara lain.

Selama masa damai, Jerman melakukan impor besar-besaran minyak. Ia bahkan mengimpor dari negara yang merupakan rival dan nantinya musuh terbesarnya, Uni Soviet. Namun ketika perang pecah, secara otomatis sumber utama minyak Jerman terputus. Ia harus mengandalkan cadangan minyak yang telah ia tumpuk selama beberapa tahun, hasil refineri batu-bara, atau rampasan perang dari negara yang berhasil ia taklukan. Namun pada akhirnya, cadangan minyak Jerman tidaklah cukup untuk menghadapi perang yang berkelanjutan seperti di Russia.

Dalam Battle of Bulge tahun 1944, kekurangan minyak amat terasa bagi divisi-divisi Jerman. Saking kritisnya, bahkan salah satu objektif dari operasi serangan itu adalah merampas kilang-kilang minyak sekutu di Belgia. Sayangnya, tujuan dari operasi itu gagal, dan beberapa kendaraan tempur Jerman bahkan harus ditinggal begitu saja di jalanan. Utuh, tanpa ada kerusakan suatu apapun.

2. Divisi Bermotor Hanya Sebagian Kecil Dari Pasukan Jerman

Blitzkrieg membutuhkan koordinasi antara divisi-divisi yang ada di dalam tubuh angkatan bersenjata. Baik itu darat, udara, dan mungkin juga laut. Di dalam angkatan darat, sebagian besar tentara Jerman masih terdiri dari infantri. Dibandingkan dengan Divisi Panzer dan Divisi Bermotor lainnya, Divisi Infantri mempunyai mobilitas yang sangat terbatas. Dan keterbatasan ini sangatlah terasa di babakan operasi Barbarossa.

Infantri yang masih mempunyai keterbatasan dalam mobilitas itu jauh tertinggal dari kawan-kawannya di divisi bermotor. Akibatnya, sayap kanan maupun kiri dari sebuah ofensif sangatlah rawan untuk ditembus. Pada petempuran Moskva, Soviet rupanya tahu akan kelemahan Jerman ini. Mereka dengan cepat mengalokasikan pasukan cadangannya dari Siberia untuk menjebol pertahanan Jerman.

Divisi bermotor memang membutuhkan lebih banyak alokasi sumber daya dibandingkan divisi infantri biasa. Dari segi pembuatan peralatan, supplay yang harus dipenuhi, spare part, minyak, dan juga pelatihan semuanya menguras tenaga Jerman. Barangkali, tidak mungkin juga membuat seluruh divisi-divisi angkatan darat Jerman menjadi mekanis. Bahkan membuat setengah dari total divisi menjadi mekanis saja tidaklah mungkin. Perbedaan mencolok itulah yang nantinya akan menghambat operasi di medan pertempuran luas seperti Russia.

3. Salah Perhitungan Kekuatan Musuh

Di awal-awal perang, Jerman boleh berbangga dengan doktrin mobilitas pasukan mereka. Negara-negara seperti Polandia dan Perancis memang belum terlalu mengandalkan pasukan mekanik mereka. Perancis misalnya, malah menghabiskan uangnya untuk pertahanan statis di perbatasan Jerman. Benteng Marginot Line yang terdiri dari bunker-bunker dan terowongan bawah tanah itu nantinya terbukti tak berguna.

Berbeda dengan Perancis, Uni Soviet melihat potensi pasukan mekanik dalam waktu yang cukup lama. Pada tahap awal Operasi Barbarossa, negara Sosialis itu bahkan mempunyai lebih dari 10,000 tank berbagai jenis. Jumlah tersebut tiga kali lebih banyak dibandingkan dengan yang dimiliki oleh Jerman. Beberapa jenis tank Soviet seperti KV-1 dan KV-2 mempunyai kualitas jauh lebih superior daripada tank-tank Jerman. Produksi tank Soviet juga tidak sedikit, mereka mampu menghasilkan kurang lebih 500 tank dalam sebulan. Jelas dari sini, Jerman tidak mempunyai keunggulan signifikan.

Satu-satunya keunggulan Jerman dibandingkan Soviet hanyalah tingkat pengalaman dan training dari para perwiranya. Soviet juga menderita banyak kerugian dari great officer purge yang dijalankan oleh Stalin beberapa waktu sebelumnya. Ribuan perwira tentara merah yang dirasa tidak loyal, atau dicurigai berseberangan dengan pemerintah ditangkap dan dijebloskan dalam gulag. Tenaga-tenaga profesional seperti inilah yang sangat sulit untuk digantikan dalam waktu dekat.

4. Taktik Yang Tidak Sinkron

Masih berhubungan dengan Operasi Barbarossa, Angkatan Bersenjata Jerman bersama dengan Hitler tidak mampu memutuskan fokus dari operasi militer mereka. Dari awal saja, fokus serangan sudah terbagi menjadi tiga. Utara dengan tujuan Leningrad, tengah dengan tujuan Moskow, dan selatan dengan tujuan Ukraina. Terbaginya tiga titik fokus ini berarti terbaginya konsentrasi pasukan Jerman di front yang berakibat juga terbaginya daya serang pasukan Jerman.

Dibandingkan dengan Operasi Barbarossa, operasi Fall Gelb misalnya mempunyai fokus yang lebih jelas. Di dalam operasi invasi ke Perancis itu, pasukan Jerman memang terbagi menjadi dua. Namun fokus dari kedua tentara itu tetap satu, mengurung tentara Inggris dan Perancis di sekitar wilayah Calais atau akhirnya di Dunkrik. Operasi Polandia juga mempunyai tujuan yang jelas, dimana lokasi musuh yang akan diserang, dan mana konsentrasi pasukan yang akan diabaikan.

5. Kode Rahasia Jerman Jebol

Salah satu kunci penting dalam serang gerak cepat Blitzkrieg adalah elemen kejutnya. Dengan menggunakan kode-kode rahasia, Jerman mampu merahasiakan titik-titik utama serangannya di awal perang. Namun semenjak tanggal 9 Juli 1941, kode rahasia Jerman yang disebut Enigma ternyata bocor. Dan lebih parahnya lagi, Jerman tidak tahu akan hal ini.

Tanpa elemen kejut, pusat konsentrasi pasukan mekanis Jerman tidak banyak mempunyai keuntungan. Kita ambil contoh dalam pertempuran Kursk, dimana Soviet sudah mengetahui jika Jerman akan menyerang wilayah itu. Mereka dengan sistematis membombardir pusat-pusat konsentrasi pasukan dan logistik di sekitar Kursk. Pertahanan yang kokoh-pun dibangun dalam skala yang luar biasa besar.

Ketika Jerman mulai menyerang pertahanan di Kursk, seharusnya mereka sadar jika tidak mungkin Soviet dapat membuat pertahanan sedetil dan sekokoh itu tanpa bocornya rahasia rencara serangan. Namun apa boleh kata, hingga akhir perang toh Jerman tidak berusaha mengganti kode rahasia militernya. Sebuah blunder yang nantinya benar-benar fatal.

 

Leave a Reply