5 Senjata Infantri Legendaris Jerman Selama Perang Dunia 2

Di Perang Dunia ke 2, Jerman terkenal dengan divisi-divisi Panzer dan Bermotornya yang mampu bergerak cepat dalam manuver yang rumit. Namun divisi-divisi Panzer itu hanya ada 30an Divisi saja maksimal dan divisi bermotor mungkin juga tak lebih dari angka itu. Tergantung dari waktu dan kondisi militer di kala itu. Sisanya adalah divisi-divisi infantri biasa.

Kita melihat bahwa divisi-divisi Panzer dan bermotor Jerman mempunyai teknologi mutakhir yang hebat. Dari Tank mereka yang selalu up to date hingga doktrin mereka yang cukup mumpuni. Namun sebenarnya divisi panzer sendiri tidak mampu memenangkan perang secara utuh. Mereka masih tetap membutuhkan support dari infantri. Dan infantri yang baik pasti membutuhkan senjata-senjata yang mumpuni pula di medan pertempuran.

Berikut adalah beberapa senjata infantri Jerman yang paling dikenal seantero perang:

01. Maschinenpistole 40

MP40 atau Maschinenpistole 40 adalah submachine gun yang paling banyak digunakan ole Jerman. Ia diproduksi dengan jumlah lebih dari 1,1 juta pucuk senjata. Cukup untuk mempersenjatai 1 dari 6 orang wehrmacht.

MP40

Barangkali ada yang sedikit kebingungan dengan perbedaan MP 40 dengan Sturmgewrhr 44 atau StG 44. Keduanya merupakan senapan otomatis ringan bukan?

Perbedaan utama dari MP 40 dan StG 44 adalah basis dari kedua senjata itu. MP 40 dibuat dengan basis pistol sehingga ia lebih mirip seperti pistol dengan kemampuan menembak otomatis. Kelemahannya adalah jarak jangkau tembakannya yang sangat terbatas. Karena itulah MP 40 lebih sering digunakan oleh perwira atau anti partisan.  Sedangkan StG 44 mempunyai basis rifle, sehingga daya jangkau tembakannya jauh lebih panjang daripada MP 40.

Semasa perang, MP 40 identik dengan pasukan SS, karena notabene memang SS lah yang paling sering berurusan dengan partisan. MP 40 dirasa cocok untuk senjata anti partisan karena kebanyakan perang melawan resistensi bawah tanah berupa tindakan-tindakan polisi ataupun opressif.

02. Panzerfaust

Semakin menuju ujung Perang Dunia ke 2, Jerman semakin sadar jika produksi tank dan kendaraan lapis bajanya tidak mampu menandingi sekutu. Soviet menghasilkan 500-an tank setiap bulannya, sedangkan Amerika Serikat kurang lebih memproduksi jumlah yang sama. Dengan pemboman intensif yang dilakukan sekutu, Jerman tidak mampu menaikan jumlah produksinya. Sumber bahan baku dan pengirimannya-pun dari wilayah Skandinavia terus disabotase.

Brückenkopf Memel Mit der Panzerfaust gehen Kriegsfreiwillige der Panzergrenadier-Division "Großdeutschland" zum Gegenstoß vor, um eine von den Sowjets besetzte Ortschaft im Brückenkopf Memel zurückzuerobern. Foto: Kriegsberichter Otto, 30.10.44 [Herausgabedatum] Transocean-Europapress

Oleh karena alasan-alasan diatas, Jerman membutuhkan senjata yang cukup murah diproduksi namun tetap mempunyai daya gempur yang mumpuni terhadap kendaraan lapis baja. Ia juga harus ringan dan mudah untuk dibawa infantri. Panzerfaust atau tinju baja adalah salah satu senjata yang memenuhi syarat tersebut.

Panzerfaust memiliki bentuk mirip RPG modern atau beberapa varian bazooka versi anti-tank. Fungsinya, terutama di front timur adalah menghancurkan sebanyak-banyak tank Russia dengan hanya perlu membutuhkan tenaga infantri yang minim. Diharapkan dengan senjata ini, infantri Jerman bahkan volksstrum mampu mengatasi serbuan pasukan sekutu dengan tank-tank. Namun sayang, ekspektasi itu tidak memenuhi harapan. Salah satunya adalah kurangnya pelatihan terhadap pasukan Jerman di akhir perang. Dan boleh dikata, tentara yang membawa senjata ini tidak mempunyai harapan hidup panjang karena ia harus ditembakan dari jarak yang tidak begitu jauh dari musuh.

03. MG34/MG42

MG34 atau Maschinengewehr 34 adalah senapan mesin otomatis Jerman yang dikembangkan mulai tahun 1929 dengan menggunakan teknologi air-cooled. Pada masanya, senapan mesin ini adalah senapan mesin paling canggih dengan kemampuan menembak 800-900 peluru setiap detiknya. Senapan ini juga mempunyai berat yang cukup ringan untuk senjata sejenisnya, yaitu 12.1 kg.

MG 34 Tripod

Wehrmacht membutuhkan senjata infantri ringan yang cocok dengan doktrin strum-truppen mereka. Infantri yang mampu bergerak cepat, independen, dan mempunyai daya serang dan daya bertahan yang cukup. Karena itulah MG34 dan kemudian varian berikutnya yaitu MG 42 muncul. Senapan mesin ini cukup ringan untuk dibawa oleh satu orang personel, dan satu lagi asisten senapan untuk membawa amunisi. Senapan mesin ini berbeda dengan senapan mesin Jerman era Perang Dunia 1 yang berat dan repot untuk dibawa-bawa. MG 34 dan MG 42 cocok untuk dibawa dalam mobilitas tinggi karena ringan, ia juga anti macet karena mempunyai sistem pendingin air.

Selama babakan awal Perang Dunia 2, doktrin infantri Jerman sebagian besar berpusat pada senapan mesin. Satu senapan mesin dilindungi oleh beberapa infantri yang dipersenjatai senapan rifle, granat, dan peralatan pelindung lainnya. Doktrin strumtuppe atau pasukan serbu kilat ini nyaris tak tergantikan hingga tahun 1944, ketika StG 44 atau Sturmgewhr 44 mulai diperkenalkan. Dengan Stg 44, Jerman mulai berpindah pada doktrin assault infantri modern, seperti sekarang ini.

04. Sturmgewhr 44

Sturmgewhr 44 boleh dibilang adalah senapan otomatis ringan pertama yang paling operasional selama perang dunia ke 2. Ia juga di gadang-gadang menjadi blue print bagi automatic rifle dunia selanjutnya seperti AK 47 dan mungkin juga M-16. Sturmgewhr 44 atau StG 44 diproduksi dalam jumlah 400,000 lebih, namun kedatangannya di kancah pertempuran boleh dibilang sedikit terlambat.

StG 44 Sniper

StG 44 boleh dibilang merevolusi taktik perang Jerman. Jika secara konvensional, Jerman menggunakan taktik satu senapan mesin berat (seperti MG 34 atau MG 42) dilindungi oleh beberapa infantri dengan senapan karabin biasa seperti Mauser 98K. Taktik ini tidak begitu mengalami perubahan semenjak perang dunia pertama. MP 40 pun tidak begitu digunakan dalam pertempuran jarak jauh karena jangkauan tembakannya yang terbatas.

Sementara itu StG 44 mempunyai daya jangkau tembakan yang cukup baik, ia mempunyai jarak efektif sejauh 300m ketika otomatis dan kurang lebih 600 ketika mode semi otomatis. Jarak yang terbilang cukup baik dibandingkan dengan senapan lain seperti Mauser 98K. Dengan adanya StG 44, infantri secara individu mampu mempertahankan posisi dengan jangkauan lebih luas. Sebelumnya satu posisi harus dipertahankan oleh beberapa infantri, dengan satu atau beberapa senapan mesin sebagai inti pertahanannya. Taktik ini dikembangkan selama Perang Parit di Front Barat selama Perang Dunia 1.

05. Mauser 98K

Mauser 98K mungkin bukanlah senjata paling modern di seantero perang dunia ke 2. Dia juga bukanlah senjata paling mematikan yang pernah diproduksi oleh Jerman. Namun, Mauser 98K adalah senjata paling realible dan easy to use yang pernah diproduksi oleh Jerman. Bahkan boleh dikatakan senjata terbaik di kelasnya dibandingkan dengan seantero negara yang bertikai di kala itu.

Mauser 98K Sniper

Dengan jumlah produksinya mencapai 14 juta, Mauser 98K adalah salah satu senapan yang diproduksi masal terbanyak selama Perang Dunia ke 2. Hanya saja, setelah kekalahan Jerman di perang itu, produksi Mauser 98K mengalami masalah semenjak tahun 1945. Dan jumlahnya yang beredar di pasaran sekarang tidak lagi banyak, terutama yang masih fungsional. Mauser memang masih memproduksi beberapa varian untuk berburu atau koleksi. Namun para pemburu senjata masih mencari versi orisinilnya yang dirasa masih mempunyai akurasi dan tingkat realibilitas yang tinggi.

Di akhir perang, Mauser 98K mulai tergantikan oleh senapan semi dan otomatis. Hal tersebut sesuai dengan pergeseran doktrin perang yang mulai mengarah kepada assault infantry. Beberapa pertempuran penting seperti Stalingrad membuktikan bahwa senapan laras panjang seperti Mauser 98K dan teman2 sekelasnya tidaklah efektif untuk pertempuran jarak dekat. Apalagi pertempuran kota atau urban fighting yang justru semakin common di akhir Perang Dunia 2.

Leave a Reply