Apa Yang Salah Dengan Teori Evolusi?

Teori evolusi barangkali adalah teori yang paling banyak diperdebatkan sepanjang sejarah ilmu pengetahuan. Teori itu benar-benar memecah kepercayaan orang menjadi dua kubu. Creationist atau orang ang percaya bahwa makhluk hidup diciptakan seperti apa adanya sekarang dan kubu evolutionist, yang percaya bahwa makhluk hidup itu berkembang karena evolusi.

Evolution Universe

Di sekolah-sekolah Indonesia, Teori Evolusi diajarkan degan sangat hati-hati. Guru memberikan materi tentang evolusi ini dengan cara amat sederhana. Baik itu di dalam biologi maupun di dalam sejarah. Seorang yang pernah mengenyam bangku pendidikan di sini, pasti merasa tidak tuntas tentang teori itu. Ada sesuatu yang mengganjal, ada sesuatu yang salah.

Agama masih memainkan perang penting di Indonesia, baik dari segi moral maupun dari segi keagamaan. Dan nilai itu pula ikut mempengaruhi pendidikan. Di barat, pendidikan dan agama seolah menjadi dua hal yang berbeda, namun di Indonesia, pendidikan dan agama adalah sebuah kesatuan. Jika ada pendidikan yang menyalahi aturan keagamaan atau setidaknya menyinggungnya, maka materi-materi yang ada di dalam pendidikan haruslah diubah. Salah satunya adalah yang terkait dengan dengan Teori Evolusi.

Jadi ya, teori evolusi memang dipandang sebelah mata oleh sebagian besar orang Indonesia. Apalagi jargon utama yang sering di denggung-denggungkan orang “Manusia adalah keturunan dari kera”, menjadi semacam senjata utama bagi penentang teori tersebut untuk terus mempengaruhi pendapat orang lain. Apakah pernyataan itu salah?

Kera jika di definisikan sebagai kera/monyet yang ada di kebun binatang, maka ungkapan diatas adalah salah. Karena kera/monyet yang sering kita lihat di hutan atau kebun binatang kurang lebih berevolusi pada masa yang sama dengan manusia. Namun jika kera kita definisikan sebagai primata, maka kesimpulan lain akan kita dapatkan. Ya, manusia memang berevolusi dari primata homininae sekitar 7 juta tahun yang lalu. Keturunan mereka kemungkinan juga menjadi sipanse dan bonobos.

Kita dan sipanse mempunyai kedekatan DNA sekitar 99%. Namun jangan sakit hati dahulu jika kita dikatakan mirip dengan kera. Karena kita mempunyai DNA yang 50% identik dengan… Coba tebak?

Pisang! Ya pisang, DNA squensing begitu baiknya mendefinisikan kedekatan antara satu spesies dan spesies lain. Bahkan dalam tingkatan ordo, familia, dan lain sebagainya. Ini di satu sisi menyenangkan, karena kita tahu bahwa satu makhluk hidup mempunyai kedekatan aspek dengan yang lain.

Namun DNA juga menyatakan bahwa tidak satu makhluk hidup-pun yang mempunyai urutan identik. Satu manusia dengan manusia yang lain mempunyai perbedaan yang cukup signifikan. Bahkan DNA kita saat lahir dengan saat kita meninggal kemungkinan juga mengalami perubahan. Itu karena DNA terus menyesuaikan diri dengan keadaan lingkungan. Perubahan yang ada di lingkungan tertentu, akan membuat DNA menyesuaikan diri dan beradaptasi. Barangkali karena itulah, hewan-hewan di tempat dingin mempunyai ketebalan bulu tertentu untuk menghangatkan diri dan juga hewan yang hidup di dataran tinggi mempunyai kuku khusus untuk dapat berjalan di tempat-tempat terjal.

Apakah manusia juga berubah? Ya dan pasti, manusia-pun mempunyai perubahan-perubahan minor terkait lingkungan tempat ia tinggal. Namun karena manusia belum berusia cukup panjang untuk menjadi spesies baru, kita belum melihat perkembangan ke arah kesana. Atau mungkin tidak akan pernah kita melihatnya. Perubahan genetik terkadang terjadi dengan kesalahan. Dan obat, gaya hidup, serta otak kita mencoba untuk mencegahnya. Otak khususnya, kita mencoba membuat alat untuk mengatasi seluruh kesulitan yang manusia hadapi. Kita membuat peralatan batu hingga komputer, mencoba mengevolusi gaya hidup kita. Tanpa perlu melakukan evolusi itu sendiri. Entahlah apakah manusia masih dapat berubah ke arah tertentu, namun data menunjukan, dengan berbagai kemudahan yang kita dapat, kita masih tetap terus dapat berubah.

Dan tidak hanya manusia saja yang berubah, seisi alam semestapun berevolusi. Jika kita mengatakan bahwa evolusi itu hanyalah masalah biologis, maka itu salah besar. Evolusi terjadi secara biologis, kimia, dan fisika. Di awal adanya alam semesta, setelah Big Bang terjadi, tidak ada materi. Hanya ada energi yang berfluktuasi sangat hebat. Ketika alam semesta berkembang dari hanya sebuah titik kecil menjadi ukuran yang cukup besar, energi yang berfluktuasi dalam suhu tinggi mulai stabil. Dan mereka membentuk materi-materi pertama. Quark, atom, dan kemudian partikel-partikel.

Atom-atom hidrogen adalah salah satu yang pertama terbentuk. Mereka mempunyai bentuk paling sederhana dibandingkan atom lain, yaitu hanya mempunyai satu elektron. Atom-atom hidrogen perlahan-lahan mulai menyatu dan terikat dalam gravitasi mereka masing-masing. Dan dengan seiring berjalannya waktu dan tekanan gravitasi, atom-atom hidrogen membentuk bintang-bintang pertama.

Bintang-bintang pertama di alam semesta adalah sumber dari hampir semua unsur yang kita kenal di tabel periodik unsur. Dengan fusi di dalam core mereka, oksigen, carbon, besi, bahkan emas terbentuk. Dan ketika bintang-bintang itu kehabisan hidrogen untuk fusi mereka. Bintang tersebut meledak, menyebarkan hasil fusi mereka ke seantero alam semesta.

Beberapa bintang pertama yang beruran kecil akan menghilang selamanya, sementara yang ukurannya cukup besar akan menjadi black hole. Boleh dikata, beberapa black hole di pusat-pusat galaksi adalah hasil dari ledakan bintang pertama tersebut. Dan atau boleh dikata juga, bintang-bintang pertama itulah yang kelak menjadikan galaksi seperti yang kita lihat sekarang mungkin terbentuk.

Hasil ledakan bintang yang menyebar akan memadat kembali, beberapa menjadi bintang generasi kedua, seperti matahari kita. Beberapa memadat dan menjadi planet, seperti bumi ini. Di dalam bumi, unsur-unsur karbon berbaur dengan air dan berbagai unsur lainnya. Carbon sangatlah baik untuk mengikat unsur lainnya sehingga menjadikannya kompleks dan panjang. Hasilnya dapat kita lihat dalam RNA dan DNA seperti yang kita kenal sekarang. RNA dan DNA sederhana itulah yang nantinya membentuk hewan bersel satu, tumbuhan, ikan, reptil, mamalia, bahkan hingga manusia.

Dari fisika ke kimia, dari kimia ke biologi, itulah evolusi alam semesta yang terjadi selama milayaran tahun. Alam semesta berevolusi untuk membentuk kompleksitas. Hal semacam ini amatlah jarang kita tahu dari proses evolusi, evolusi bukanlah melulu proses biologi, tapi hanya ujung dari proses transformasi alam semesta yang panjang. Entah apa yang akan terjadi dengan alam semesta milyaran tahun ke depan. Dan apa arti semua itu bagi manusia.

Leave a Reply