Apakah Kita Hidup Di Simulasi Raksasa?

Beberapa teori pembentukan alam semesta bermunculan dalam beberapa dasawarsa terakhir. Dan salah satu teori yang paling menarik dan banyak diperbincangkan adalah teori Big Bang. Big Bang menyatakan bahwa alam semesta dapat tercipta dari “nothing”. Dari suatu ketiadaan menjadi ada, dari tanpa energi menjadi sebuah energi masive. Teori Big Bang ini secara kasat mata begitu simpel, dan nyaris sangat mudah untuk dipahami (walaupun jika dipelajari lebih dalam, akan banyak sekali aspek yang harus diperhatikan).

anindita-saktiaji-cosmic-epochs

Perkembangan Alam Semesta Dari Big Bang Hingga Masa Kini

Namun, semakin ke depan, semakin banyak keganjilan yang ditemukan di alam semesta ini. Salah satu yang paliang mencolok adalah, perbedaan besar antara dunia makro dan mikro fisika (fisika quantum). Dunia makro (yang bisa kita amati dari mulai pergerakan bintang hingga atom) pasti mempunyai hukum fisika yang tetap dan konstan. Misalkan, jika kita menguji Jarak = Kecepatan * Waktu, maka di manapun kita akan menguji, kalkulasi tersebut akan menghasilkan hasil yang sama dan tepat. Namun di dunia mikro fisika, semua hukum yang kita kenal sama sekali tidak berguna.

anindita-saktiaji-simulasi-bholsoi-nasa

 Bolshoi – Simulasi Pembentukan Alam Semesta

Salah satu teori terobosan yang dibuat oleh Martin Savage salah seorang peneliti dari Universitas Washington mengusulkan sebuah proposal yang menyatakan bahwa alam semesta yang kita tinggali adalah sebuah simulasi raksasa. Bayangkan saja, ratusan atau puluhan tahun dari masa sekarang, manusia mampu membuat superkomputer yang mampu menjalankan simulasi raksasa tentang alam semesta dari mulai Big Bang hingga pembentukan kehidupan di bumi. Faktanya, simulasi semacam itu sekarang sudah dikembangkan oleh NASA. Proyek yang dinamai Bholsoi (Besar – bhs russia) mencoba untuk mensimulasikan bagaimana proses pembentukan alam semesta dari awal hingga nantinya berakhir.

Hasil simulasi Bholsoi yang dibangun selama 4 tahun itu berhasil dengan sangat mencenggangkan. Tidak hanya bentuk alam semesta, namun komposisi material, dark matter, dan dark energi dapat diprediksikan secara tepat. Memang komposisi kecil seperti planet dan tata surya belum mampu dilakukan pada tahapan ini. Namun, Bolshoi merupakan terobosan yang sangat besar bagi manusia. Bayangkan saja, dalam beberapa puluh atau ratus tahun mendatang, manusia mampu membuat sebuah simulasi alam semesta lengkap, dari mulai galaksi hingga hewan bersel satu yang hidup di dalamnya.

Jika anda pernah belajar mengenai pemrograman, anda mungkin menemukan apa yang disebut class dan object. Beberapa hal di atas adalah konsep dasar Object Oriented Programming. Intinya adalah, untuk membuat sebuah benda, tidak diperlukan bahan-bahan dari nol untuk membuat benda kedua yang sama persis. Ia cukup menggambil beberapa variabel yang sudah tertanam di program pertama.

Untuk class sebuah partikel, maka kita akan menemukan:

public class MicroParticle {
var_01 : string
var_02 : int
var_03 : varchar
}

Dan untuk sebuah obyek partikel maka kita akan menemukan:

MicroParticle objectMicroParticle = new MicroParticle ();

Obyek mikro partikel yang diamati oleh ilmuwan kemungkinan bukanlah sebuah obyek. Dia adalah sebuah class yang dapat dipanggil oleh obyek-obyek lain sehingga sebuah partikel dapat terlihat nyata. Misalkan saja aku butuh sebuah code untuk membuat halaman web A. Untuk membuat halaman web B, aku tidak perlu untuk membuatnya dari nol, namun cukup memanggil beberapa code yang sudah dibentuk untuk membuat halaman A. Dan code tersebut dikemas dalam sebuah tempat khusus sehingga mudah untuk dipanggil sewaktu-waktu.

Konsep alam semesta yang seperti ini memang sulit untuk dipercaya. Namun, kemungkinan (sekali lagi kemungkinan) untuk itu tetaplah ada. Konsep simulasi raksasa ini dapat dengan mudah menjelaskan mengapa dunia makro dan mikro fisika benar-benar berbeda. Dunia makro adalah obyek yang dibangun dari variabel-variabel dunia mikro atau yang kita sebut sebagai fisika quantum. Sedangkan dunia quantum fisika itu sendiri hanya merupakan sebuah kumpulan variabel. Oleh sebab itulah, tidak heran jika sebuah sub atomic particle dapat berada pada beberapa ruang dan waktu sekaligus.

Apa dampak jika kita memang benar-benar hidup di dalam sebuah simulasi raksasa. Beberapa ilmuwan mengatakan bahwa dampaknya nyaris tidak ada. Mengapa? Karena apapun kehidupan kita, kenyataan yang kita hadapi tetaplah sama. Kita harus makan, minum, bekerja untuk mendapatkan uang dan beristirahat. Tidak ada perbedaan sama sekali antara pengetahuan yang kita miliki dengan apa yang akan kita jalani.

Namun, barangkali kita di masa depan benar-benar mampu menciptakan sebuah simulasi alam semesta yang benar-benar komplit. Kalkulasi super rumit dengan menggunakan super komputer yang bahkan belum akan dirancang dalam beberapa tahun mendatang akan sangat dibutuhkan untuk tahap ini. Apakah manusia mungkin melakukannya. Jawabannya adalah Ya. Namun apa tujuan kita membuat simulasi semacam itu?

 

Leave a Reply