Knowledge vs Wisdom

Apa yang kita tahu adalah apa yang telah menjadi pengalaman, pelajari, dan hayati. Namun terkadang, kita tidak perlu mengetahui sesuatu untuk mendapatkan jawaban akan sebuah pertanyaan. Masing-masing menusia mempunyai dua sisi pemikiran, satu yang dilatarbelakangi oleh knowledge atau pengetahuan dan satu lagi yang di latarbelakangi oleh wisdom. Keduanya secara otomatis tertanam pada diri kita, sejalan dengan perjalanan hidup yang terus bertambah.

Anindita Saktiaji - Knowledge Wisdom

Kita tidak tahu, kapan kita akan membutuhkan knowledge maupun wisdom. Keduanya akan bekerja secara simultan untukmemecahkan segala kesulitan yang menghadang di depan mata. Terkadang, tanpa sadar kita telah menggunakan keduanya, namun terkadang pula, dengan sengaja kita meninggalkannya. Contohnya ketika anda mengacuhkan penderitaan orang lain, apakah anda ketika itu sedang menggunakan pengetahuan (knwoledge) maupun wisdom (kebijaksanaan) anda?

Ada sebuah quotes yang menyatakan bahwa “knowledge speaks but wisdom listens” oleh Jimi Hendrix, seorang musisi. Quotes cukup menarik untuk diperhatikan, karena ia mendefinisikan dengan jelas apa yang dimaksud dengan knowledge dan apa yang dimaksud dengan wisdom. Orang yang mempunyai pengetahuan yang baik, maka ia akan dengan mudah mengutarakan pengetahuannya tersebut (walaupun terkadang orang lain sulit untuk mengertinya). Namun jika seseorang mempunyai wisdom yang baik, maka ia akan lebih mampu untuk mendengarkan apa yang orang lain katakan kepadanya.

Continue reading →

Para Kaum Agnostic?

Alam adalah tempat kita lahir dan tumbuh, sebuah tempat yang begitu memukau sekaligus penuh dengan misteri. Sampai saat ini, kita belum jelas mengetahui apa itu sebenarnya alam semesta. Menurut Newton, alam semesta adalah sebuah ruangan statis, ada sebagaiamana ada sekarang ketika ia diciptakan. Sementara Einstein berpendapat bahwa alam semesta adalah sebuah ruang dan waktu yang merupakan satu kesatuan. Sedangkan, ilmuwan sekarang mengganggap bahwa alam semesta itu seperti sebuah getaran senar atau membran yang melintang diantara dimensi, suatu teori yang nantinya disebut sebagai “String Theory.”

Agnostic

Dalam agama, seseorang cenderung melihat bahwa alam semesta adalah bentukan dari Tuhan, titik dan itu final. Orang yang percaya terhadap doktrin seperti ini cenderung untuk tidak mempercayai bahwa bisa saja alam semesta ini tumbuh dan berkembang sesuai dengan waktu. Namun, ada kalanya juga, seorang religius seperti Georges Lemaître justru mengajukan sebuah proposal yang nantinya berkembang menjadi teori Big Bang. Sebuah teori yang justru bagi banyak orang membuktikan bahwa keberadaan alam semesta tidak membutuhkan campur tangan Tuhan untuk terbentuk.

Baik menjadi seorang atheis maupun religius bukanlah sebuah tolak ukur yang mampu mendefinisikan apakah seseorang akan dapat mencari arah kebenaran dari fenomena alam semesta ataupun tidak. Justru sekarang banyak dari ilmuwan yang menyatakan dirinya bukanlah seorang atheist. Padahal dahulu, atheisme sangat diidentikan dengan kematangan seseorang dalam berpikir rasonal. Sekarang, para ilmuwan itu lebih memilih untuk menyebut diri mereka sebagai seoarang agnostic. Yang berarti seseorang itu tidak mempercayai namun juga tidak menolak kepercayaan terhadap Tuhan.

Kaum Agnostic percaya kepada data, dan selama data hingga sejauh ini tidak membuktikan keberadaan Tuhan, maka mereka akan tetap berpendapat sesuai data yang mereka miliki. Namun, jika suatu saat mereka menemukan sebuah data yang mampu menunjukan keberadaan Tuhan, entah dalam bentuk fisik maupun matematis teori, maka mereka akan siap mempercayai bahwa Tuhan itu ada.

Continue reading →

Skala Manusia vs Alam

Kita pasti sering berfikir bahwa kehidupan kita adalah segala-galanya. Apa yang kita dapatkan dari kelahiran hingga kematian adalah sebuah konsekuensi logis kehadiran kita di alam semesta ini. Aku juga seringkali berfikiran seperti itu. Mengganggap bahwa dunia ini adalah sebuah medan pertempuran yang harus dimenangkan, bukan sebuah jalan panjang yang ujungnya bahkan tidak pernah kita ketahui.

A man gazes at the Milky Way outside his house

Jika kita melihat alam sekitar kita, bumi, matahari, planet-planet, galaksi, kita menyadari bahwa kita hanyalah bagian sangat kecil dari apa yang kita sebut sebagai alam semesta. Bahkan, bintang terdekatpun dari kita tidak akan pernah dapat kita kunjungi dengan teknologi yang ada pada kita sekarang ini. Dengan kecepatan cahaya, berharap saja kita bisa mendapatkannya, kita akan sampai pada proxima centuri pada rentang waktu 4 tahun. Namun, sesuai dengan perhitungan Einstein, kita tidak akan pernah mampu mencapai kecepatan cahaya. Karena kita adalah materi, dan materi tidak akan pernah mampu menembus batas kecepatan cahaya.

Usia alam semesta yang kita tempati nyaris 13.4 milyar tahun. Sebuah angka yang sangat-sangat tua dibandingkan usia umat manusia yang rata-rata tidak lebih dari 80 tahun. Dalam usia tersebut, barangkali beberapa orang diantara kita akan memperoleh kegemilangan yang menyilaukan, sedangkan yang lainnya akan hidup dalam sebuah arus kehidupan yang sama. Sebenarnya, apa yang menjadi prioritas kita ketika hidup? Apakah menjadi manusia yang baik? Menjadi manusia yang berbakti? Menjadi seorang religius? Atau menjadi seorang oportunis?

Ketika alam semesta lahir, ia tidak mempunyai apapun. Ia tidak mempunyai cahaya, ia tidak mempunyai bintang, ia tidak mempunyai planet, apalagi sebuah galaksi. Ia hanyalah sebuah tempat mungil, tidak lebih dari sebesar biji beras, sangat padat, penuh potensi, panas dan sangat terasing. Tidak ada apa-apa di dalamnya, namun dari sebuah ketiadaan, keberadaan bisa terbentuk. Lalu munculah materi dan antimateri yang bertempur layaknya prajurit yang berperang di Thermophilia. Setelah itulah muncul materi-materi dasar yang ada di tabel periodik unsur, muncul juga bintang-bintang pertama dan kemudian setelah kematian bintang-bintang itu, munculah generasi bintang-bintang kedua atau ketiga seperti matahari yang menjadi pusat tata surya kita.

Continue reading →

Sebuah Pertempuran Tanpa Kekerasan

Sejarah manusia dipenuhi dengan kegetiran dan kegemilangan pertempuran demi pertempuran. Berbagai alasan digunakan untuk melegalkan sebuah konflik yang seringnya berujung kepada kengerian daripada sebuah pencerahan. Alasan mulai dari perluasan kekuasaan, kebebasan, agama, hegemoni, rasial, dan masih banyak alasan yang mungkin bahkan jauh lebih tidak masuk akal lagi. Setiap alasan terkadang justru membawa kepada alasan-alasan lain bagi bangsa, kelompok, suku ataupun individu penguasa untuk menyatakan perang sebagai bentuk kebenciannya kepada pihak lainnya. Sekilas kita mengganggap bahwa sikap semacam itu adalah sebuah cerminan dari watak manusia sehingga kita mengganggapnya sebagai sebuah kewajaran.

MIDEAST ISRAEL PALESTINIAN POPE

Lima puluh juta orang tewas akibat Perang Dunia ke 2 yang berlangsung kurang lebih selama lima tahun dari akhir 1939 sampai pertengahan 1945. Konflik itu merupakan konflik terbesar yang pernah dihadapi umat manusia selama sejarahnya ada di muka bumi ini. Konflik yang menggakibatkan kita merenung dan berfikir ulang untuk melangsungkan bentuk sejenis di masa-masa mendatang. Perang Dunia ke 2 sepatutnya menjadi tolak ukur kita sebagai pembanding bahwa kemajuan manusia di bidang ilmu pengetahuan akan sebanding dengan jumlah korban di dalam pertempuran. Dan sekarang kita telah berada di dalam fase kritis.

Kita patut bersyukur karena perang dingin, meskipun di beberapa tempat terjadi pertumpahan darah secara signifikan, tidak membuat manusia menggunakan teknologi terbesar (dan barangkali terbodohnya) yaitu senjata nuklir untuk melawan musuhnya. Jika bom yang mempunyai kekuatan puluhan bahkan ribuan kali bom Hiroshima dan Nagasaki benar-benar di detonasikan. Entah seperti apa kehidupun kita di masa sekarang ini. Barangkali kita hidup di masa thermal minus yang mungkin serupa dengan jaman es ribuan tahun yang lalu. Atau barangkali kota-kota kita tinggal reruntuhan saja dan kita terpaksa hidup di dalam gang-gangnya dengan getir.

Dalam dasawarsa terakhir, kita mendengar jenis-jenis pertumpahan darah yang lama sekali tidak terdengar semenjak Perang Salib. Konflik berdarah yang terjadi dalam skala tidak terlalu masif namun terpencar dan justru sangat meneror terjadi dari Amerika, Timur Tengah, bahkan Asia Tenggara. Jenis konflik yang mengatasnamakan agama ini semakin meruncing dengan keluarnya luka lama yang sengaja dibesar-besarkan sehingga menjadi sebuah angin segar baru bagi para ekstrimis.

Perjuangan memang seringkali membutuhkan kekerasan karena dengan kekerasan maka mudah sekali menentukan definisi dari siapa yang menang dan siapa yang kalah. Yang kalah adalah pihak yang dengan terpaksa tidak mampu lagi meneruskan perlawanan fisiknya sementara yang menang adalah pihak yang masih mampu menggangkat senjata dan mendiktekan syarat kemenangannya kepada pihak lawannya. Sebuah solusi purba yang barangkali telah ada semenjak peradaban manusia pertama kali muncul di dunia ini. Namun, solusi-solusi pertumpahan darah dan kekerasan itu dewasa ini sepertinya tidak lagi koheren. Ada istilah, “war is not defines who is right, just who is left.” – Perang tidak lagi menentukan siapa yang benar, namun siapa yang tersisa.

Continue reading →

Ketika Teknologi dan Manusia Tidak Ada Lagi Pembatas

Manusia menciptakan teknologi untuk mempermudah kehidupannya. Kita menciptakan kapak untuk mempermudah berburu binantang, membela diri dan memotongi pohon (untuk dijadikan hunian, senjata, maupun bahan bakar). Kita menemukan api dan menyebarkannya untuk dari sekedar mempermudah penglihatan kita di malam hari hingga membantu kita dalam memasak makanan secara lebih baik dan lebih sehat. Kita menciptakan masyarakat, adat, dan (hingga dalam batasan tertentu) agama untuk mendefinisikan tingkah laku yang benar atau buruk. Seluruh ciptaan manusia selama ini mempunyai ciri yang sama, kita lahir tanpanya dan kemudian mati juga tanpanya. Namun, baru-baru ini ada sebuah diskusi menarik yang menyatakan bahwa, bagaimana jika kita bisa mati dengan membawa teknologi?

anindita-saktiaji-human-technology

Tentu saja, mati membawa teknologi itu bukan berarti kita membawa laptop kita ke alam baka, dimana kita bisa bermain game online di sana atau chatting dengan teman dan sahabat kita yang (barangkali) masih hidup. Mati membawa teknologi lebih diartikan dengan mentransfer kehidupan kita ke dalam bentuk digital. Dimana setiap momen, ingatan, rasa, keputusan, pemikiran, dan anggapan akan diubah ke dalam bentuk data. Singkat kata, kita merubah fisik tubuh menjadi sebuah objek biner yang dapat ditransfer, disebarluaskan, diperbanyak, dan juga disimpan untuk kebutuhan di masa mendatang.

Selama ribuan tahun, manusia meninggalkan jejak pemikirannya dengan tulisan yang ia buat di batu, bambu, ataupun kertas. Beberapa dasawarsa ini, orang barangkali dapat pula meninggalkan jejaknya pemikirannya dalam bentuk digital. Lewat tulisan-tulisan yang ia post di mikro blog, blog, jurnal, group, mailing list maupun website. Keseluruhan ide diatas meskipun medianya berbeda, namun tetap mempunyai ciri yang sama. Orang yang telah meninggalkan tulisan itu sudah tidak ada lagi di dunia ini. Lalu bagaimana jika kita bisa menemukan cara untuk membuat pemikiran manusia itu ada selama-lamanya.

Continue reading →