Asian Military Modernisation Continues 2013 – 2014

From: Military Balance IISS

Most Asian states have been expanding their military budgets and attempting to improve their armed forces’ capabilities in recent years. This is largely a result of increasing uncertainty about the future distribution of power in the region and widespread suspicions, in some cases increasing tension, among regional armed forces. While these efforts are intended to deter potential adversaries, there is substantial evidence of action-reaction dynamics taking hold and influencing regional states’ military programmes.

Anindita Saktiaji - Military Asia

Analysts were waiting at the end of 2012 to see what effect China’s once-in-a-decade leadership change might have on the wider Asian region. New capabilities displayed in 2012 provided further evidence of China’s efforts to expand the capabilities of its People’s Liberation Army (PLA). The United States’ ‘rebalance’ to the Asia-Pacific and associated Air–Sea Battle concept were both widely seen as responses to Beijing’s growing power and assertiveness in the region.

Concerns about Beijing’s growing assertiveness were also reflected in rising tensions over maritime disputes in the East and South China Seas. China’s maritime agencies have continued to send paramilitary vessels to promote and defend its extensive but ill-defined claims in the South China Sea. Meanwhile, China finally commissioned its first aircraft carrier, the Liaoning, in September 2012. Some Chinese commentators emphasised the significance of the Liaoning’s commissioning in relation to the maritime disputes around China’s littoral, and the Liaoning’s commissioning certainly affected other regional states’ assessments of Chinese power.

North Korea continued efforts to develop its nuclear-weapons capability and its closely related long-range missile arsenal. Japan has made significant, if incremental, capability improvements in the face of North Korea’s nuclear and missile programmes and the escalation of maritime disputes. Many factors, not least the deterrent effect of the US–Japan alliance, militated against the likelihood of open conflict, but the continuing deterioration of Japan’s regional strategic environment provided impetus for efforts to implement the ‘dynamic defence force’ idea.

India’s defence policy retained a substantial focus on deterring Pakistan, primarily through the larger country’s nuclear-weapons capability, but its defence planners increasingly view China as a potential strategic challenge and New Delhi has continued to invest in developing its military capabilities.

Southeast Asian states party to the dispute in the Spratly Islands have focused on using diplomacy, particularly through the Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) and related institutions, to constrain Chinese adventurism. Nevertheless, continuing tensions in the South China Sea have unnerved several Southeast Asian governments, contributing to a greater or lesser degree to their attempts to improve their military capabilities.

In the Philippines, a funding shortage continued to stymie armed-forces modernisation. The 2013 military modernisation budget, approved in September 2012, only provided one-third of the US$120 million which the armed forces required annually for the latest five-year modernisation programme. In April 2012, Manila requested military assistance from the United States in the form of second-hand F-16 combat aircraft, naval vessels and radar systems. However, by the following month, the potential cost of operating F-16s had apparently led to this idea’s abandonment; new plans for reviving the air force’s combat-fighter capability involved acquiring 12 TA-50 advanced trainers from South Korea. In May 2012, the US transferred a second former Hamiltonclass Coast Guard cutter to the Philippine Navy. The first ship of the class to be transferred, commissioned in March 2011, was involved in a stand-offin April 2012 with Chinese maritime surveillance paramilitary vessels offthe disputed Scarborough Shoal in the South China Sea. Navy plans call for the frigates to be fitted with new weapons, including Harpoonanti-ship missiles.

Continue reading →

Konflik Gaza Adalah Perseteruan Agama?

Juli 2014, serangan demi serangan roket saling meluncur baik dari Gaza maupun Israel. Korban berjatuhan, kebanyakan adalah penduduk sipil Gaza yang sama sekali tidak mempunyai perlindungan. Israel sendiri telah dari awal tahun 2000an membangun sebuah sistem yang mereka sebut sebagai Iron Dome. Sistem perlindungan yang mampu mencegah serangan-serangan udara dari mulai artileri, pesawat, hingga roket. Sebuah sistem yang barangkali adalah sistem pertahanan udara nomor wahid di dunia. Nyaris 95% serangan yang dilancarkan Hamas mampu ditangkal dengan sistem ini.

Anindita Saktiaji - Gaza Protest

Perang tidak hanya terjadi di Gaza sana, namun di seluruh dunia. Di dunia maya, banyak sekali bermunculan ide-ide, pemikiran dan pendapat tentang pro dan kontranya mereka terhadap perang ini. Salah satu yang paling sering diperdebatkan adalah, apakah perang di Gaza kali ini adalah sebuah konflik agama? Apakah konflik kali ini adalah sebuah konflik Yahudi vs Islam?

Sebenarnya kembali lagi bagaimana kita memandang sebuah masalah. Apakah Yahudi itu kita pandang sebagai sebuah negara, agama, masyarakat, kesatuan politik, atau kombinasi diantaranya? Kebanyakan orang berpikiran bahwa Yahudi Agama, Yahudi Negara, Yahudi Masyarakat adalah sebuah kesatuan yang tidak terpisahkan. Seperti halnya Arab dengan Islam, atau India dengan Hindu. Hanya saja, terkadang kasusnya tidak seperti itu.

Yahudi, seperti halnya Islam mempunyai banyak sekali cabang dan sekte. Kita mempunyai Sunni dan Syiah, di Yahudipun banyak sekali sekte, salah satunya bahkan yang kita kenal sebagai Kristiani. Sebuah cabang Yahudi yang percaya kepada Isa Almasih. Dan beberapa sekte Yahudi seperti Naturei Karta dengan tegas menolak aksi pengeboman yang dilakukan Israel pada saat ini. Mereka turun ke jalan dengan slogan yang simpel tapi begitu mudah untuk diingat, “Judaism is not Zionism.”

Continue reading →

Awal Perang Dunia 2 For Dummies

Perang Dunia ke 2 adalah salah satu babakan yang menarik dalam sejarah manusia. Subuah perang dimana kekuatan manusia masih mempunyai andil yang sama besarnya dengan kekuatan mesin. Di lain sisi, Perang Dunia ke 2 mempunyai keunikan tersendiri, karena perang tersebut adalah perang yang benar-benar mempertemukan 3 ideologi besar dunia. Fasisme, Komunisme, dan Sosialisme saling berbenturan satu sama lain, walaupun memang terkadang satu ideologi dengan ideologi yang lain saling bahu-membahu untuk menghancurkan yang lain.

Anindita Saktiaji - World War 2

Perang Dunia ke 2 mempunyai banyak sekali sebab sehingga harus terjadi. Namun, kejadian yang paling memicu terjadinya Perang Dunia ke 2 adalah, Perang Dunia sebelumnya. Weltkrieg atau Great War atau Perang Dunia ke 1 adalah sebuah konflik paling masif yang pernah dilihat oleh umat manusia hingga saat itu. Perang tersebut menghasilkan segelintir perjanjian dan konsensus yang sering disebut dengan perjanjian Versailes.

Perjanjian Versailes ini memaksa Jerman untuk merelakan sejumlah wilayahnya untuk dicaplok oleh negara lain. Sebagian wilayahnya di Prussia Timur dilebur ke dalam Polandia, kota Memel dilebur ke dalam negara Baltik ,dan daerah Rheinland diduduki oleh Perancis. Namun dua negara lain yang aktif di dalam perang juga mendapatkan kekecewaan karena mereka tidak mendapat jatah kemajuan apapun setelah perang. Dua negara itu antara lain Italia dan Jepang.

Awal dimulainya Perang Dunia ke 2 masih menjadi perdebatan panjang. Yang di sepakati oleh dunia sekarang ini adalah penyerangan Jerman atas Danzig pada 1 September 1939. Namun banyak yang mengganggap bahwa serangan itu hanyalah puncak dari konflik yang telah sekian lama timbul dan tenggelam. Aneksasi Jerman atas Austria pada 1938, Aneksasi Italia atas Albania pada 1939, Penyerangan Jepang ke China pada 1937 adalah beberapa kandidat yang pantas diperhitungkan untuk dimulainya konflik.

Yang jelas, setelah penyerangan Jerman atas Danzig, Inggris dan Perancis mendeklarasikan perang terhadap Jerman. Dan deklarasi perang tersebut membuat perang, hitam diatas putih, telah terjadi. Seluruh negara-negara besar di eropa berlomba-lomba untuk meningkatkan kapasitas produksinya. Di beberapa negara, kapasitas produksi bahkan meningkat lebih dari 100% dibandingkan dengan masa damai.

Jerman memang menjadi tokoh sentral dalang perang Eropa di tahun 1939 itu, namun negara yang menyerang Polandia bukanlah dia semata. Negara Soviet yang dipimpin oleh Stalin, melalui pakta Molotov-Ribbentrop pada 23 Agustus 1939, ikut-ikutan menyerang Polandia. Berdasarkan pakta itu, Polandia dibagi menjadi dua kekuasaan, di sebelah barat diduduki oleh Jerman sedangkan di timur dilebur di dalam kekuasaan USSR. Pembagian kekuasaan ini nantinya akan mirip sekali dengan keadaan Eropa sebelum terjadinya Perang Dunia I.

Continue reading →

Sang Presiden

Sebentar lagi, Indonesia akan kembali memilih pemimpin baru. Beberapa nama kandidat sudah bertebaran dan prediksi sudah dijalankan. Pemimpin yang baru ini nantinya akan mengarahkan dua ratus juta lebih manusia Indonesia yang multi kultur, multi agama, multi keyakinan, dan multi pandangan. Barangkali, tidak ada negara manapun di dunia ini yang mempunyai tingkat kompleksitas sosial sebesar dan sedalam negera kita. Menyatukan masyarakat yang kompleks tersebut adalah tugas yang begitu sulit. Tugas yang belum pernah sepenuhnya berhasil dilaksanakan oleh Presiden-Presiden Indonesia sebelumnya. Meskipun mereka adalah Sukarno maupun Suharto.

Anindita Saktiaji - Presiden Indonesia

Menjadi Presiden di negara seperti tempat kita tinggal tidak hanya membutuhkan kecerdasan lebih saja. Tidak juga seseorang yang mempunyai kemauan yang kuat ataupun kerja keras yang maksimal. Tidak juga dengan kombinasi ketiga-tiganya.

Masyarakat negara kita membutuhkan pemimpin yang tidak hanya cerdas, mempunyai kemauan dan pekerja keras, namun juga pemimpin yang dapat menjadi sosok ‘Bapak’. Indonesia adalah bangsa yang relatif baru terbentuk setelah negara ini merdeka. Sebelumnya, kita tidak pernah sadar bahwa kita bisa menyatukan kekuatan kita, kecuali segelintir kelompok-kelompok pergerakan nasional yang di kemudian hari menjadi bibit bagi pendirian bangsa.

Sosok seorang pemimpin yang berwatak kebapakan, orang yang mampu memberikan contoh, bukan orang yang mampu memerintah saja adalah sosok yang begitu ideal bagi bangsa Indonesia ini. Mengapa? Karena kebanyakan dari bangsa ini masih belum tahu arah dan tujuan bersama sebagai sebuah bangsa.

Continue reading →

Sebuah Pertempuran Tanpa Kekerasan

Sejarah manusia dipenuhi dengan kegetiran dan kegemilangan pertempuran demi pertempuran. Berbagai alasan digunakan untuk melegalkan sebuah konflik yang seringnya berujung kepada kengerian daripada sebuah pencerahan. Alasan mulai dari perluasan kekuasaan, kebebasan, agama, hegemoni, rasial, dan masih banyak alasan yang mungkin bahkan jauh lebih tidak masuk akal lagi. Setiap alasan terkadang justru membawa kepada alasan-alasan lain bagi bangsa, kelompok, suku ataupun individu penguasa untuk menyatakan perang sebagai bentuk kebenciannya kepada pihak lainnya. Sekilas kita mengganggap bahwa sikap semacam itu adalah sebuah cerminan dari watak manusia sehingga kita mengganggapnya sebagai sebuah kewajaran.

MIDEAST ISRAEL PALESTINIAN POPE

Lima puluh juta orang tewas akibat Perang Dunia ke 2 yang berlangsung kurang lebih selama lima tahun dari akhir 1939 sampai pertengahan 1945. Konflik itu merupakan konflik terbesar yang pernah dihadapi umat manusia selama sejarahnya ada di muka bumi ini. Konflik yang menggakibatkan kita merenung dan berfikir ulang untuk melangsungkan bentuk sejenis di masa-masa mendatang. Perang Dunia ke 2 sepatutnya menjadi tolak ukur kita sebagai pembanding bahwa kemajuan manusia di bidang ilmu pengetahuan akan sebanding dengan jumlah korban di dalam pertempuran. Dan sekarang kita telah berada di dalam fase kritis.

Kita patut bersyukur karena perang dingin, meskipun di beberapa tempat terjadi pertumpahan darah secara signifikan, tidak membuat manusia menggunakan teknologi terbesar (dan barangkali terbodohnya) yaitu senjata nuklir untuk melawan musuhnya. Jika bom yang mempunyai kekuatan puluhan bahkan ribuan kali bom Hiroshima dan Nagasaki benar-benar di detonasikan. Entah seperti apa kehidupun kita di masa sekarang ini. Barangkali kita hidup di masa thermal minus yang mungkin serupa dengan jaman es ribuan tahun yang lalu. Atau barangkali kota-kota kita tinggal reruntuhan saja dan kita terpaksa hidup di dalam gang-gangnya dengan getir.

Dalam dasawarsa terakhir, kita mendengar jenis-jenis pertumpahan darah yang lama sekali tidak terdengar semenjak Perang Salib. Konflik berdarah yang terjadi dalam skala tidak terlalu masif namun terpencar dan justru sangat meneror terjadi dari Amerika, Timur Tengah, bahkan Asia Tenggara. Jenis konflik yang mengatasnamakan agama ini semakin meruncing dengan keluarnya luka lama yang sengaja dibesar-besarkan sehingga menjadi sebuah angin segar baru bagi para ekstrimis.

Perjuangan memang seringkali membutuhkan kekerasan karena dengan kekerasan maka mudah sekali menentukan definisi dari siapa yang menang dan siapa yang kalah. Yang kalah adalah pihak yang dengan terpaksa tidak mampu lagi meneruskan perlawanan fisiknya sementara yang menang adalah pihak yang masih mampu menggangkat senjata dan mendiktekan syarat kemenangannya kepada pihak lawannya. Sebuah solusi purba yang barangkali telah ada semenjak peradaban manusia pertama kali muncul di dunia ini. Namun, solusi-solusi pertumpahan darah dan kekerasan itu dewasa ini sepertinya tidak lagi koheren. Ada istilah, “war is not defines who is right, just who is left.” – Perang tidak lagi menentukan siapa yang benar, namun siapa yang tersisa.

Continue reading →