Para Kaum Agnostic?

Alam adalah tempat kita lahir dan tumbuh, sebuah tempat yang begitu memukau sekaligus penuh dengan misteri. Sampai saat ini, kita belum jelas mengetahui apa itu sebenarnya alam semesta. Menurut Newton, alam semesta adalah sebuah ruangan statis, ada sebagaiamana ada sekarang ketika ia diciptakan. Sementara Einstein berpendapat bahwa alam semesta adalah sebuah ruang dan waktu yang merupakan satu kesatuan. Sedangkan, ilmuwan sekarang mengganggap bahwa alam semesta itu seperti sebuah getaran senar atau membran yang melintang diantara dimensi, suatu teori yang nantinya disebut sebagai “String Theory.”

Agnostic

Dalam agama, seseorang cenderung melihat bahwa alam semesta adalah bentukan dari Tuhan, titik dan itu final. Orang yang percaya terhadap doktrin seperti ini cenderung untuk tidak mempercayai bahwa bisa saja alam semesta ini tumbuh dan berkembang sesuai dengan waktu. Namun, ada kalanya juga, seorang religius seperti Georges Lemaître justru mengajukan sebuah proposal yang nantinya berkembang menjadi teori Big Bang. Sebuah teori yang justru bagi banyak orang membuktikan bahwa keberadaan alam semesta tidak membutuhkan campur tangan Tuhan untuk terbentuk.

Baik menjadi seorang atheis maupun religius bukanlah sebuah tolak ukur yang mampu mendefinisikan apakah seseorang akan dapat mencari arah kebenaran dari fenomena alam semesta ataupun tidak. Justru sekarang banyak dari ilmuwan yang menyatakan dirinya bukanlah seorang atheist. Padahal dahulu, atheisme sangat diidentikan dengan kematangan seseorang dalam berpikir rasonal. Sekarang, para ilmuwan itu lebih memilih untuk menyebut diri mereka sebagai seoarang agnostic. Yang berarti seseorang itu tidak mempercayai namun juga tidak menolak kepercayaan terhadap Tuhan.

Kaum Agnostic percaya kepada data, dan selama data hingga sejauh ini tidak membuktikan keberadaan Tuhan, maka mereka akan tetap berpendapat sesuai data yang mereka miliki. Namun, jika suatu saat mereka menemukan sebuah data yang mampu menunjukan keberadaan Tuhan, entah dalam bentuk fisik maupun matematis teori, maka mereka akan siap mempercayai bahwa Tuhan itu ada.

Continue reading →

Skala Manusia vs Alam

Kita pasti sering berfikir bahwa kehidupan kita adalah segala-galanya. Apa yang kita dapatkan dari kelahiran hingga kematian adalah sebuah konsekuensi logis kehadiran kita di alam semesta ini. Aku juga seringkali berfikiran seperti itu. Mengganggap bahwa dunia ini adalah sebuah medan pertempuran yang harus dimenangkan, bukan sebuah jalan panjang yang ujungnya bahkan tidak pernah kita ketahui.

A man gazes at the Milky Way outside his house

Jika kita melihat alam sekitar kita, bumi, matahari, planet-planet, galaksi, kita menyadari bahwa kita hanyalah bagian sangat kecil dari apa yang kita sebut sebagai alam semesta. Bahkan, bintang terdekatpun dari kita tidak akan pernah dapat kita kunjungi dengan teknologi yang ada pada kita sekarang ini. Dengan kecepatan cahaya, berharap saja kita bisa mendapatkannya, kita akan sampai pada proxima centuri pada rentang waktu 4 tahun. Namun, sesuai dengan perhitungan Einstein, kita tidak akan pernah mampu mencapai kecepatan cahaya. Karena kita adalah materi, dan materi tidak akan pernah mampu menembus batas kecepatan cahaya.

Usia alam semesta yang kita tempati nyaris 13.4 milyar tahun. Sebuah angka yang sangat-sangat tua dibandingkan usia umat manusia yang rata-rata tidak lebih dari 80 tahun. Dalam usia tersebut, barangkali beberapa orang diantara kita akan memperoleh kegemilangan yang menyilaukan, sedangkan yang lainnya akan hidup dalam sebuah arus kehidupan yang sama. Sebenarnya, apa yang menjadi prioritas kita ketika hidup? Apakah menjadi manusia yang baik? Menjadi manusia yang berbakti? Menjadi seorang religius? Atau menjadi seorang oportunis?

Ketika alam semesta lahir, ia tidak mempunyai apapun. Ia tidak mempunyai cahaya, ia tidak mempunyai bintang, ia tidak mempunyai planet, apalagi sebuah galaksi. Ia hanyalah sebuah tempat mungil, tidak lebih dari sebesar biji beras, sangat padat, penuh potensi, panas dan sangat terasing. Tidak ada apa-apa di dalamnya, namun dari sebuah ketiadaan, keberadaan bisa terbentuk. Lalu munculah materi dan antimateri yang bertempur layaknya prajurit yang berperang di Thermophilia. Setelah itulah muncul materi-materi dasar yang ada di tabel periodik unsur, muncul juga bintang-bintang pertama dan kemudian setelah kematian bintang-bintang itu, munculah generasi bintang-bintang kedua atau ketiga seperti matahari yang menjadi pusat tata surya kita.

Continue reading →

Apakah Kita Hidup Di Simulasi Raksasa?

Beberapa teori pembentukan alam semesta bermunculan dalam beberapa dasawarsa terakhir. Dan salah satu teori yang paling menarik dan banyak diperbincangkan adalah teori Big Bang. Big Bang menyatakan bahwa alam semesta dapat tercipta dari “nothing”. Dari suatu ketiadaan menjadi ada, dari tanpa energi menjadi sebuah energi masive. Teori Big Bang ini secara kasat mata begitu simpel, dan nyaris sangat mudah untuk dipahami (walaupun jika dipelajari lebih dalam, akan banyak sekali aspek yang harus diperhatikan).

anindita-saktiaji-cosmic-epochs

Perkembangan Alam Semesta Dari Big Bang Hingga Masa Kini

Namun, semakin ke depan, semakin banyak keganjilan yang ditemukan di alam semesta ini. Salah satu yang paliang mencolok adalah, perbedaan besar antara dunia makro dan mikro fisika (fisika quantum). Dunia makro (yang bisa kita amati dari mulai pergerakan bintang hingga atom) pasti mempunyai hukum fisika yang tetap dan konstan. Misalkan, jika kita menguji Jarak = Kecepatan * Waktu, maka di manapun kita akan menguji, kalkulasi tersebut akan menghasilkan hasil yang sama dan tepat. Namun di dunia mikro fisika, semua hukum yang kita kenal sama sekali tidak berguna.

anindita-saktiaji-simulasi-bholsoi-nasa

 Bolshoi – Simulasi Pembentukan Alam Semesta

Salah satu teori terobosan yang dibuat oleh Martin Savage salah seorang peneliti dari Universitas Washington mengusulkan sebuah proposal yang menyatakan bahwa alam semesta yang kita tinggali adalah sebuah simulasi raksasa. Bayangkan saja, ratusan atau puluhan tahun dari masa sekarang, manusia mampu membuat superkomputer yang mampu menjalankan simulasi raksasa tentang alam semesta dari mulai Big Bang hingga pembentukan kehidupan di bumi. Faktanya, simulasi semacam itu sekarang sudah dikembangkan oleh NASA. Proyek yang dinamai Bholsoi (Besar – bhs russia) mencoba untuk mensimulasikan bagaimana proses pembentukan alam semesta dari awal hingga nantinya berakhir.

Hasil simulasi Bholsoi yang dibangun selama 4 tahun itu berhasil dengan sangat mencenggangkan. Tidak hanya bentuk alam semesta, namun komposisi material, dark matter, dan dark energi dapat diprediksikan secara tepat. Memang komposisi kecil seperti planet dan tata surya belum mampu dilakukan pada tahapan ini. Namun, Bolshoi merupakan terobosan yang sangat besar bagi manusia. Bayangkan saja, dalam beberapa puluh atau ratus tahun mendatang, manusia mampu membuat sebuah simulasi alam semesta lengkap, dari mulai galaksi hingga hewan bersel satu yang hidup di dalamnya.

Continue reading →

Manusia Bukan Dari Kera

Ada sebuah diskusi menarik yang kebetulan saya baca di sebuah social media. Diskusi tersebut membahas tentang pro kontra adanya teori evolusi. Di satu pihak, orang menentang teori evolusi karena bertentangan dengan ajaran agama dan di sisi lain, orang mengatakan bahwa bukti-bukti teori evolusi itu sudah banyak sekali sehingga tidak bisa diabaikan. Mungkin ada baiknya kita sedikit menilik kembali beberapa fakta yang ada di balik teori evolusi yang dikatakan diciptakan oleh Charles Darwin.

evolution

Beberapa penemuan Darwin, atau beberapa generasi ilmuwan sesudahnya memang diambil dari sampel yang acak. Misalnya ada beberapa penemuan tengkorak manusia purba yang diambilkan dari simpanse atau beberapa spesimen lain yang salah kaprah. Tentu saja ini adalah bencana besar bagi sains. Metode yang sembrono ini tentu akan membuat penelitian ke depan menjadi jauh lebih sulit. Namun, di sini kita akan menemukan sebuah pembahasan menarik, yaitu manusia atau seluruh makhluk hidup sekarang berasal dari sesuatu yang lain?

“Manusia berasal dari kera!” Itulah yang selalu kita dengar dari berbagai macam ulasan yang kita baca. Sebuah pernyataan yang sebenarnya benar-benar menyinggung perasaan setiap manusia yang ada di dunia. Maukah kalian disamakan dengan binatang yang berjalan telanjang kesana kemari di tengah hutan dan tak tahu sopan santun?

Lucunya adalah, sebenarnya tidak pernah ada pernyataan “Manusia berasal dari kera!” Kesalahan itu berasal lebih dari translasi bahasa dari pada sebuah pemikiran. Kera di dalam bahasa Inggris adalah Monkey sedangkan yang dimaksud di sana adalah primata atau primate. Sebuah kelompok hewan yang terdiri dari genus lemur hingga (mungkin) manusia. Pada kenyataannya memang secara fisik, tidak ada pembeda luar biasa antara kera dan manusia. Namun bukan berarti manusia berasal dari evolusi kera. Kera dan manusia berasal dari satu garis evolusi yang sama.

Continue reading →

We Are All Alone?

Kehidupan dan kematian bagaikan sebuah siklus yang pasti di alam semesta ini. Setiap apa yang lahir akan mati, dan dari kematian akan ada bibit-bibit kemunculan yang baru. Di sini saya tidak hanya membicarakan manusia, bukan juga hanya membicarakan makhluk hidup, namun setiap apa saja yang ada di alam semesta. Bahkan bintang-bintang yang matipun akan melahirkan bintang baru yang kelak akan menumbuhkan generasi baru di alam semesta.

You In Universe

Ketika kita melihat unsur-unsur yang ada di tubuh kita. Mineral-mineral yang mengalir di dalam sel darah dan mengendap di daging serta saraf kita dibuat di dalam bintang-bintang tua yang telah hancur. Generasi bintang kedua atau ketiga seperti matahari yang menjadi pusat tata surya kita mencoba menempanya kembali dalam bentuk gravitasi yang mengendapkan gumpalan mineral menjadi gas dan kemudian planet-planet seperti Merkurius, Bumi, Venus, dan Mars.

Dari sana, beberapa waktu lalu saya mempunyai pertanyaan menarik (atau setidaknya bagi saya menarik). Jika orang tua mempunyai hubungan darah dan kedekatan dengan anak-anaknya. Lalu bagaimana hubungan kita dengan alam semesta ini? Di dalam tubuh kita terdapat oksigen, hidrogen, nitrogen, karbon, kalsium, potasium, fosfor, sodium, iodine, zinc, dan masih banyak mineral lain yang semuanya tersebar begitu luas di alam semesta ini.

Di sekitar kita, banyak sekali tersebar bumbu dan bahan mentah untuk membentuk apapun yan menyerupai kita. Hanya butuh sebuah resep khusus untuk memasaknya dan jadilah entitas yang kita sebut sebagai manusia. Resep itu sekarang masih terpisah menjadi dua kubu, di satu sisi, Tuhanlah yang membentuk resep dan memasaknya, di sisi lain, resep itu tercipta dengan sendirinya oleh proses alam yang panjang. Apapun nantinya teori yang benar, kita mempunyai kedekatan raga (dan mungkin emosional) dengan alam semesta ini. Atau dapat dikatakan, kita adalah bagian tidak terpisahkan dari alam semesta ini.

Continue reading →