Borobudur dan Simbol Peradaban

Jika orang ditanya, bangunan kuno apa yang paling kita ingat yang dibangun kerajaan Nusantara jaman dulu? Mungkin sebagian besar akan menjawab Borobudur, barangkali diikuti dengan Prambanan dan beberapa candi megah lain. Uniknya, Borobudur dibangun bukan pada masa puncak peradaban Nusantara. Ia dibangun oleh sebuah kerajaan yang notabene tidak begitu agung. Kerajaan itu adalah kerajaan Mataram.

Candi Borobudur

Para ahli sejarah masih memperdebatkan apakah Mataram yang membangun Borobudur (dan Prambanan meskipun berbeda dinasti), adalah “juga” penguasa Srivijaya. Apakah kedua negara itu mempunyai hubungan “personal union.” atau justru hubungan Mataram adalah vassal bagi Srivijaya. Sampai sejauh ini tidak ada prasasti yang dengan tegas mengatakan itu. Yang jelas, Srivijaya dengan luas kekuasaan sepertiga Asia Tenggara sekarang ini sempat terlupakan oleh sejarah. Dan justru kerajaan kecil seperti Mataram, yang hanya menguasai sebagian Jawa Tengah dan Timur tak lekang oleh waktu.

Candi Borobudur

Peninggalan bangunan sejarah yang mempesona seperti candi-candi Jawa adalah salah satu bukti jika manusia ingin diingat selamanya. Motivasi itu juga yang melatar belakangi dibangunnya piramid-piramid raksasa di Mesir, atau monumen-monumen lain di seantero dunia yang diabadikan untuk mengingat seseorang. Itulah, mengapa dunia mengenal betul Borobudur. Sedangkan Srivijaya dan kemudian nanti Majapahit kurang begitu mendengung di telinga orang luar.

Continue reading →

Seberapa Kuat Militer Indonesia?

Akhir-akhir ini kita sering mendengar perdebatan sengit mengenai seberapa kuat sebenarnya militer yang dimiliki oleh Indonesia. Ada yang mengatakan bahwa kekuatan militer kita masih jauh bahkan dari negara tetangga. Namun ada pula yang menyatakan bahwa militer Indonesia sudah jauh lebih kuat dan bahkan dapat disandingkan dengan negara-negara maju. Jadi mana yang benar?

Mengukur kekuatan militer sebuah negara sebenarnya tidaklah mudah. Sebagai contoh, Perancis pada tahun 1940 adalah militer terkuat kedua di dunia setelah Uni Soviet. Mereka memiliki ratusan divisi infantri serta mempunyai kekuatan udara dan laut yang tidak dapat dianggap enteng. Perancis juga mempunyai sekutu yang kuat seperti Inggris, dimana keduanya merupakan pemenang dari Perang Dunia 1. Hanya saja, kekuatan militer mereka tak mampu membendung taktik serangan Jerman, yang mungkin secara rangking waktu itu hanya berada di urutan ke 3. Lalu, apa yang salah dengan Perancis?

Kebanyakan orang, dan sebagian besar rangking (dalam hal apapun) biasanya terlena dengan faktor jumlah. Padahal, militer juga mempunyai aspek kualitas persenjataan, taktik level rendah, dan juga strategi level besar. Ketiga aspek itu dikombinasikan dengan moral dan disiplin pasukan menjadi penentu bagi kekuatan sebuah negara.

Continue reading →

Dualisme Strategi Militer Jepang di Perang Dunia 2

Bagi Jepang, Perang Dunia 2 dimulai jauh lebih awal daripada di barat. Invasi Jepang ke China di tahun 1937 yang terkenal dengan Marco Polo Bridge Incident menjadi titik awal perjalanan panjang militer negeri matahari terbit itu untuk mendominasi Asia. Sebuah perjalanan yang akan memakan jutaan nyawa baik militer maupun penduduk sipil. Konflik yang bahkan memakan jauh lebih banyak korban dibandingkan dengan pertempuran-pertempuran di Eropa.

Pertempuran dengan China diawali dengan kesuksesan yang cukup meyakinkan. Jepang dapat merebut kota-kota besar seperti Beijing, Shanghai, dan bahkan ibukota China Nasionalis di Nanking. Kekejaman Jepang di kota tersebut akan ditulis di dalam sejarah sebagai “The Rape of Nanking” atau “Nanking Massacre”. Dimana ratusan ribu penduduk kota Nanking terbunuh (atau dibunuh secara sistematis) dan ribuan wanita diperkosa oleh tentara Jepang.

Kejatuhan Nanking di tahun 1938 di atas kertas seperti menjadi titik akhir perjuangan China. Mereka seperti kehilangan taring untuk (bahkan sekedar) melindungi ibukotanya dengan perlawanan berarti. Kekuatan militer China, terutama China Nasionalis pimpinan Chiang Kai Shek sepertinya sudah berada di ambang kehancuran.

Continue reading →

1984 dan Totalitarianisme

Dalam novelnya 1984, George Ormwell menceritakan sebuah alternatif sejarah yang cukup menarik untuk dibahas. Sebuah dunia dimana Perang Dunia 1 tidak pernah benar-benar berakhir. Alih-alih terjadi perdamaian seperti yang ada di dunia kita. Negara-negara di dunia Ormwell justru saling melebur menjadi 3 negara besar, Oceania, Eurasia, dan Eastasia.

Ketiga negara besar dunia nyaris mempunyai kekuatan yang seimbang baik dari segi kekuatan manusia maupun sumber daya alam. Perang diantara ketiga negara tersebut terjadi secara konstan. Namun tak ada pertempuran yang benar-benar memberikan dampak signfigikan. Bebeberapa pertempuran bahkan dilakukan di zona-zona netral. Jawa misalnya digambarkan sebagai sebuah tempat yang terus berpindah tangan. Kadang berada di bawah kekuasaan Eastasia, terkadang berada di bawah kekuasaan Oceania.

Pertempuran antara ketiga negara besar itu dilakukan secara “setengah hati”. Tidak ada pertempuran yang benar-benar “decisive”. Tidak ada juga pertempuran yang bertujuan menghancurkan secara menyeluruh pihak lawan seperti pertempuran-pertempuran di Perang Dunia 1 atau Perang Dunia 2. Tidak ada juga pertempuran yang bertujuan menguasai wilayah pihak lawan secara permanen. Yang ada hanyalah pertempuran-pertempuran yang dilakukan seadanya. Satu wilayah direbut untuk waktu tertentu, dan kemudian wilayah itu direbut oleh pihak lawan di kesempatan lain.

Continue reading →

Imperialisme & Penyebab Perang Dunia 2

Berakhirnya Perang Dunia 1 menyebabkan Dunia nyaris dibagi ke dalam beberapa pengaruh segelintir negara besar. Inggris dan Perancis menguasai koloni besar di Afrika, Timur Tengah, India, dan Asia Tenggara. Uni Soviet menguasai sisa-sisa kekaisaran Russia. Sementara itu Amerika Serikat yang notabene mampu berdiri sendiri, puas mengisolasi negaranya tanpa perlu campur tangan ke masalah asing.

Imperialisme negara-negara pemenang Perang Dunia 1 membuat mereka mampu memonopoli komoditas perdagangan dunia. Inggris, Soviet, dan Amerika adalah penghasil minyak terbesar dunia di kala itu. Mereka bisa menentukan kepada siapa mereka akan menjual minyak itu dan untuk keperluan apa. Sedangkan Perancis dan Belanda dengan koloninya di Asia Tenggara mampu memonopoli hasil bumi dan karet.

Gambaran perdagangan global di masa itu tentu sangat berbeda dengan apa yang kita lihat sekarang. Sekarang, setiap negara bebas untuk memperjual belikan hasil produksinya ke negara manapun. Tidak ada batasan, dan tidak ada monopoli (sampai ke dalam batas tertentu). Mungkin memang masih ada beberapa negara yang secara ketergantungan masih harus mengekspor dan impor barang kebutuhan dari negara tertentu. Ada juga negara yang karena posisi geografisnya masih harus tergantung kepada negara lain. Tapi secara global, setiap negara bebas menentukan kemana mereka mau menjual dan membeli barang kebutuhan.

Continue reading →