Dari Indonesia Untuk Dunia

Nasionalisme menjadi fenomena yang fantastis di akhir abad 19 dan awal abad 20. Negara-negara di dunia disatukan atau dipisahkan oleh semangat tersebut. Kelompok-kelompok manusia mulai mencari apa yang menjadi pemersatu diantara mereka dan juga pembeda. Persamaan bahasa, warna kulit, dan sejarah biasanya adalah faktor-faktor utama. Bangsa-bangsa seperti Jerman dan Italia yang selama berabad-abad tercerai berai mulai menyatukan diri. Sementara itu Bangsa Arab dibawah Usmaniyah dan Slavia di bawah Austro-Hongaria mulai mempertanyakan jati dirinya. Di titik inilah, sebuah negara baru yang kuat akan lahir atau negara tua yang sakit akan tenggelam.

Dalam arus nasionalisme yang deras, hanya segelintir negara saja yang mencoba mempertahankan keberagamannya. United States adalah salah satunya, sebuah negara yang dibangun tanpa bangsa tertentu dan menerima hampir seluruh bangsa lain untuk tinggal di negaranya.

Memang ada satu dua hal yang bisa kita bantah dari argumen itu. Bangsa Indian, kulit hitam, dan beberapa bangsa Asia perlu berjuang lebih lama untuk mendapatkan status yang sama dengan saudara Eropa mereka. Namun, inti dari semangat negara tersebut adalah, tidak ada nasionalisme yang membangunnya. Semua dibangun diatas keberagaman dan persamaan nasib diatas tanah dunia baru.

Hanya saja, United States adalah negara dimana hampir sebagian besar penduduknya adalah pendatang. Setidaknya pendatang yang baru saja menghuni benua baru tersebut. Suku-suku indian, yang merupakan penduduk native menjadi minoritas yang mungkin sampai sekarang masih mendapatkan perlakuan berbeda. Perlakuan berbeda dibandingkan dengan rekan-rekan keturunan Eropa mereka. Jadi, wajar saja jika nasionalisme tidak menjadi pokok utama di sana. Beberapa alternatif misalnya saja patriotisme, atau yang sering didenggungkan adalah kebebasan.

Indonesia di lain hal secara native dihuni oleh berbagai bangsa yang memang sedari dahulu tidak pernah disatukan oleh sebuah pemerintahan terpusat. Kecuali pada beberapa masa singkat di era Srivijaya dan Majapahit. Meskipun memang ada beberapa pendapat yang mengatakan jika kedua kerajaan tersebut tidak sepenuhnya menguasai kepulauan Nusantara secara absolut. Bentuk tributary misalnya atau vassal mungkin lebih cocok untuk menggambarkan pemerintahan mereka. Entahlah, yang jelas, bangsa Indonesia hampir tidak pernah disatukan baik secara politik, maupun secara bahasa.

Laut adalah sebuah pemisah, mau tidak mau kita harus mengakuinya. Dan lautan di Indonesia sangatlah luas. Dengan luas wilayah hampir seukuran United States, 2/3 dijejali oleh lautan. Nenek moyang kita memang banyak yang berprofesi sebagai pelaut, seperti layaknya lagu yang kita nyanyikan semenjak kecil. Namun jumlahnya mungkin tidak signifikan. Terlihat dari sebagian besar kerajaan di Nusantara yang bersifat pedalaman dan agraris. Barangkali itu menjadi bukti jika memang kekuatan laut kita semenjak dulu terbatas. Kapal-kapal besar seperti Pinisi juga ada, namun jumlahnya-pun tidak signifikan. Sangat kurang untuk mengontrol seluruh wilayah laut Indonesia yang maha luas.

Saya kira, karena laut itulah setiap pulau mempunyai masing-masing budaya sendiri yang unik. Bahkan di dalam pulau-pun terdapat masing-masing budaya yang terkadang masih sulit disatukan sampai sekarang ini. Barangkali anda pernah mendengar perselisihan budaya Sunda dengan Jawa? Dua budaya besar yang ada di pulau Jawa. Entah siapa yang mengawalinya dan bagaimana itu pertama kali terjadi. Ada yang mengatakan, perselisihan itu muncul ketika era Majapahit, dimana Sunda adalah satu-satunya Kerajaan di wilayah barat Nusantara yang tak tunduk di bawah Majapahit. Ada juga yang mengatakan semua berawal ketika Belanda ingin memecah belah wilayah taklukannya. Agar tak ada gerakan persatuan antara Jawa dengan Sunda. Atau bisa jadi kombinasi keduanya.

Singkat kata, sampailah pada masa kemerdekaan Indonesia. Sebuah negara baru yang penuh dengan bermacam budaya, agama, suku, dan bahkan (kalau boleh dikata) ras. Setelah Perang Dunia 2 berakhir, satu persatu kekuatan besar dunia tumbang. Kekuatan yang disebut sebagai empire ini walaupun memenangkan perang, mereka tak mampu mempertahankan dominion-nya. Dan negara jajahan serta koloni mereka perlahan mendeklarasikan kemerdekaan (Indonesia boleh dikata merupakan salah satunya). Hanya saja, kemerdekaan Indonesia ini boleh dikatakan salah satu yang paling unik di dunia.

Indonesia berusaha mempersatukan kembali wilayah-wilayah Nusantara yang dahulu berada di bawah pemerintahan Hindia Belanda. Sebuah usaha yang saya kira luar biasa sulit. Beberapa kali pemberontakan dan separatisme terjadi. Bahkan noda-noda seperatisme itu masih saja ada di masa sekarang. Sebabnya ada banyak. Ketimpangan ekonomi adalah salah satu sebabnya. Namun yang lebih kentara lagi adalah perbedaan budaya dan akar peradaban.

 

Saudara-saudara kita di Papua misalnya, banyak dari mereka yang merasa tidak mempunyai pertalian budaya dengan bagian Indonesia lainnya. Dan orang luar-pun mengganggapnya seperti itu. Alhasil, mereka banyak yang mendukung gerakan seperatisme yang muncul tanpa merasa perlu untuk mempelajari keadaan tanah Papua sekarang ini. Saya sendiri sadar jika masih ada ketimpangan pembangunan di Papua. Tidak hanya itu, ketimpangan pembangunan ada di mana-mana kecuali Pulau Jawa. Mindset Jawa-sentris ini memang secara berpuluh tahun menjadi garis besar pembangunan nasional. Tapi saya melihat ada sedikit perubahan sekarang ini.

Oke, gerakan separatisme memang ada, namun dari pengalaman dan interaksi dengan masyarakat di sana, saya menangkap kalau tidak semua masyarakat Papua ingin melepaskan diri dari Indonesia. Bahkan banyak diantaranya yang cinta dengan persatuan Indonesia. Begitu juga dengan sebagian besar masyarakat lain di luar pulau Jawa. Mereka tidak lagi mengganggap bahwa Indonesia identik dengan Jawa. Pusat pemerintahan dan ekonomi memang masih berada di Jawa. Namun kota-kota lain seperti Makassar, Bali (Denpasar dan sekitarnya), serta beberapa kota di Sumatera (seperti Medan dan Batam) kini berkembang dengan pesat. Pembangunan dilakukan secara massive dan cenderung mengarah pada otonomi.

Lalu, apa yang ingin saya sampaikan dari gambaran diatas? Apa maksud dari Indonesia untuk Dunia?

Saya ingin menyampaikan jika sebuah negara tidak perlu dibentuk dari sebuah etnis mayoritas saja. Sebuah negara dapat dibentuk dari beragam ras, suku, bahasa, agama, semua tergantung dari satu tujuan. Membentuk sebuah negara demi tercapainya kesejahteraan dan rasa keamanan bersama. Negara-pun dapat menjadi sebuah identitas bagi orang yang memegangnya. Bahwa kita mempunyai negara tempat kita berasal, bahwa kita punya negara tempat kita bernaung.

Lalu bagaimaana dengan negara-negara yang terus bercerai berai meninggalkan induknya. Negara yang terus dilanda konflik identitas dan separatisme?

Satu persamaan antara Indonesia dengan USA. Bahwa kedua negara ini tidak mengedepankan ras tertentu atau agama tertentu atau kelompok tertentu sebagai identitas nasionalnya. Misalnya saja, jika ras, agama, kelompok, atau bahkan bahasa tertentu yang menjadi ciri Indonesia. Tentu kita akan menjadi negara Jawa. Karena Jawa-lah etnis terbanyak di Indonesia dan Jawa pula-lah yang menjadi penguasa kepulauan nusantara selama beberapa abad terakhir. Namun, alih-alih kita menggunakan bahasa Melayu, yang kemudian ditranslasikan menjadi Bahasa Indonesia. Kita bahkan tidak mencantumkan ras di dalam ID. Hal yang bahkan sebagian negara di Asia Tenggara masih dilakukan.

Bagi negara-negara yang masih berkonflik karena masih memegang teguh salah satu ras, agama, atau bahasa tertentu. Saran saya, mulai tinggalkan semua itu. Bentuklah sebuah pemerintah kesatuan, bentuklah sebuah negara koalisi, diamana tak ada ras yang dominan, tak ada suku yang dominan, atau tak ada agama yang lebih dominan dari agama lain. Memang itu sulit, Indonesia juga belum bisa matang dalam melaksanakannya. Namun, negara ini sedang belajar, perlahan-lahan, dan saya harap suatu saat dapat menjalankannya dengan benar. Semoga Indonesia mampu, dan semoga seluruh dunia mampu pula melaksanakannya.

 

 

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.