Dark Matter dan Dark Energy

Bagi para pengamat science, istilah Dark Matter dan Dark Energy mungkin tidak asing lagi di telinga. Bahkan akhir-akhir ini, istilah-istilah tersebut semakin santer terdengar dan dikaitkan oleh berbagai macam hal yang sama sekali tidak berhubungan dengannya. Oke, kita bisa membahasnya lain waktu. Di sini, kita akan mencoba membahas perbedaan mendasar dari Dark Matter dan Dark Energy.

Dark Matter dan Dark Energy
Perbandingan Dark Matter dan Dark Energy

Kesalahan pertama yang dipikirkan orang tentang Dark Matter dan Dark Energy adalah bahwa mereka dua buah entitas yang saling terkait satu sama lain. Terkait dalam artian sangat erat seperti hubungan sebab dan akibat. Dark Energy menyebabkan adanya Dark Matter atau begitu pula sebaliknya.

Dark Matter adalah sebuah material intrinsik yang tak kasat oleh mata. Material ini tidak merefleksikan cahaya dan sangat sulit untuk bersinggungan dengan material-material lain yang kita kenal di tabel periodik unsur. Lalu bagaimana kita bisa tahu jika dark matter itu ada?

Jan Hendrik Oort (1932) dan Horace Babcock (1939) mengamati Galaxy Rotation Curve yang berkesimpulan bahwa perputaran bintang-bintang di tengah galaksi mempunyai kecepatan yang nyaris sama dengan perputaran bintang-bintang di bagian terluar galaksi. Ini sangat aneh mengingat jika di dalam tata surya. Planet yang paling dekat dengan matahari akan mempunyai masa revolusi yang jauh lebih cepat dibandingkan degan planet yang berada di bagian terluar.

Hal tersebut hanya mungkin dengan dua hal. Pertama, seluruh teori gravitasi yang selama ini ditemukan adalah salah. Atau kedua, ada material lain yang belum terdeteksi sebelumnya. Hipotesis pertama mungkin terjadi, namun itu artinya perombakan besar-besaran harus dilakukan dalam dunia fisika. Bahkan pada level yang paling dasar sekalipun. Dan perombakan itu artinya segalanya, semua yang kita ketahui tentang fisika adalah salah. Dan ini belum didapatkan bukti hingga sekarang.

Sementara hipotesis bahwa seluruh teori gravitasi salah dikesampingkan oleh para ilmuwan, kita akan menuju pada hipotesis kedua. Bahwa terdapat material lain di alam semesta ini yang belum kita ketahui sama sekali. Dan jika dikalkulasikan, material yang kita kenal baik di tabel periodik unsur hanya mampu memenuhi sekitar 4.6% dari seluruh unsur di alam semesta ini. Sebuah angka yang sangat amat kecil. Sebuah simulasi yang dilakukan NASA membuktikan bahwa tanpa adanya Dark Matter, galaksi tidak mampu menyatu seperti yang kita lihat sekarng ini. Bintang dan gugusan kecil planet akan tersebar kemana-mana.

Sampai sekarang, ilmuwan belum mengetahui secara pasti apa itu Dark Matter. Yang mereka ketahui bahwa jumlahnya sangat amat banyak, lebih dari 6x (24% dari seluruh total alam semesta) dari material yang kita ketahui atau sering disebut sebagai Normal Matter. Dan jelas bahwa Dark Matter bukanlah material normal yang ada di tabel periodik unsur, karena dark matter tidak mereflesikan cahaya. Ia juga bukan anti matter karena anti matter tidak mampu bersanding dengan normal matter. Anti dan normal matter akan saling menghancurkan satu sama lain. Sekelompok ilmuwan di Denmark mempunyai proposal bahwa Dark Matter adalah bentuk lain dari Higgs Bosson. Namun proposal ini belum benar-benar mempunyai bukti yang kuat.

Sementara itu, Dark Energy adalah energi intrinsik yang dimiliki oleh alam semesta. Ada yang mengatakan bahwa Dark Energy adalah sisa hasil pengembangan dari Big Bang. Namun ada pula yang mengatakan bahwa Dark Energy adalah energy potensial dari ruang kosong yang terdapat di alam semesta.

Dark Energy dapat diamati secara jelas dalam skala besar seperti galaksi dan cluster galaksi. Antara satu galaksi dengan galaksi yang lain di luar sebuah cluster akan saling menjauhi satu sama lain. Seolah-olah terdapat anti-gravitasi yang membuat saling tolak menolak. Namun nyatanya, anti-gravitasi itu tidak ada. Yang ada justru ruang ‘space’ itu sendiri yang membesar. Ruang ‘space’ seolah-olah berwujud karet yang dapat melebar sangat besar. Bedanya, jika karet suatu saat akan mengecil kembali, ruang ‘space’ justru semakin membesar tanpa ada batas.

Pembesaran alam semesta berdasarkan hukum fisika pastilah membutuhkan sebuah energi yang bekerja disana. Dan total energi yang ada ditambah dengan seluruh unsur yang ada di dalam tabel periodik maupun dark matter tidaklah cukup. Karena itulah, ilmuwan berkesimpulan bahwa ada sebuah energi tak kasat mata. Dan jumlahnya cukup banyak, lebih kurang 71.4% dari total alam semesta. Karena dark energi diperkirakan mengisi seluruh ruang kosong diantara galaksi. Dan ruang diantara galaki itu semakin lama semakin membesar.

Leave a Reply