Dualisme Strategi Militer Jepang di Perang Dunia 2

Bagi Jepang, Perang Dunia 2 dimulai jauh lebih awal daripada di barat. Invasi Jepang ke China di tahun 1937 yang terkenal dengan Marco Polo Bridge Incident menjadi titik awal perjalanan panjang militer negeri matahari terbit itu untuk mendominasi Asia. Sebuah perjalanan yang akan memakan jutaan nyawa baik militer maupun penduduk sipil. Konflik yang bahkan memakan jauh lebih banyak korban dibandingkan dengan pertempuran-pertempuran di Eropa.

Pertempuran dengan China diawali dengan kesuksesan yang cukup meyakinkan. Jepang dapat merebut kota-kota besar seperti Beijing, Shanghai, dan bahkan ibukota China Nasionalis di Nanking. Kekejaman Jepang di kota tersebut akan ditulis di dalam sejarah sebagai “The Rape of Nanking” atau “Nanking Massacre”. Dimana ratusan ribu penduduk kota Nanking terbunuh (atau dibunuh secara sistematis) dan ribuan wanita diperkosa oleh tentara Jepang.

Kejatuhan Nanking di tahun 1938 di atas kertas seperti menjadi titik akhir perjuangan China. Mereka seperti kehilangan taring untuk (bahkan sekedar) melindungi ibukotanya dengan perlawanan berarti. Kekuatan militer China, terutama China Nasionalis pimpinan Chiang Kai Shek sepertinya sudah berada di ambang kehancuran.

Namun, sejarah mengatakan, China dapat bertahan hingga tahun 1945. Invasi Jepang bahkan bisa dikatakan mentok usai keberhasilan mereka merebut Nanking. Ya, Jepang memang mampu melebarkan sayap mereka ke selatan China, bahkan mengurung beberapa kota pelabuhan di tenggara. Namun, semakin luas wilayah China yang mereka kuasai, semakin panjang juga garis logistik yang Jepang butuhkan. Semakin banyak wilayah China yang mereka kuasai, semakin banyak juga manusia yang harus mereka urusi di bawah pendudukan mereka. Dan Jepang sama sekali tidak mempunyai kapasitas dan kemampuan untuk melakukan hal tersebut.

Sampai di sini, barangkali secara logika, Jepang seharusnya menyelesaikan terlebih dahulu urusan mereka di China sebelum melakukan aksi militer ke tempat lainnya. Namun, rupanya Jepang ingin mendapatkan lebih daripada China. China, di luar ekspektasi Jepang, tidak memiliki sumber daya alam yang memadahi untuk industri Jepang (atau setidaknya di waktu itu belum diketemukan titik-titik penting daerah tambah dsb). Akibatnya, industri Jepang terutama militer mereka menerima banyak pukulan. Beberapa proyek seperti pengembangan satuan-satuan tank menjadi terhambat. Leletnya Jepang di dalam pengembangan pasukan lapis baja akan sangat terasa di babakan akhir Perang Dunia 2. Dimana musuh utama mereka, Amerika Serikat mempunyai kapasitas industri tank dan kualitas yang jauh lebih mumpuni.

Bicara soal Amerika Serikat, mengapa Jepang sampai menjadikan mereka sebagai musuh utama?

Jepang selama ini mengandalkan Amerika untuk import kebutuhan minyak. Namun semenjak serangan mereka ke China, Amerika melakukan embargo terhadap beberapa komoditas hasil bumi ke Jepang. Salah satunya adalah minyak, dan nanti kemudian baja. Tanpa minyak, mesin perang Jepang yang di dominasi kapal perang pada waktu itu tidak dapat berguna. Lalu di mana Jepang harus mencari sumber daya minyak terdekat dari lokasi mereka?

Opsi paling mudah adalah menginvasi Asia Tenggara. Minyak, karet, dan hasil pangan melimpah ruah di Hindia Belanda, Burma, Indonchina, dan Malaka. Jika menguasai daerah itu, Jepang nyaris dapat berdiri di kaki sendiri, tanpa perlu melakukan hubungan dagang berarti dengan negara lain. Menguasai koloni Hindia Belanda dan Indochina itu mudah, negara pusat mereka yaitu Belanda dan Perancis pada tahun 1940 sudah di duduki oleh Jerman. Mereka hanya dapat berdiri pincang, dan mengandalkan bantuan Inggris yang sekarang pun sedang sibuk menghadapi serangan udara Jerman. Menduduki Asia Tenggara seperti main game dengan cheat bagi Jepang. Hanya saja ada satu penghalang.

Philippines di waktu itu berada di bawah kekuasaan Amerika Serikat. Keberadaan Philippines menjadi krusial karena mereka berada di antara kepulauan Jepang dan negara Asia tenggara lain. Menduduki mereka, berarti Jepang harus berurusan dengan Amerika dengan Armada Pasifik mereka yang tidak sedikit. Yamamoto sendiri sebagai salah satu Laksaman Jepang yang tersohor paham betul akan hal ini. Perang dengan Amerika Serikat tidak terhindarkan jika Jepang ingin menguasai Asia Tenggara.

Di sini logika Jepang mulai kacau. Mereka ingin menyelesaikan perang di China, dengan mengambil sumber daya alam di Asia Tenggara. Namun mengambil sumber daya alam di Asia Tenggara berarti mendeklarasikan perang terhadap semua negara sekutu ditambah dengan Amerika Serikat. Dimana tentu ini akan semakin menambah beban terhadap militer Jepang yang sudah cukup kepayahan di China. Strategi militer Jepang di Perang Dunia 2 telah menjadi lingkaran setan. Dan ya, walaupun mereka mampu memenangkan beberapa pertempuran di babakan awal Perang Pasifik (karena ketidak siapan sekutu). Namun secara jangka panjang, Jepang sendiri yang akan mengalami kekalahan.

Lalu mengapa Jepang sampai terjebak dalam dualisme strategi seperti yang dilakukan oleh sekutunya – Jerman. Well, tidak ada yang tahu. Mungkin Jepang sudah salah langkah dari awal perang itu sendiri. Perang di China yang diharapkan mampu berlangsung singkat, justru menjadi perang penghabisan yang berlangsung hingga tahunan lamanya. Atau mungkin Jepang terlalu percaya diri, sama seperti Jerman. Mereka mengganggap militer mereka tak terkalahkan. Nyatanya, kedua negara itu justru mengalami nasib yang serupa. Dibikin babak belur oleh negara yang warga negara-nya mereka anggap inferior atau ras yang lebih rendah.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.