Jika Jepang Ikut Menyerang Soviet di Perang Dunia 2

Setelah Jepang menyerang Pearl Harbor dan mendeklarasikan perang terhadap Amerika Serikat, negara matahari terbit itu secara resmi tergabung ke dalam Axis. Jerman mendeklarasikan perang ke Amerika Serikat pada 11 Desember 1941. Dan secara otomatis seharusnya Jepang juga mendeklarasikan perang terhadap Soviet. Namun itu tidak pernah terjadi, Jepang lebih fokus melanjutkan perangnya dengan China dan melakukan ekspansi ke selatan.

jepang-1942
Wilayah Jepang Tahun 1942

Burma, Malaya, Indonesia, dan Filipina jatuh dalam hitungan minggu. Ini adalah Blitzkrieg versi Jepang dengan menggunakan gabungan kekuatan laut, udara, dan darat mereka. Awal dari invasi Jepang ke selatan memang mencengangkan, namun semua itu tidak bertahan lama. Setelah pertempuran Midway pada 3 – 7 Juni 1942, pergerakan Jepang seolah berhenti. Angkatan laut mereka kehilangan 4 kapal induknya, jumlah yang sangat besar bagi negara seperti Jepang. Mereka butuh berbulan-bulan untuk mampu menutupi kerugian tersebut, belum lagi kebutuhan untuk training pasukannya.

jepang-invasi-soviet
Rencana penyerangan Jepang ke Soviet

Di sini muncul pertanyaan, mengapa Jepang menyerang Amerika Serikat di Pearl Harbor dan mendeklarasikan perang kepada negara itu? Padahal mungkin mereka dapat menyerang ke Asia Tenggara tanpa perlu menyerang USA. Ada lagi pertanyaan, mengapa mereka lebih memilih untuk menyerang ke selatan sebelum menghabisi Soviet bersama dengan Jerman? Padahal jika Soviet telah aman, maka Jepang dapat dengan leluasa mengarahkan serangannya ke manapun. Belum lagi bantuan yang mungkin datang dari Jerman.

Pada 11 Mei – 15 September 1939 terdapat pertempuran yang barangkali sering terlupakan oleh sejarah. Pertempuran ini sering disebut dengan Battle of Khalkhin-Gol  atau Nomonhan Incident. Perang ini perang abu-abu yang melibatkan Manchuria yang diduduki oleh Jepang melawan Mongolia yang dikontrol oleh Uni Soviet. Skala dari pertempuran ini pun tidak besar, hanya berkisar di daerah desa Nomonhan di perbatasan Mongolia dan China sekarang. Perang yang berlangsung tidak terlalu intens ini rupanya membekas di benak Jepang. Tentara ke 6 Jepang bisa dibilang kalah telak dibandingkan dengan kekuatan Soviet yang dipimpin Jendral Zhukov, sosok yang nantinya mengepung tentara ke 6 (lucunya tentara yang dikalahkan Zhukov mempunyai nomor sama) dari Jerman.

Hasil investigasi mengungkapkan bahwa Jepang tidak akan mampu membendung kekuatan Soviet seluruhnya. Apalagi di wilayah tersebut, Jepang masih harus bertempur melawan dengan China Nasionalis pimpinan Chiang Kai Sek dan China Komunis pimpinan Mao Zedong. Di Jepang sendiri ada dua sisi dan dua strategi yang saling berbenturan. Fokus ke utara yang di dukung oleh kubu angkatan darat menginginkan jika Jepang harus menyerang Soviet dan mendukung Jerman dalam operasi Barbarossa, sedangkan fokus ke selatan didukung oleh kubu angkatan laut yang lebih memilih untuk menyerang Asia Tenggara demi mengamankan sumber daya alamnya.

Beberapa event sebelum Desember 1941 juga menggiring Jepang untuk lebih condong menyerang wilayah selatan Asia ketimbang harus berjibaku dengan Uni Soviet. Salah satunya adalah embargo dari Amerika Serikat dan Inggris, embargo tersebut membuat Jepang harus bersusah payah mendapatkan hasil bumi seperti minyak bumi. Ini penting, mengingat cadangan minyak Jepang kian hari kian sedikit setelah embargo. Selain itu, kemampuan militer Malaya, Hindia Timur, dan juga Myanmar dianggap belum siap. Ini tentu sangat mempermudah Jepang untuk menguasai wilayah-wilayah tersebut. Pertanyaannya hanya satu, Filipina. Filipina yang berada di tengah antara Jepang dengan Asia Tenggara membuat letaknya sangat krusial. Jika menguasai Asia Tenggara tanpa menguasai Filipina sama saja dengan bunuh diri. Hanya saja, Filipina waktu itu berada di bawah naungan Amerika Serikat.

Kembali lagi ke pertanyaan, bagaimana jika Jepang lebih condong untuk menyerang Soviet daripada Amerika Serikat? Jika Jepang menyerang Uni Soviet, berarti ada beberapa faktor yang harus dirubah terlebih dahulu. Pertama, Jepang harus mendapatkan cadangan minyak yang cukup terlebih dahulu. Dan cadangan minyak terdekat yang dapat Jepang peroleh barangkali ada di Myanmar atau Indonesia. Mungkin bisa saja kita mengasumsikan jika, somehow, Inggris dan Belanda tidak melakukan embargo terhadap Jepang. Atau setidaknya Belanda saja mungkin sudah cukup, karena Belanda di Eropa sendiri sudah berada di bawah kekuasaan Jerman. Mungkin ada cara dimana Hindia Belanda menjadi negara boneka yang condong ke kekuatan Axis. Dan disini, kita asumsikan jika Jepang tidak menyerang Pearl Harbor, atau setidaknya tidak pada tahun 1941.

Jika cadangan minyak Jepang dapat terselamatkan, maka peperangan ke utara barangkali masih dapat dilancarkan. Meskipun dalam skala yang tidak sebesar yang dapat kita bayangkan. Jepang tentu akan tetap berhati-hati supaya front mereka tidak kolaps menghadapi negara-negara dengan Manpower nyaris tak terbatas seperti China dan Russia. Dan tentara Kwantung (tentara Jepang yang ada di China utara) juga harus berhadapan dengan jalur suplai yang buruk di wilayah itu. Strategi utama yang dapat Jepang lakukan barangkali adalah mengokupasi kota-kota pelabuhan di timur Siberia. Kota seperti Vladivostok tentu dengan cepat akan dikepung, seiiring dengan pelabuhan-pelabuhan lainnya. Pengepungan ini secara tidak langsung akan membantu pasukan Jerman karena dengan begitu, lend lease Amerika tidak bisa sampai dari pelabuhan di timur Russia.

Peperangan di timur ini barangkali tidak akan menjadi peperangan yang cepat, karena Jepang mempunyai keterbatasan dari sisi teknologi militernya. Tank-tank mereka belum mampu menandingi tank Russia pada tahun 1941. Peperangan Jepang-Jerman vs Uni Soviet barangkali baru berakhir di tahun 1944 atau paling cepat 1943. Itupun dengan hasil yang terbatas, Jerman misalnya hanya akan mengokupasi wilayah di sebelah barat pegunungan Ural dan Jepang paling banter hanya mendapatkan wilayah pesisir timur, dekat perbatasan Manchuria. Ini lebih karena kondisi militer Jerman pada waktu itu. Meskipun banyak yang mengganggap militer Jerman jauh lebih superior dibandingkan dengan Soviet, namun ungkapan itu tidaklah sepenuhnya benar. Korban militer Jerman di babakan awal perang dengan Soviet jauh lebih besar dibandingkan dengan seluruh kampanye militer mereka sebelumnya.

Jadi, saya rasa jika Jepang mau bekerja sama dengan Jerman untuk menyerang Soviet, kemungkinan besar kekuatan Soviet akan jatuh. Walaupun tidak akan benar-benar hancur. Tentang prediksi bagaimana peta kekuatan dunia setelah pembagian kekuasaan di negara-negara bekas Uni Soviet mungkin perlu ditelaah lebih mendalam. Akan sangat menarik untuk memperkirakan skenario apa saja yang mungkin terjadi.

Leave a Reply