Ketika Teknologi dan Manusia Tidak Ada Lagi Pembatas

Manusia menciptakan teknologi untuk mempermudah kehidupannya. Kita menciptakan kapak untuk mempermudah berburu binantang, membela diri dan memotongi pohon (untuk dijadikan hunian, senjata, maupun bahan bakar). Kita menemukan api dan menyebarkannya untuk dari sekedar mempermudah penglihatan kita di malam hari hingga membantu kita dalam memasak makanan secara lebih baik dan lebih sehat. Kita menciptakan masyarakat, adat, dan (hingga dalam batasan tertentu) agama untuk mendefinisikan tingkah laku yang benar atau buruk. Seluruh ciptaan manusia selama ini mempunyai ciri yang sama, kita lahir tanpanya dan kemudian mati juga tanpanya. Namun, baru-baru ini ada sebuah diskusi menarik yang menyatakan bahwa, bagaimana jika kita bisa mati dengan membawa teknologi?

anindita-saktiaji-human-technology

Tentu saja, mati membawa teknologi itu bukan berarti kita membawa laptop kita ke alam baka, dimana kita bisa bermain game online di sana atau chatting dengan teman dan sahabat kita yang (barangkali) masih hidup. Mati membawa teknologi lebih diartikan dengan mentransfer kehidupan kita ke dalam bentuk digital. Dimana setiap momen, ingatan, rasa, keputusan, pemikiran, dan anggapan akan diubah ke dalam bentuk data. Singkat kata, kita merubah fisik tubuh menjadi sebuah objek biner yang dapat ditransfer, disebarluaskan, diperbanyak, dan juga disimpan untuk kebutuhan di masa mendatang.

Selama ribuan tahun, manusia meninggalkan jejak pemikirannya dengan tulisan yang ia buat di batu, bambu, ataupun kertas. Beberapa dasawarsa ini, orang barangkali dapat pula meninggalkan jejaknya pemikirannya dalam bentuk digital. Lewat tulisan-tulisan yang ia post di mikro blog, blog, jurnal, group, mailing list maupun website. Keseluruhan ide diatas meskipun medianya berbeda, namun tetap mempunyai ciri yang sama. Orang yang telah meninggalkan tulisan itu sudah tidak ada lagi di dunia ini. Lalu bagaimana jika kita bisa menemukan cara untuk membuat pemikiran manusia itu ada selama-lamanya.

Kehidupan abadi telah menjadi dambaan banyak orang selama peradaban yang kita ketahui terbentuk. Pharaoh di Mesir membangun piramida yang kokoh supaya ia abadi bersama dewa-dewa, Sing Huang Tsi menghabiskan banyak dana untuk membuat ramuan anti penuaan hingga ia menemukan merkuri, dan banyak lagi contoh usaha manusia untuk mencoba mencari cara agar ia dapat mempunyai kehidupan yang kekal. Namun, seluruh usaha yang ada selalu menemui kegagalan. Tubuh biologis kita secara eksplisit memang didesain untuk mati, cepat ataupun lambat.

Mungkin anda sekalian pernah melihat film-film fiksi ilmiah dimana manusia diubah menjadi robot dan setengah robot. Robocop adalah salah satu contoh yang mungkin pernah anda lihat. Tokoh utamanya adalah seorang polisi yang terkena ledakan hebat sehingga hampir seluruh tubuhnya hancur. Bagian-bagian tubuh tersisa yang masih dapat diselamatkan akhirnya dikombinasikan dengan mesin. Dan jadilah ia sebagai pemburu penjahat nomor satu di kotanya, yang tak mudah mati ataupun terluka. Ada juga film matrix dimana orang-orang hidup dalam dunia yang benar-benar baru dan digital. Disana mereka dapat berpikir, bergerak sesuka hati mereka, dan hidup layaknya ia berada di dunia nyata. Pertanyaannya sekarang adalah, mampukah pikiran kita ditransfer dalam bentuk digital dan membuat kita hidup di dunia yang benar-benar virtual nyaris selamanya (selama sistem tersebut masih ada)?

Barangkali, itulah solusi awet muda yang sebenarnya. Bukan dengan membuat tubuh biologis kita menjadi kebal akan usia. Namun membuat tubuh yang nyaris permanen untuk digunakan. Dan tubuh itu dapat berupa robot, seperti film fiksi ilmiah kebanyakan, atau yang jauh lebih permanen lagi adalah lautan data yang ada di dunia maya. Konsepnya sama dengan cloud computing. Kita tidak akan pernah tahu dimana diri kita ditransfer dan akan kemana. Yang kita tahu adalah, kita ada di lautan alam semesta data yang serba luas itu. Dan kita ada nyaris selama seluruh sistem itu masih ada.

Jalan menuju kesana masih sangat panjang. Sekarang saja, sebuah komputer belum mampu benar-benar membaca pikiran manusia saat ia melakukan scan didalamnya. Ketika seorang disuruh menggambarkan, katakanlah, burung di dalam kepalanya. Maka komputer baru mampu menangkap gambaran samar-samar dari objek terbang ketika kepala penggunanya di scan. Namun terobosan akan terus dilakukan dan setiap titik kemajuan adalah sebuah milestone baru di dalam tahap evolusi manusia. Bicara soal evolusi, barangkali memang evolusi ke depan kita tidak lagi dalam bentuk fisik, namun bentuk-bentuk nonfisik seperti disebutkan diatas. Entahlah, hanya waktu yang akan dapat menjawabnya.

Leave a Reply