Manusia Bukan Dari Kera

Ada sebuah diskusi menarik yang kebetulan saya baca di sebuah social media. Diskusi tersebut membahas tentang pro kontra adanya teori evolusi. Di satu pihak, orang menentang teori evolusi karena bertentangan dengan ajaran agama dan di sisi lain, orang mengatakan bahwa bukti-bukti teori evolusi itu sudah banyak sekali sehingga tidak bisa diabaikan. Mungkin ada baiknya kita sedikit menilik kembali beberapa fakta yang ada di balik teori evolusi yang dikatakan diciptakan oleh Charles Darwin.

evolution

Beberapa penemuan Darwin, atau beberapa generasi ilmuwan sesudahnya memang diambil dari sampel yang acak. Misalnya ada beberapa penemuan tengkorak manusia purba yang diambilkan dari simpanse atau beberapa spesimen lain yang salah kaprah. Tentu saja ini adalah bencana besar bagi sains. Metode yang sembrono ini tentu akan membuat penelitian ke depan menjadi jauh lebih sulit. Namun, di sini kita akan menemukan sebuah pembahasan menarik, yaitu manusia atau seluruh makhluk hidup sekarang berasal dari sesuatu yang lain?

“Manusia berasal dari kera!” Itulah yang selalu kita dengar dari berbagai macam ulasan yang kita baca. Sebuah pernyataan yang sebenarnya benar-benar menyinggung perasaan setiap manusia yang ada di dunia. Maukah kalian disamakan dengan binatang yang berjalan telanjang kesana kemari di tengah hutan dan tak tahu sopan santun?

Lucunya adalah, sebenarnya tidak pernah ada pernyataan “Manusia berasal dari kera!” Kesalahan itu berasal lebih dari translasi bahasa dari pada sebuah pemikiran. Kera di dalam bahasa Inggris adalah Monkey sedangkan yang dimaksud di sana adalah primata atau primate. Sebuah kelompok hewan yang terdiri dari genus lemur hingga (mungkin) manusia. Pada kenyataannya memang secara fisik, tidak ada pembeda luar biasa antara kera dan manusia. Namun bukan berarti manusia berasal dari evolusi kera. Kera dan manusia berasal dari satu garis evolusi yang sama.

Perbedaan DNA antara sipanse dan manusia itu nyaris hanya 1%. Dan dari perbedaan satu persen itu, muncullah sebuah garis pembatas yang sangat besar antara kita dengan golongan hewan yang katanya paling cerdas itu. Kita tidak akan pernah tahu, apa yang akan terjadi jika kita merubah DNA kita menjadi jauh lebih baik lagi daripada sekarang. Apakah kita masih tetap akan menjadi manusia yang ada sekarang ini? Atau menjadi sesuatu yang benar-benar berbeda?

Di dalam agama Islam, manusia pertama adalah Adam dan Adam diciptakan dari lumpur. Lumpur adalah unsur alam yang sebenarnya sangat natural untuk munculnya kehidupan. Bisa dikatakan adalah, jika anda ingin mencari terciptanya kehidupan di seluruh alam semesta ini, maka anda tinggal mencari adanya lumpur. Mengapa bukan air? Mengapa justru lumpur.

Lumpur setidaknya telah mencampur dua buah esensi yang vital untuk terbentuknya blok kehidupan paling sederhana. Carbon dan air, keduanya akan dikombinasikan untuk menghasilkan protein, asam amino atau penyusun-penyusun kehidupan lain yang kemudian jika dipadukan akan membentuk sebuah simpul DNA. Studi terakhir menyatakan bahwa kehidupan pertama di dunia ini berasal dari penggodokan lumpur selama jutaan tahun di bumi yang masih panas. Percampuran antara materi2 alam terjadi simultan selama jutaan tahun menciptakan blok kehidupan sederhana yang kita kenal sekarang ini mirip dengan alga atau lumut.

Bukan berarti memihak satu pihak dalam pertentangan antara evolusionist dan penentangnya. Teori evolusi belum sempurna, karena memang tidak ada ilmu pengetahuan yang sempurna hasil ciptaan manusia yang terbatas. Namun, dalam mengartikan tulisan agama, kita tidak seharusnya leterlek. Bukankah setiap kali kita diingatkan untuk selalu berpikir! Maka, penggalian informasi harus terus dilakukan. Pemikiran manusia tidak boleh berhenti dan pertanyaan-pertanyaan baru haruslah selalu muncul dari ide-ide yang segar.

Leave a Reply