Melirik Singapore Yang Bersih, Nyaman, Rapi, Namun… (1)

Bulan kemarin, tepatnya tanggal 17 – 21 November 2014, saya mendapatkan kesempatan dari perusahaan tempat saya bekerja untuk melakukan training di Singapore. Sebuah kota metropolitan di pulau kecil yang lembab dan panas. Setidaknya, begitulah kata orang-orang Inggris dahulu ketika mereka melakukan perjalanan ke kota pelabuhan kecil di ujung Malaka itu. Jujur saja, ini adalah perjalanan pertamaku keluar negeri. Dan saya cukup bersemangat karena akan menggunakan paspor saya untuk pertama kalinya.

Marina Bay Sands Singapore di Malam Hari

Marina Bay Sands Singapore di Malam Hari

Perjalanan dari Jakarta menuju Changi memakan waktu kurang lebih 1 jam 30 menit. Waktu yang kurang lebih sama untuk menempuh perjalanan dari Jakarta ke Bali. Cuaca tanggal 17 pagi cukup cerah, dan perjalanan yang saya lalui cukup nyaman tanpa ada kendala berarti. Satu hal yang menjadi catatan dari saya adalah, siapkan sebuah tas kecil berisi pulpen atau pena. Imigrasi mengharuskan anda untuk menuliskan beberapa pernyataan di pesawat.

Saat ini Changi mempunyai 3 terminal dan antara satu terminal dengan terminal lain dihubungkan dengan monorail. Sangat memudahkan passanger untuk berpindah terminal jika dia tersesat atau ingin menuju ke MRT yang berada diantara terminal 1 dan 2. Dari bandara, saya menuju Hotel di daerah Selegie di dekat Little India. Entah mengapa perusahaan vendor memilihkan tempat itu, padahal tempat training ada di daerah Kallang yang kurang lebih berjarak 3.4 km dari hotel tempat saya menginap. Barangkali ada kesalahan pemilihan tempat karena di dua lokasi tersebut sama-sama terdapat hotel Fragrance. Hotel, entah bintang berapa, yang berfasilitas, yahh, cukuplah…

Malam pertama di Singapore, saya dan rekan saya mencoba untuk berjalan kaki dari Hotel ke Marina Bay. Ya, jalan kaki! Kurang lebih jarak yang harus kami tempuh adalah 3.1 km. Cukup untuk membuat kaki saya panas berjalan di malam hari yang kurang lebih juga, panas!

Namun ada satu yang membuat saya cukup terkesan. Meskipun saya harus berjalan kaki di malam hari, di negeri asing pula, tapi tak ada sedikitpun rasa khawatir hinggap di pikiran saya. Trotoar dibangun dengan lebar dan cukup nyaman untuk dilalui. Lampu penerangan juga ditata sedemikian rupa sehingga menimbulkan rasa aman dan tenang. Setiap penyeberangan, ada alat khusus yang digunakan untuk mempercepat lampu hijau bagi penyeberang jalan. Dan ketika lampu hijau itu menyala, setiap pengendara kendaraan bermotor akan lebih memprioritaskan pejalan kaki, meskipun itu hanya satu orang saja yang lewat. Mana ada hal semacam ini di Indonesia.

Marina bay masih dipenuhi banyak orang pada malam hari itu. Padahal waktu sudah hampir menunjukan pukul sepuluh malam. Selain wisatawan ataupun orang yang ingin sekedar duduk-duduk menikmati pemandangan, ada juga orang-orang yang jogging untuk mencari keringat malam. Tempatnya lumayan nyaman, apalagi hujan baru saja turun sehingga udara terasa sangat sejuk. Pertunjukan warna-warni lampu kebetulan sedang berlangsung di Marina Bay Sands Hotel. Membuat tiga buah gedung yang menyangga struktur mirip kapal itu nampak indah berhiaskan cahaya. Sayangnya, pertunjukan itu hanya berlangsung singkat (atau mungkin saya yang terlambat datang ke sana).

Saya dan salah seorang rekan sempat mengambil beberapa gambar. Selain Marina Bay Sands, landspace skylane Singapore di sepanjang pantai adalah salah satu pilihan yang baik. Namun mengambil foto Merlion di malam hari dengan cahaya lampu yang bersinar terang di sekitarnya bukanlah sebuah perkara mudah. Apalagi hanya dengan berbekal sebuah kamera smartphone yang apa adanya. Hmmm, ya sudahlah, mungkin memang belum rejekinya dapat foto yang bagus di malam itu. Setidaknya, foto skyline yang saya ambil cukup dapat dibanggakan hasilnya.

Setelah puas berfoto ria, akhirnya saya memutuskan untuk pulang ke hotel. Kaki sudah mulai lelah dan rasanya malas sekali untuk berjalan. Waktu itu saya belum tahu sama sekali tentang MRT, bagaimana rutenya, dan harus lewat mana. Akhirnya, saya dan rekan saya memutuskan untuk kembali menggunakan taksi. Dan disinilah kami mulai sadar akan suatu hal yang mungkin tidak akan kami temui di Indonesia. Sopir taksi yang membawa kami adalah seorang manula. Siang tadi sebenarnya kami juga diantarkan sopir taksi yang sudah tua, namun saya berpikir, itu hanyalah sebuah kebetulan saja.

Sungguh aneh memang, di negara yang begitu terjamin kesejahteraannya, ternyata masih ada orang-orang tua yang harus bekerja bahkan hingga malam hari. Aku ingat, ketika kami makan di Burger King bandara siang tadi, pelayan-pelayannya kebanyakan jugalah manula-manula. Pembersih bandara juga seperti itu. Entah apa alasan mereka masih bekerja hingga usia dini seperti itu. Apa karena tuntutan hidup, atau karena hal yang lainnya (bersambung… )

Leave a Reply