Mengapa Jerman Babak Belur Di Soviet?

Dalam serangan Blitzkrieg selama dua tahun pertama Perang Dunia Ke 2, NAZI Jerman seperti tak terhentikan. Satu per satu negara Eropa tumbang seperti domino yang berjatuhan. Perancis yang bahkan mempunyai armada perang terbesar di dunia kala itupun tidak mampu berbuat banyak. Andaikan Inggris tidak dibatasi dengan laut atau andaikan Jerman mempunyai perkapalan yang cukup, maka negara Victoria itu pun barangkali akan bertekuk lutut pertengahan tahun 1941. Namun, mengapa kekuatan mesin perang Jerman yang kokoh itu tiba-tiba berhenti di tahun 1943 di sebuah kota kecil bernama Stalingrad?

Anindita Saktiaji - Jerman Operasi Barbarossa

Operasi Barbarossa – Jerman Menyerbu Uni Soviet (1941)

Kekuatan Jerman di awal perang memang menggagumkan, tentara dan Jendral merekapun terlatih dengan begitu baiknya. Hal ini bukan karena pengaruh NAZI yang sebenarnya baru berkuasa pada tahun 1933, namun lebih karena tradisi militer mereka yang panjang.

Prussia (kerajaan Jerman pada abad pertengahan hingga 1871) adalah salah satu kerajaan Eropa dengan pelatihan profesional militer terbaik. Salah satu raja yang terkenalnya, Frederick The Great – Frederick Agung – Frederick Der Grosshe, adalah salah seorang reformis militer yang kemudian modelnya dianut oleh seluruh kerajaan di Eropa.

Tidak seperti Perang Dunia 1, Perang Dunia 2 benar-benar membuat Jerman babak belur di akhir Perang. Sebagai catatan saja, ketika Perang Dunia 1 (The Great War) berakhir, pasukan negara itu sebetulnya masih utuh. Tidak ada satupun wilayah Prussia lama (kecuali daerah koloni) yang diduki oleh musuh. Bahkan Jerman memperoleh kemenangan besar di Russia, membuat negara yang sedang dilanda pemberontakan Bolshevik itu menyerahkan wilayah2 yang kini kita sebut sebagai Polandia.

Namun, keadaan berbeda ketika Jerman memasuki Operasi Barbarossa tahun 1941. Negara itu tidak sedang berperang dengan Perancis karena negara itu sudah setahun lamanya takluk di bawah bendera swastika. Dan 3,6 juta pasukan menyerbu beruntun ke medan perang Russia yang maha luas. Mencoba menaklukan negeri itu yang sama sekali tidak pernah tertaklukan di dalam sejarah (kemenangan Jerman atas Rusia pada Perang Dunia 1 lebih disebabkan karena konflik internal – dan Jerman sama sekali tidak menyerbu Rusia).

Namun, dalam penyerbuan Jerman ke Soviet itu tidak memperhatikan beberapa unsur. Pertama, Jerman tidak mempersiapkan perang berkepanjangan dan berharap sekali pada kemenangan singkat Blitzkrieg seperti yang terjadi di Eropa Barat. Pada awalnya, Jerman memang nampak sekali di atas angin. Mereka menerobos pertahanan Soviet bahkan hingga ke pintu gerbang Moskow. Namun,waktu yang dibutuhkan ternyata jauh di luar perkiraan. Jerman belum juga menerobos pintu ibukota Soviet itu ketika musim dingin menjelang sekitar November dan Desember tahun 1941. Dan musim dingin Rusia itu bukanlah sebuah hal yang bisa dianggap enteng.

Pasukan Rusia pada tahun 1941 tidak mempunyai perlengkapan perang secanggih dan selengkap yang dimiliki Jerman. Namun mereka mempunyai peralatan pertahanan yang begitu superior dibandingkan dengan penyerbu NAZI yaitu pakaian musim dingin mereka. Pakaian perang Jerman terlihat necis dan trendi, namun pakaian itu sama sekali tidak berguna melawan dinginnya salju Rusia. Sebaliknya, pakaian pasukan Soviet terlihat asal-asalan, lebih seperti pemain ski daripada seorang tentara. Namun, pakaian itu benar-benar berguna. Mereka dapat melewati musim terdingin di Soviet bahkan tanpa harus menghangatkan diri di tempat khusus.

Estimasi menunjukan bahwa 300-600 ribu pasukan Jerman harus harus kehilangan nyawa atau tidak mampu lagi bertempur disebabkan oleh efek langsung maupun tidak langsung dari musim dingin di tahun 1941. Sebuah jumlah yang luar biasa besar bahkan bagi ukuran perang dunia ke 2. Jumlah tersebut mungkin saja dapat digantikan pada musim panas berikutnya, namun tidak dengan pengalaman para pasukan itu. Beberapa korban diantaranya adalah pasukan-pasukan veteran yang telah ikut serta dalam penyerbuan Polandia dan Perancis. Dan pengalaman seperti itu terbukti sangat berguna untuk medan perang Rusia yang jauh lebih buas.

Selain meremehkan musim dingin Rusia yang mencekam, Jerman juga meremehkan kapasitas produksi negeri sosialis itu. Mereka mengestimasi bahwa Rusia hanya mampu memproduksi paling banyak seratu tank saja setiap bulan, padahal mereka dapat memproduksi hingga mencapai lima ratus buah dalam sebulan. Memang kualitas tank yang mereka produksi tidaklah begitu mencengangkan, namun tetap saja, tank adalah tank, apapun bentuknya. Rusia juga mampu memproduksi pesawat tempur, terutama pembom tukik yang cukup mumpuni. Namun diatas semua itu, produksi Rusia yang paling mengerikan adalah Artileri mereka. Ciri khas peperangan timur di akhir babak Perang Dunia 2 adalah hujan artileri.

Tentara Merah selalu menghujani Wehrmacht dengan bom artileri mereka sebelum menyerbu dengan kekuatan darat. Dari serangan artileri ini, jika tidak mampu menghancurkan posisi musuh seluruhnya, setidaknya mampu untuk menghancurkan mental mereka. Banyak laporan, tentara yang menjadi gila karena terjebak di dalam hujan artileri selama berjam-jam lamanya, meskipun tak ada satupun serpihan peluru yang hinggap ditubuhnya.

Kesalahan fatal lain adalah, kacaunya strategi untuk penyerangan Rusia. Ketika akan menyerbu Perancis, Wehrmacht tahu persis kota-kota apa yang harus dihancurkan terlebih dahulu, mana titik-titik pertahanan yang penting, dan di tempat mana pasukan Jerman harus menyerang untuk membuat kaget pasukan lawan. Namun di Rusia, mereka bekerja seperti buldozer penghancur, mereka hanya maju, tak peduli kota apa dan seperti apa kontur wilayahnya. Ini ternyata terbukti fatal, seperti ketika terjadi pengalihan pasukan besar-besaran ke selatan pada akhir tahun 1941. Padahal pasukan tersebut seharusnya dapat menggambil Moskva pada akhir tahun itu juga.

Jalur suplai di Rusia adalah kekacuan lain lagi. Jerman harus mensuplai jutaan pasukannya pada jalur seluas empat kali Perancis. Itu merupakan mimpi buruk bagi seluruh anggota logistik militer Jerman. Ketika musim panas, debu menggepul dari jalanan Rusia yang tidak beraspal, dan ketika musim dingin tiba, es atau lumpur menutupi setiap sudut.

Leave a Reply