Mengapa Kita Tidak Peduli Dengan Perubahan Iklim?

Bumi, planet yang kita tempati sedang berubah. Tiap saat, emisi karbon memenuhi langitnya dan membuat permukaan planet ini kian panas. Kutub di utara dan selatan bumi sedikit demi sedikit mulai terkikis. Dan gurun-gurun semakin lama semakin melebar. Yang lebih mengkhawatirkan, hanya sedikit dari kita yang merasa terganggu dengan fakta itu. Kita mengganggap bahwa perubahan iklim tidak mempunyai dampak langsung terhadap masa sekarang. Perubahan Iklim adalah sebuah bencana yang barangkali akan mempunyai solusi hebat untuk mengatasinya di masa mendatang. Benarkah seperti itu?

Climate Change (http://www3.epa.gov/climatechange/basics/facts.html)
Climate Change (http://www3.epa.gov/climatechange/basics/facts.html)

Saya pernah mendengar pernyataan, “perubahan iklim akan merubah permukaan bumi. Ya es akan mencair dan beberapa permukaan bumi akan tertutupi oleh air. Namun tidak seluruhnya tenggelem bukan? Kita masih dapat menghuni beberapa bagian dari bumi. Mungkin di dataran tinggi, mungkin di tengah benua. Lagipula, tidak lebih dari 30% daratan akan tenggelam akibat mencairnya kutub utara dan selatan.” – Jika memang faktanya demikian, apa yang seharusnya kita khawatirkan?

Patrick Moore, salah satu pendiri Greenpeace yang sekarang sudah mengundurkan dirinya menyatakan bahwa “Perubahan iklim bukan disebabkan manusia, perubahan iklim terjadi setiap saat. Bahkan di saat cambrian era, perbuhan tersebut disebabkan oleh emisi karbon yang dikeluarkan oleh tumbuhan di waktu itu.” Dan menurut dia, emisi karbon yang dihasilkan jauh lebih besar daripada yang dihasilkan manusia sekarang ini.

Ditambahkan lagi oleh Patrick Moore, bahwa CO2 yang dihasilkan oleh kendaraan dan industri manusia itu baik untuk pertumbuhan tanaman. Dia berargumen bahwa, CO2 adalah makanan yang baik bagi tumbuhan. Dan data satelit (tanpa menyebutkan satelit mana) menunjukan bahwa dekade ini, tanaman menunjukan perkembangan yang signifikan. Masih menurut Patrick Moore, pertumbuhan makanan ini sangat berperan di dalam konsumsi manusia ke depan. Karena dalam 50 tahun saja, jumlah manusia akan meningkat dua kali lipat daripada sekarang. Link video tentang pembahasan Patrick Moore tersebut dapat dilihat di sini dan di sini

Bertolak belakang dengan Patrick Moore, yang selain mantan pendiri Greenpeace juga seorang PHD di bidang ecologi. Di tahun 2010, Research Council mengeluarkan kesimpulan bahwa “Climate change is occurring, is very likely caused by human activities, and poses significant risks for a broad range of human and natural systems.” di dalam chart diatas digambarkan simulasi yang mengindikasikan bahwa aktivitas manusia memang mempengaruhi climate change. Bahan bakar energi untuk pembangkit listrik, industri, dan kendaraan adalah contoh hasil karya manusia yang sangat berpengaruh terhadap perubahan iklim. Apalagi jika energi-energi itu diperoleh dari hasil bahan-bahan yang tidak ramah lingkungan.

Bahan-bahan yang tidak ramah lingkungan seperti batu-bara dan minyak bumi relatif mudah diperoleh. Hasil konversi energinya-pun tidak membutuhkan banyak pikiran manusia. Akan tetapi residu yang dihasilkan berupa CO2 sangatlah buruk, dan residu itu kian lama kian menumpuk di atmosfer kita. Data per November 2015 dari satelit NOAA menunjukan bahwa kadar CO2 sudah berada di level 400,16 ppm (parts per million). Keadaan ini memang masih jauh dibandingkan dengan akhir Cambrian Era dimana level CO2 berada di kisaran 4,000 ppm.

Jadi, apakah kadar CO2 sekarang masih aman untuk manusia? Perlu diketahui sebelumnya bahwa Cambrian era terdapat mass extinction – kepunahan massal. Dan kepunahan massal ini belum jelas asal muasalnya. Ilmuwan ada yang berspekulasi tentang jatuhnya asteroid ke bumi, seperti yang terjadi di akhir masa dinosaurus. Tapi tertuduh sekarang justru mengarah ke CO2 yang dihasilkan secara alami, dan juga bisa dihasilkan oleh tumbuh2an hijau yang sedang berkembang di waktu itu. Referensi tambahan untuk kepunahan massal tersebut ada di sini.

Ilmuwan sendiri masih berhati-hati dalam menyimpulkan masalah ini. Namun yang jelas, langkah beberapa pemerintah dunia untuk mulai menganti sumber energi mereka ke arah yang lebih ramah lingkungan patut diapresiasi. Saya sendiri lebih menyukai hidup di alam yang berudara baik, daripada yang penuh dengan emisi gas buangan. Bagaimana dengan anda semua?

 

Leave a Reply