Mitos Russia Yang Tak Terkalahkan

Russia adalah sebuah negara yang selalu berada di dalam kancah politik dan pertempuran Eropa. Bagi tetangga sesama negara Eropa, Russia selalu berada dalam posisi yang rumit. Ia dianggap sebagai sebuah momok tersendiri baik secara geografis maupun secara manpower. Sebuah negara tak bisa dikatakan mendominasi Eropa tanpa sebelumnya mampu menaklukan atau setidaknya beraliansi dengan negara itu.

Lukisan Kehidupan Pada Masa Kievan Rus

Selama berabad-abad, Kievan Rus bertransformasi dari sebuah Principality kecil yang memberi upeti kepada Mongol, menjadi sebuah kekuatan besar yang tak dapat dianggap enteng. Mereka berhasil menaklukan bangsa-bangsa nomaden, yang sebelumnya notabene tak mampu tertaklukan oleh dinasti-dinasti Timur. Kekaisaran China selalu mempunyai mimpi untuk menaklukan bangsa2 pengelana itu. Namun justru merekalah yang lebih sering takluk dalam keganasan tentara berkuda yang tak terbendung. Dalam usaha keputus-asaan, dinasti demi dinasti China mencoba membangun benteng pertahanan yang terus menerus disempurnakan. Sebuah tembok yang kita kenal sebagai The Great Wall of China.

Penaklukan demi penaklukan yang Russia lakukan ke arah Siberia bukanlah sebuah ekspedisi militer yang mudah. Dan dengan kekuatan manusia mereka yang terus bertambah, seolah mereka menjadi kekuatan tak terkalahkan. Tetangga mereka di Timur Tengah, Eropa Timur, dan Asia Tengah merasa Russia menjadi ancaman yang nyata. Dan tak sedikit pertempuran atara kekuatan baru Russia dengan Kekaisaran seperti Ottoman dan Kerajaan-kerajaan Asia Tengah berakhir dengan kekalahan tragis bagi lawan Russia.

Reputasi tentara Russia yang begitu militan dan tak takut mati sudah terlihat di sini. Mereka mampu mengumpulkan manusia dengan jumlah begitu banyak sehingga sekilas mereka mempunyai jumlah tentara nyaris tak terbatas. Itu saja sudah cukup membuat gentar lawan-lawan mereka. Sistem serfdom yang menyebar di Russia barangkali adalah salah satu faktor utama. Sistem ini mungkin mirip perbudakan, namun lebih halus. Orang menjual kemerdekaannya untuk mengabdi kepada salah seorang bangsawan, atau tuan tanah, dengan imbal balik ia mendapatkan makan, tempat tinggal, dan perlindungan. Mereka bisa juga direkrut untuk menjadi tentara. Dan dengan menjadi tentara, terkadang orang-orang yang menjadi korban serfdom ini mampu membeli kebebasan mereka. Entah dengan harta rampasan perang atau karena ia dianggap berjasa.

Ada satu hal lucu akhir-akhir ini, kekalahan Tim Nasional Sepak Bola Jerman di Piala Dunia Russia tahun 2018 kemarin memunculkan sebuah retorika unik. Jerman dianggap selalu kalah di Russia, baik itu di Perang Dunia maupun di Piala Dunia. Meme (gambar lucu) tentang kekalahan Jerman itupun beredar luas di internet. Seolah mengukuhkan bahwa memang Russia tak terkalahkan, terutama jika berperang di negaranya sendiri.

Napoleon dan Hitler, dua orang dengan tentara paling baik di jamannya harus bertekuk lutut di hadapan Russia. Begitulah ujaran-ujaran yang muncul di mana-mana. Seolah dua kekuatan paling besar di jamannya itu tak mampu untuk menghadapi ulet dan tangguhnya orang-orang Russia.

Apakah benar faktanya seperti itu?

Jika menilik Hilter dan Napoleon saja, maka benar adanya jika Russia memang mampu menghalau dua kekuatan besar itu dari tanahnya. Kutuzov dan Zhukov (dkk) adalah dua Jenderal yang memimpin pasukan Russia menuju kemenangan di 1812 dan 1945.  Hanya saja, sejarah tentu bukanlah selembar atau dua lembar tulisan yang mampu dibaca dalam waktu singkat. Sejarah selalu menyimpan kerumitannya sendiri yang selalu menarik untuk diselami.

Pertama, kekalahan Napoleon adalah buah dari kegagalan Jendral besar itu untuk membaca situasi. Ini unik, karena kesalahan seperti ini jarang Napoleon lakukan sepanjang karirnya. Setelah berhasil menduduki Moskva, Napoleon bersikeras untuk terus berada di kota itu. Padahal musim dingin semakin mengganas dan jalur logistik Le Grande Armee semakin tipis. Ditambah lagi, kota Moskva sendiri sudah luluh lantah di bumi hanguskan sehingga tidak mempunyai nilai strategis bagi Napoleon.

Mengapa ia melakukan itu? Entahlah.

Mungkin Napoleon ingin menunjukan secara simbolis kepada dunia bahwa ia berhasil menaklukan Ibu Kota Russia. Dan dengan begitu maka ia akan menaikan prestise dan menghancurkan moral penduduk Russia. Sebuah kesalahan besar yang seharusnya tidak ia lakukan. Dan sebuah kesalahan besar yang akan diulang kembali lebih dari seratus tahun berikutnya oleh Hitler.

Di tahun 1942, Hitler bersikeras untuk merebut kota Stalingrad. Mengapa? Karena kota tersebut mempunyai nama Stalin di dalamnya. Merebutnya berarti menghancurkan harga diri Stalin dan ia harap akan meruntuhkan moral pasukan Soviet. Sebuah rencana yang sebenarnya tidak buruk. Hanya saja terdapat satu masalah.

Setelah kegagalan Jerman merebut Moskva di tahun 1941, Wehrmacht berada pada posisi yang kurang menguntungkan. Mereka terlibat pertempuran dengan front yang terlalu lebar. Melindungi setiap front dengan sama kuat berarti juga melindungi front dengan sama lemahnya. Dan Stalingrad berada pada posisi di mana tentara Jerman sendiri tak mampu sepenuhnya melindungi seluruh sektor front. Akibatnya, mereka menggunakan kekuatan negara-negara satelit mereka seperti Bulgaria, Romania, dan sebagainya. Tentara negara-negara satelit itu tidak dibekali dengan peralatan memadai, belum lagi mereka tidak melalui pelatihan yang cukup. Akibatnya sudah dapat ditebak, di sektor merekalah pertahanan Jerman jebol.

Oke, cukup sampai di sini cerita tentang Napoleon dan Hitler. Intinya adalah, benar jika mereka kalah melawan tentara Russia. Atau tentara Kekaisaran Russia dan Soviet lebih tepatnya. Namun apakah benar, tentara Russia sebegitu kuatnya sehingga tak pernah terkalahkan?

Jika kita lihat hanya dua puluhan tahun sebelum Perang Dunia 2, kita sudah dapat menemukan jawabannya. Dalam Perang Dunia 1, tentara Russia yang mempunyai keunggulan strategis terhadap Kekaisaran Jerman toh ternyata harus keluar dari kancah pertempuran terlebih dahulu. Russia di kala itu sedang dalam taraf kacau balau. Ekonominya terbelakang dibandingkan dengan tetangga mereka sesama Eropa. Belum lagi rakyatnya merasakan ketimpangan yang cukup besar. Kaum bangsawan menikmati hampir seluruh kekayaan negeri itu, sedangkan kaum jelata merana.

Pertempuran Laut Tsushima tahun 1905

Belum jauh dari Perang Dunia 1, Russia juga harus bertekuk lutut terhadap Jepang di tahun 1905. Pertempuran yang terkenal dengan Pertempuran Tsushima itu membuat angkatan laut Russia harus mengakui keunggulan angkatan laut Jepang yang baru berusia muda. Pertempuran Tsushima adalah salah satu babakan dari Perang Jepang Russia yang berlangsung dari 1904 hingga 1905. Dan hasil dari perang tersebut adalah Russia harus hengkang dari Manchuria, membiarkan Imperium Jepang mendominasi kawasan Asia Timur.

Dalam pertempuran modern-pun tentara Russia bukan tanpa cacat. Pertempuran panjang di Afganistan adalah salah satu contoh kegagalan negeri Beruang merah itu. Mereka gagal menaklukan gerilyawan Mujahidin, terlepas dari banyaknya sokongan terhadap gerilyawan itu.

Ketika kita kembali ke abad pertengahan, Russia juga tidak sepenuhnya perkasa. Di masa kejayaan Mongol, kekuasaan pengendara kuda itu sampai ke Eropa timur. Alih-alih menentang para agresor, beberapa Principality Russia memilih untuk membayar upeti kepada tentara Temujin (Temujin adalah nama lain Genghis Khan). Dengan bersujud di bawa kaki Mongol, sebagian negara-negara Russia mampu menghindari pembantaian.

Jadi, apakah benar Russia tidak bisa dikalahkan?

Jawabannya tentu saja tidak. Russia seperti Bangsa dan Negara lain dapat dikalahkan. Hanya saja, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi. Pertama adalah waktu. Russia dapat dikalahkan pada saat tentaranya lemah, dan kekuatannya sebagai bangsa sedang terpecah. Hal itu nampak pada masa kekuasaan Mongol. Waktu itu Russia terbagi menjadi domain-domain kecil, dimana pemerintahan pusat tidak kuat atau nyaris tidak ada. Pada masa Perang Dunia 1 dan Perang melawan Jepang-pun demikian. Kehidupan masyarakat juga sedang tidak pada masa puncaknya. Banyak orang yang merasa tidak percaya dengan pemerintahnya, dan merasa bahwa mereka ditinggalkan. Banyak tentara yang akhirnya desersi, dan memilih untuk bertempur demi ideologi yang menurut mereka tepat. Ideologi yang nanti akan membawa Russia menjadi Soviet.

Kedua, taktik dan persiapan yang tepat. Baik Hitler maupun Napoleon sebenarnya nyaris mampu menguasai Russia. Hanya saja ada beberapa kesalahan taktis dan persiapan yang kurang diperhitungkan sebelumnya. Hitler dan Napoleon sama-sama kurang memperhitungkan musim dingin di Russia. Musim dingin yang hebat di Russia membuat jalur supplay pasukan mereka payah. Hitler juga kurang mempertimbangkan taktik untuk menggandeng Bangsa-Bangsa pecahan Russia seperti Belorussia dan Ukraina. Selama bertahun-tahun, etnis-etnis tersebut berada di dalam keadaan yang kurang menguntungkan di bawah kekuasaan Stalin. Akan jauh lebih mudah untuk menjadikan mereka sekutu daripada ikut melakukan opresi terhadap bangsa tersebut. Taktik memecah belah itu pernah berhasil di Perang Dunia 1. Di mana Jerman membiarkan Lenin untuk melakukan kudeta dari dalam.

 

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.