Opini : Sumber Energi Galaksi

Galaksi, tempat ratusan juta bintang bermukim dan mungkin milyaran benda angkasa lain seperti planet bertengger adalah sebuah tempat yang begitu misterius. Ilmuwan telah melakukan studi panjang untuk melakukan pendekatan ilmiah tentang bagaimana sebuah galaksi dalam melangsungkan proses hidupnya. Galaksi Bima Sakti atau Milkyway telah muncul kurang lebih sepuluh milyar tahun yang lalu. Dan selama masa hidupnya tersebut, galaksi ini terus-menerus memperbaruhi roda hidupnya. Ia berotasi, berputar dalam sebuah arus yang stabil selama milyaran tahun dan terus mempunyai sebuah pendorong yang membuatnya menjauh dari sebuah titik yang diperkirakan sebagai titik awal terjadinya big bang.

Galaxy Dark Matter

Di alam semesta ini terdapat dua jenis galaksi yang kita ketahui. Pertama adalah galaksi yang berbentuk spiral. Galaksi spiral adalah galaksi yang bentuknya mirip pusaran air dengan sebuah titik tengah sebagai pusat rotasinya. Wilayah tengah adalah wilayah yang sangat padat dengan bintang-bintang dan benda angkasa lain. Semakin menjauh dari pusat, maka kepadatannya akan sedikit demi sedikit mulai berkurang dan justru membentuk sebuah lengan-lengan kosmik. Galaksi jenis spiral rata-rata berusia lebih muda dibandingkan dengan jenis galaksi yang kedua yaitu galaksi oval.

Galaksi dengan bentuk oval adalah galaksi yang rata-rata sudah tua atau merupakan perpaduan dari satu atau lebih galaksi yang saling bertubrukan. Galaksi ini jika dari kejauhan berbentuk seperti bongkahan bola gas yang bercahaya. Galaksi ini tidak mempunyai inti seperti galaksi spiral yang berkitar pada pusatnya. Ketiadaan inilah yang menyebabkan pusat galaksi tidak dapat ddiketahui secara pasti. Berbeda halnya dengan galaksi spiral yang mempunyai inti berupa pusaran. Para ahli memprediksi bahwa di dalam inti pusaran inilah terdapat sebuah black hole atau lubang hitam. Hanya saja, di dalam inti sebuah galaksi terdapat “Supermassive Black Hole”

Black Hole atau lubang hitam adalah fenomena alam biasa yang sebenarnya terjadi setiap saat di sekitar kita. Teori ini pertama kali diluncurkan oleh Albert Einstein akibat dari teori relativitas yang ia ciptakan. Black hole adalah sebuah contoh menarik di mana sebuah entitas tidak terikat pada hukum fisika klasik. Hukum fisika klasik adalah hukum fisika yang dicetuskan pada abad pencerahan di mana salah satu pionirnya adalah Newton. Black Hole adalah sebuah contoh di mana hukum relativitas dapat di terapkan dengan sebaik-baiknya.

Hal yang unik dari black hole adalah, ilmuwan belum pernah menemukan satupun black hole yang terbentuk secara alami. Bukan karena black hole itu tidak ada, namun karena black hole itu sangatlah sulit untuk di deteksi. Dari namanya saja, kita tahu bahwa black hole itu sangat gelap, dan karena sifatnya yang gelap itu maka untuk mendeteksinya dibutuhkan kerja keras. Satu-satunya cara adalah ketika black hole itu sedang menghisap sebuah partikel cahaya yang masuk ke dalamnya. Maka sebuah semburat linkaran pusaran akan nampak dalam hitungan seper sekian detik. Lain cara, belum diketemukan hingga saat ini.

Lubang Hitam raksasa atau yang sering disebut dengan “Supermasive Black Hole” diyakini oleh para astronom berada di pusat setiap galaksi, terutama galaksi-galaksi muda yang masih berbentuk spiral. Beberapa bukti seperti foto-foto kilatan cahaya yang membentuk sebuah kilatan melingkar dan berevolusinya (berputar menggelilingi sebuah titik tertentu) bintang-bintang di pusat galaksi secara ekstrim menjadi penguat pendapat para astronom tersebut. Fenomena itu memang belum dapat dipastikan sebagai bukti bahwa Black Hole terdapat di tengah setiap galaksi spiral. Namun setidaknya, ada arah tujuan pasti di mana setiap astronom dapat mencari hal yang ingin mereka temukan.

Lubang Hitam selain dipercaya berada di pusat galaksi juga dapat terbentuk melalui sebuah ledakan bintang. Ledakan bintang atau yang sering kita sebut sebagai supernova adalah fenomena alam yang sebenarnya relatif mudah untuk diamati dari sisi astronomi. Dan dari hasil beberapa foto infra merah, terdapat sebuah ruang gelap setelah supernova terjadi. Ruang gelap inilah yang dipercaya sebagai.

Lubang hitam barangkali adalah sebuah misteri dalam cosmos yang masih belum dapat dipenuhi sepenuhnya, namun terdapat sebuah misteri lain yang jauh lebih besar menanti. Alam semesta ini terdiri dari bermacam benda-benda dan partikel, hanya saja jika seluruh partikel itu digabung, maka masih ada 2/3 bobot alam yang belum diketahui. 2/3 bobot itu sebagian adalah bobot “yang diperkirakan” sebagai material gelap atau dark matter.

Dark matter adalah sebuah partikel yang unik. Keberadaannya belum dapat dipastikan, namun dengan jelas kita dapat mengamati keberadaannya. Tanpa dark matter, ilmuwan percaya bahwa alam semesta ini akan seterang siang hari karena cahaya bintang-bintang yang berpancar dengan sangat terangnya.

Pertanyaannya, apakah fungsi yang sebenarnya dark matter ini? Apakah ia hanya salah satu unsur yang melingkupi alam semesta atau justru unsur ini yang membentuk pergerakan dan sebagai sumber utama berjalannya alam ini. Seperti halnya nitrogen, unsur udara terbesar di dunia, ia adalah salah satu sumber utama energi di dunia yang membuat makhluk hidup dapat bertahan dan melangsungkan kehidupannya. Hal semacam itu barangkali juga muncul dalam sistem kehidupan alam semesta.

Dark Matter barangkali adalah sumber energi utama di alam semesta dan oleh sebab itulah, muncul teori menggenai dark energy. Dark Energy diharapkan dapat menutup kekurangan jeda ruang di alam semesta karena meskipun telah dilingkupi dark matter, alam semesta masih kekurangan 1/3 bobotnya. Dark energy kemungkinan adalah pengisi dari kekosongan yang ada.

Sudah kita ketahui bahwa alam semesta ini tidaklah dalam keadaan “steady state.” Alam semesta ini bergerak menjauh dari sebuah titik tertentu. Titik inilah yang kemungkinan besar merupakan titik awal terjadinya big bang. Dari titik bigbang, alam terus menerus membesar, seiring dengan perbesaran terhadap ruang dan waktu. Sebuah pergerakan pastilah membutuhkan energi dan setiap energi pasti membutuhkan sumber energi yang membuatnya terus dapat melakukan gerakan, membentuk kecepatan bahkan percepatan.

Lalu apa kegunaan dari dark energy? “Kemungkinan besar” energi inilah yang membuat alam semesta ini tetap bergerak. Pergerakan alam semesta ini ditopang oleh bahan bakar “dark matter” yang menghasilkan “dark energy” paling tidak begitulah yang dapat diperkirakan para ilmuwan sekarang ini. Dark energy berperan sangat central didalam perkembangan alam ini. Jika dark energy habis, maka pertarungan antara gravitasi dan dark energy akan dimenangkan oleh gravitasi. Jika gravitasi menang dan menggambil alih kekuatan utama pendorong alam semesta, maka yang terjadi adalah “Big Crunch” atau penyusutan besar-besaran alam semesta.

Big Crunch akan membuat alam semesta bergerak mundur. Artinya, ia akan kembali kepada titik awal terjadinya Big Bang. Bukan suatu hal yang mustahil jika alam semesta akan kembali ke dalam keadaan di mana ia hanya sekecil partikel. Persis sama dengan keadaannya tepat sebelum big bang terjadi.

Galaksi sudah kita ketahui bergerak bahkan bukan dalam kecepatan yang semakin melambat, namun dalam percepatan yang semakin meningkat. Lalu pertanyaannya, sumber energi apa yang membuat galaksi mampu terus menerus bergerak?

Hubungan antara lubang hitam dengan dark matter mungkin jauh lebih dekat dari yang kita bayangkan sebelumnya. Ibaratnya, dark matter adalah air, lubang hitam adalah pusaran dan galaksi adalah buih. Yang menyebabkan pusaran tetap dapat terbentuk adalah tubrukan dari dua arus aliran dark matter yang datang dari arah yang berbeda. Dan diatas dari pusaran itu adalah buih, yang dalam sistem sesungguhnya merupakan kumpulan planet dan bintang-bintang. Sebuah buih akan tetap dapat melanjutkan rotasinya selama pusaran tetap ada, dan pusaran tetaplah ada selama arus air dari arah yang berlawanan. Dengan begitu, salah satu penunjang penting energi pergerakan galaksi bisa dibilang adalah dark matter itu sendiri.

Galaxy

Sebuah galaksi akan tetap berotasi dan mengalami percepatan selama dark matter masih tersedia di alam semesta. Dark matter akan dikonversi menjadi dark energy sesuai pergerakan dan kebutuhan dari masing-masing galaksi di alam ini. Pertanyaan yang menarik sekali lagi adalah, sampai kapam dark matter masih tersedia di alam semesta? Dan apabila dark matter sampai habis, apa yang akan terjadi di alam semesta ini. Kemungkinan ada dua macam, pertama big crunch yang sudah dijelaskan di atas. Kedua adalah keadaan “Steady State” yang hampa. Artinya, tidak ada tenaga pendorong, tidak ada panas dan alam akan stag pada keadaan yang diam dan mati perlahan-lahan.

Jika kita melihat perumpamaan buih, pusaran dan arus air maka kita dapat melakukan sebuah percobaan sederhana ketika arus air berhenti. Awalnya galaksi masih dalam keadannya semula, hanya saja diam, lama kelamaan-kelamaan buih akan terpecah dan hilang ditelan oleh gravitasi. Barangkali perumpamaan itu benar-benar mencerminkan apa yang akan terjadi pada alam semesta ketika ia kehabisan energinya. Energi alam yang menggerakan alam semesta membuatnya tetap berada di jalur evolusinya. Apabila tenaga itu habis, maka habislah juga alam semesta. Kemungkinan besar kekuatan alam semesta untuk berkembang juga akan habis.

3 Comments

Leave a Reply