The World Is Not Enough

Sejak awal, manusia selalu ingin menjelajah alam di sekitarnya. Dari padang rumput Afrika yang luas, nenek moyang kita telah berpindah melewati gurun-gurun yang kering untuk mencari tempat mencari makan yang lebih baik di Bulan Sabit Subur. Lalu dari tempat peradaban purba itu, manusia terus dan terus mendobrak perbatasan mereka hingga ujung dunia.

Anindita Saktiaji - Earth

Cerita-cerita dan kisah masa lalu manusia dipenuhi dengan semangat penjelajahan. Semangat untuk menemukan tempat kehidupan baru, semangat untuk mendapatkan penghidupan yang lebih baik, atau sekedar mencari tempat mengisi perut yang baru. Beragam motivasi, beragam keinginan mendorong manusia untuk selalu berpindah. Kadang rempah-rempah, terkadang pula emas, atau motivasi-motivasi keagamaan (seperti migrasi besar-besaran tentara salib).

Anindita Saktiaji - Mars Teraforming

Proses Teraforming Planet Mars

Namun ke depan, manusia tidak lagi mencari tempat hunian baru di planet asal kita. Lima milyar manusia sudah terlalu sesak memenuhi bumi yang mempunyai luas permukaan 510.072.000 km2. Sekarang kita mulai berpikir, apakah ada tempat di luar sana yang dapat kita tinggali? Atau setidaknya, adakah tempat di luar sana yang mempunyai “potensi” untuk dapat kita ubah sebagai hunian.

Kandidat pertama adalah planet tetangga kita, Mars. Mars, planet merah yang gersang itu, konon dahulu mempunyai atsmosfer yang jauh lebih bersahabat untuk mendukung kehidupan. Disinyalir pula, kehidupan pada level rendah pernah ada di planet Mars. Sedikit diragukan apakah kondisi planet Mars mampu mendukung kehidupan kompleks seperti manusia atau hewan di masa-masa sekarang.

Continue reading →

Mengapa Jerman Babak Belur Di Soviet?

Dalam serangan Blitzkrieg selama dua tahun pertama Perang Dunia Ke 2, NAZI Jerman seperti tak terhentikan. Satu per satu negara Eropa tumbang seperti domino yang berjatuhan. Perancis yang bahkan mempunyai armada perang terbesar di dunia kala itupun tidak mampu berbuat banyak. Andaikan Inggris tidak dibatasi dengan laut atau andaikan Jerman mempunyai perkapalan yang cukup, maka negara Victoria itu pun barangkali akan bertekuk lutut pertengahan tahun 1941. Namun, mengapa kekuatan mesin perang Jerman yang kokoh itu tiba-tiba berhenti di tahun 1943 di sebuah kota kecil bernama Stalingrad?

Anindita Saktiaji - Jerman Operasi Barbarossa

Operasi Barbarossa – Jerman Menyerbu Uni Soviet (1941)

Kekuatan Jerman di awal perang memang menggagumkan, tentara dan Jendral merekapun terlatih dengan begitu baiknya. Hal ini bukan karena pengaruh NAZI yang sebenarnya baru berkuasa pada tahun 1933, namun lebih karena tradisi militer mereka yang panjang.

Prussia (kerajaan Jerman pada abad pertengahan hingga 1871) adalah salah satu kerajaan Eropa dengan pelatihan profesional militer terbaik. Salah satu raja yang terkenalnya, Frederick The Great – Frederick Agung – Frederick Der Grosshe, adalah salah seorang reformis militer yang kemudian modelnya dianut oleh seluruh kerajaan di Eropa.

Tidak seperti Perang Dunia 1, Perang Dunia 2 benar-benar membuat Jerman babak belur di akhir Perang. Sebagai catatan saja, ketika Perang Dunia 1 (The Great War) berakhir, pasukan negara itu sebetulnya masih utuh. Tidak ada satupun wilayah Prussia lama (kecuali daerah koloni) yang diduki oleh musuh. Bahkan Jerman memperoleh kemenangan besar di Russia, membuat negara yang sedang dilanda pemberontakan Bolshevik itu menyerahkan wilayah2 yang kini kita sebut sebagai Polandia.

Namun, keadaan berbeda ketika Jerman memasuki Operasi Barbarossa tahun 1941. Negara itu tidak sedang berperang dengan Perancis karena negara itu sudah setahun lamanya takluk di bawah bendera swastika. Dan 3,6 juta pasukan menyerbu beruntun ke medan perang Russia yang maha luas. Mencoba menaklukan negeri itu yang sama sekali tidak pernah tertaklukan di dalam sejarah (kemenangan Jerman atas Rusia pada Perang Dunia 1 lebih disebabkan karena konflik internal – dan Jerman sama sekali tidak menyerbu Rusia).

Continue reading →

Bumi Adalah Polynesia Kosmik?

Beberapa waktu yang lalu, saya membeli buku tulisan Jared Diamond dengan judul “Guns, Germ and Steel.” Buku itu membahas peradaban manusia secara garis besar dan terutama sekali untuk menjawab pertanyaan, mangapa peradaban manusia bisa sangat berbeda satu sama lain. Di satu sisi, ada peradaban yang telah mengenal tulisan, arsitektur megah, dan ilmu pengetahuan jauh sebelum masehi. Namun di sisi lain, ada peradaban yang masih menggunakan metode berburu dan meramu.

Anindita Saktiaji - Moai

Moai di Easter Island, salah satu Monumen Polynesia yang paling besar

Ketimpangan peradaban tersebut begitu kentara bahkan di depan mata kita sendiri. Di Indonesia, ketimpangan kehidupan begitu terasa terjadi antara wilayah barat dibandingkan dengan wilayah timur. Di wilayah barat (terutama di pulau jawa, terutama di sekitar ibu kota) kehidupan modern sudah bukan menjadi barang mewah lagi, sementara di wilayah timur, internet masih menjadi barang langka.

Ketimpangan itu sekarang menjadi masalah yang pelik, namun bukan suatu yang berbahaya. Pernah di suatu masa, ketimpangan semacam itu menjadi masalah hidup dan mati. Bukan bagi orang per orang, namun bagi sebuah bangsa. Ketika Colombus menemukan Amerika, benua tersebut mempunyai peradaban yang jauh berbeda dibandingkan dengan Erorpa. Bukan berarti penduduk asli Amerika tidak mempunyai peradaban yang mumpuni. Dalam hal astronomi dan arsitektur, mereka luar biasa, namun dari sisi peralatan militer, mereka jauh tertinggal.

Eropa dan sebagian bangsa di Timur Tengah pada waktu itu sudah mengenal senjata-senjata mutakhir yang bahkan masih kita gunakan hingga saat ini. Senapan dan meriam versia awal sudah dikembangkan. Dan walaupun senjata ini lambat untuk digunakan, namun ketika orang-orang awal melihat ledakannya, mereka langsung panik dan terpencar. Bagi penduduk asli Amerika, senjata semacam pedang baja, senapan mesiu, meriam kanon, pakaian pelindung dari rantai baja adalah suatu hal yang sama sekali belum pernah mereka lihat sebelumnya. Dan hal tersebut sungguh membuat mereka terperangah.

Keunggulan dalam bidang senjata dan pengetahuan membuat bangsa-bangsa Eropa selama beberapa abad merasa lebih beradab daripada bangsa-bangsa lain di belahan dunia lain. Mental semacam inilah yang memicu adanya penjajahan dari mulai Pegunungan Tinggi Andes hingga hutan belantara Papua. Hal tersebut terjadi hanya karena Eropa mempunyai kesempatan lebih dahulu beberapa ratus tahun untuk lebih mengetahui tentang ilmu pengetahuan. Lalu, bagaimana dengan peradaban yang tepaut ribuan hingga jutaan tahun lamanya.

Hingga sampai saat ini, ilmuwan masih berjuang mati-matian untuk memetakan ribuan planet yang ada di sekitar tata surya kita. Beberapa planet bahkan di klaim mempunyai potensi besar untuk mampu menampung kehidupan. Namun sebagian besar planet lain hanyalah gumpalan gas seperti Jupiter dan Saturnus. Beberapa tata surya mempunyai usia ratusan ataupun milyaran tahun lebih tua daripada tata surya yang kita tinggali.

Continue reading →

Konflik Gaza Adalah Perseteruan Agama?

Juli 2014, serangan demi serangan roket saling meluncur baik dari Gaza maupun Israel. Korban berjatuhan, kebanyakan adalah penduduk sipil Gaza yang sama sekali tidak mempunyai perlindungan. Israel sendiri telah dari awal tahun 2000an membangun sebuah sistem yang mereka sebut sebagai Iron Dome. Sistem perlindungan yang mampu mencegah serangan-serangan udara dari mulai artileri, pesawat, hingga roket. Sebuah sistem yang barangkali adalah sistem pertahanan udara nomor wahid di dunia. Nyaris 95% serangan yang dilancarkan Hamas mampu ditangkal dengan sistem ini.

Anindita Saktiaji - Gaza Protest

Perang tidak hanya terjadi di Gaza sana, namun di seluruh dunia. Di dunia maya, banyak sekali bermunculan ide-ide, pemikiran dan pendapat tentang pro dan kontranya mereka terhadap perang ini. Salah satu yang paling sering diperdebatkan adalah, apakah perang di Gaza kali ini adalah sebuah konflik agama? Apakah konflik kali ini adalah sebuah konflik Yahudi vs Islam?

Sebenarnya kembali lagi bagaimana kita memandang sebuah masalah. Apakah Yahudi itu kita pandang sebagai sebuah negara, agama, masyarakat, kesatuan politik, atau kombinasi diantaranya? Kebanyakan orang berpikiran bahwa Yahudi Agama, Yahudi Negara, Yahudi Masyarakat adalah sebuah kesatuan yang tidak terpisahkan. Seperti halnya Arab dengan Islam, atau India dengan Hindu. Hanya saja, terkadang kasusnya tidak seperti itu.

Yahudi, seperti halnya Islam mempunyai banyak sekali cabang dan sekte. Kita mempunyai Sunni dan Syiah, di Yahudipun banyak sekali sekte, salah satunya bahkan yang kita kenal sebagai Kristiani. Sebuah cabang Yahudi yang percaya kepada Isa Almasih. Dan beberapa sekte Yahudi seperti Naturei Karta dengan tegas menolak aksi pengeboman yang dilakukan Israel pada saat ini. Mereka turun ke jalan dengan slogan yang simpel tapi begitu mudah untuk diingat, “Judaism is not Zionism.”

Continue reading →

Big Chrunch, Big Rip, dan Big Freeze – Sebuah Kehancuran Yang Menanti Alam Semesta

Edwin Hubble pada tahun 1927 menemukan bahwa setelah Big Bang terjadi, alam semesta terus-menerus mengalami ekspansi menjauh dari titik semula. Hal itu benar-benar merubah persepsi di masa itu yang mengganggap bahwa alam semesta berada pada keadaan tetap (Steady State). Artinya, alam semesta tidak mengalami perubahan beberapa saat setelah Big Bang hingga saat ini. Penemuan Hubble menjadi sebuah titik baru pemahaman manusia terhadap alam semesta. Baik bagaimana alam semesta itu terbentuk,  maupun perkiraan bagaimana alam semesta itu akan berakhir suatu saat lain.

Anindita Saktiaji - Quantum Fluctuation

Evolusi Alam Semesta Dari Big Bang Hingga Sekarang

Yang lebih mencengangkan dari penemuan Hubble adalah, kecepatan alam semesta dalam proses perkembangannya ternyata tidak melambat. Sebaliknya, alam semesta justru berkembang dalam percepatan yang terus menerus bertambah. Bukti dari hal itu adalah efek dopler. Dalam teori fisika klasik, sebuah benda yang bergerak dengan kecepatan tinggi menuju ke arah kita, maka akan nampak mempunyai efek warna kebiruan. Sedangkan sebuah benda yang bergerak dengan kecepatan tinggi menjauh dari tempat kita berada, maka akan mempunyai efek warna kemerahan.

Anindita Saktiaji - Efek Dopler

 Efek Dopler – Salah Satu Hasil Pengamatan Hubble Terhadap Galaksi2

Dari hasil pengamatan Hubble, ditemukan bahwa galaksi-galaksi yang ada di alam semesta bergerak menjauh dengan efek warna kemerahan. Hal tersebut mengindikasikan bahwa galaksi-galaksi sedang bergerak, dengan percepatan tertentu menjauh dari sebuah titik yang diperkirakan sebagai titik awal terjadinya Big Bang. Dari keadaan susunan galaksi waktu itu, dibandingkan dengan percepatan, maka diperkirakan bahwa usia alam semesta adalah 13.7 milyar tahun.

Pertanyaan yang paling menggeltik adalah, sampai kapan alam semesta dapat berkembang terus? Karena sebuah benda yang mempunyai percepatan pastilah mempunyai akhir dari percepatan yang ia hasilkan sendiri. Namun sebelum membahas tentang bagaimana alam semesta ini akan berakhir, ada baiknya kita melihat apa yang menyebabkan galaksi ini dapat terus berkembang.

Sebuah entitas khusus yang mampu mengisi ruang kosong di alam semesta sebenarnya sudah lama sekali di gali. Jika seluruh partikel plus helium dan hidrogen ditambahkan secara total, alam semesta masih kekurangan 95% dari total bobotnya. Jika ditambah kembali dengan partikel-partikel gelap (tak terlihat) yang nanti disebut dengan Dark Matter, maka kekurangan itu hanya dikurangi sebesar 25%. Itu artinya 70% akam semesta masih kosong.

Continue reading →