Palestina dan Israel – Perjuangan Tiada Akhir

Kembalinya putra Israel ke tanah Kanaan telah banyak disebut di dalam kitab-kitab kuno, bukan hanya di dalam kitab-kitab Yahudi, namun juga di dalam kitab Nasrani dan Muslim. Sebuah tanah yang bagi mereka adalah tanah yang dijanjikan, tanah yang diimpikan, tanah harapan bagi seluruh yahudi diaspora yang telah lama menantikan sebuah tanah air. Mereka yang telah disiksa, dibunuh, disia-siakan di tanah-tanah milik orang lain. Yang diantara mereka tidak lagi mempunyai harga diri, karena mereka tidak pernah menginjak sebidang tanah yang dapat mereka sebut sabagai tanah air. Sebidang tanah yang telah lama mereka nantikan, namun juga tak kunjung mereka dapatkan.

Palestine dan Israel

Palestine dan Israel

Adalah sebuah hak bagi sebuah bangsa untuk mendapatkan tanah air dan adalah sebuah hak pula bagi sebuah bangsa untuk merebut kembali tanah leluhur mereka. Namun yang menjadi masalah adalah bagaimana cara melakukannya? Apakah mereka akan datang sebagai seorang tamu baik-baik pada tanah yang telah berpenghuni atau apakah mereka datang dengan seringai lebar yang penuh dengan nafsu kebengisan yang tak kenal kesopanan?

Sayangnya anak-anak Israel, yang oleh banyak pihak disebut sebagai manusia-manusia pilihan, yang katanya mempunyai banyak keistimewaan, yang baru saja terlunta-lunta oleh pembantaian seorang diktator, datang ke tanah bertuan dengan penuh nafsu menguasai. Sebuah keinginan pembalasan dendam atas apa yang menimpa mereka selama bertahun-tahun di bawah cengkraman swastika. Sebuah keinginan besar untuk merebut tanah yang telah dihuni, secara turun temurun dan mengakar oleh bangsa lain. Hal itu seperti sebuah pengusiran bangsa Indian di kala lalu oleh penguasa kolonial eropa yang tak mempunyai belas kasihan.

Sekali lagi, tidak ada yang salah dari kedatangan Israel ke Palestina, yang menjadi permasalahan adalah bagaimana mereka datang. Israel sudah meninggalkan atau dipaksa meninggalkan tanah mereka selama berabad-abad. Dan selama itu bangsa lain telah menududukinya atau dengan bahasa yang lebih halus, merawatnya.

Bangsa Arab Palestina tidak dapat sepenuhnya mengklaim bahwa Paestina merupakan tanah leluhur mereka, namun mereka dapat mengatakan bahwa tanah itu telah mereka miliki sejak nenek kakek buyut dan buyut mereka. Sebuah terminologi yang sebenarnya lebih dari cukup bagi mereka untuk ‘juga’ mempunyai hak untuk duduk bersama di tanah Palestina. Masa seribu dua ratus tahun adalah masa yang cukup panjang. Bahkan bangsa-bangsa seperti Turki, Spanyol Amerika, dan Amerika Serikat belum genap seribu tahun mendiami tanah yang menjadi tempat tinggal mereka sekarang ini.

Ukuran sebuah bangsa dan tempat tinggalnya adalah seberapa besar bangsa itu merasa memiliki sebuah tanah yang mereka sebut tanah air. Memang penilaian itu sulit untuk dilihat, namun bukan berarti tidak bisa sama sekali. Bangsa Israel dan Palestina sebenarnya dapat duduk bersama di tanah Kanaan dan mengklaim bahwa tanah itu merupakan tanah air mereka. Tidak ada masalah dengan kehidupan bersama antara kedua bangsa itu, karena di dalam sejarah, Muslim dan Yahudi sering sekali hidup bersama dalam sebuah harmoni. Masa-masa yang telah lama sekali berlalu, terutama semenjak hancurnya Andalusia. Negara di semenanjung Iberia itu merupakan contoh yang sangat baik dimana Muslim dapat hidup bersama, berdampingan dengan baik dan tanpa benci terhadap Yahudi.

Leave a Reply