Paradoks Dalam Perjalanan Waktu

Beberapa waktu yang lalu saya melihat sebuah dokumenter yang membahas tentang kemungkinan adanya perjalanan waktu. Konsep dan teori yang ada di dalam dokumenter itu seluruhnya diambil dari pemikiran Stephen Hawkings, seorang fisikawan terkemuka asal Inggris. Saya tertarik dengan isu paradox waktu, sebuah konsep pemikiran mengenai akibat yang ditimbulkan dari adanya perjalanan waktu itu sendiri. Secara ilmu pengetahuan, konsep perjalanan waktu itu memang logis dan memungkinkan untuk dilakukan. Hanya saja, perjalanan waktu tidak memungkinan untuk mempertemukan dua buah entitas yang sama. Entitas di sini dapat berupa manusia, objek dan apa saja yang dikategorikan sebagai materi.

waktu

Larangan memepertemukan dua buah entitas itulah yang kemudian disebut sebagai paradoks. Kita bayangkan saja secara sederhana. Jika kamu mempunyai mesin waktu, dan kembali ke 2 tahun sebelum ini. Kemudian kamu bertemu dengan dirimu sendiri dan tanpa sengaja membuat dirimu yang bertemu dengan dirimu dari masa depan terkejut hingga jatuh terpeleset dari lantai 8 sebuah gedung. Lalu siapa dirimu yang ada sekarang ini? Bukankah dia sudah mati 2 tahun yang lalu. Lalu apakah dirimu itu ada sekarang, atau justru hilang sekarang ini? Itulah pertanyaan paradoks. Mungkin pernyataan itu sedikit rumit untuk dicerna, namun sebenarnya mudah untuk dibayangkan jika memang kita mau sedikit berandai-andai.

Contoh lebih mudah lagi adalah, kamu pergi ke masa lalu, kemudian bertemu dengan ayah dan ibumu waktu mereka sedang pacaran. Kamu mencoba untuk memprovokasi mereka agar mereka putus dan mereka tidak pernah menikah di kemudian hari. Lalu pertanyaannya? Kamu itu anak siapa? Lahir dari mana dan siapa sebenarnya dirimu?

Konsep paradoks dalam perjalanan waktu “time travel” sangat unik. Ia lebih bersifat filosofis daripada sains. Dengan memahami konsep paradoks di atas, kita tahu bahwa alam semesta ini bekerja dengan cara yang luar biasa kompleks. Bahkan sebuah kejadianpun dapat membuat eksistensinya berubah. Teori paradoks, bukan berarti menentang kemungkinan adanya perjalanan waktu, hanya saja konsep berpikir perjalanan waktu itulah yang musti dirubah.

Perjalanan waktu “time travel” yang sering kita lihat pada film-film fiksi ilmiah adalah perjalanan yang benar-benar menembus waktu. Berpindah dari masa ke masa, dari tahun ke tahun dengan menggunakan alat-alat rumit yang dibuat oleh seorang profesor berambut putih dan acak-acakan. Konsep perjalanan waktu tidaklah semudah itu. Karena perjalanan waktu ke masa lalu adalah sangat sulit dan kalaupun itu dapat terjadi, maka konsep paradoks akan berlaku di sini.

Akan sedikit masuk di akal, apabila perjalanan waktu bukanlah untuk merubah masa lalu, namun untuk melompat ke masa yang akan datang. Maksud saya di sini bukan benar-benar melompat ke masa depan, akan tetapi memanipulasi waktu agar apa yang kita lakukan seolah-olah melompat ke masa depan. Waktu sebenarnya bukanlah sebuah parameter yang statis. Ia dapat berubah sesuai dengan gravitasi dan berbagai macam hal lainnya. Sebagai contoh, waktu yang ada di luar angkasa, dengan gravitasi lebih rendah,  mempunyai rentang yang lebih pendek daripada di bumi. Sehingga orang yang ada di luar angkasa, seolah-olah mempunyai umur yang sedikit lebih panjang daripada di bumi.

Kita ambil contoh sederhana, dua orang kembar, salah satunya berprofesi sebagai astronot. Jika seorang yang menjadi astronout tadi pergi ke luar angkasa selama 30 tahun, maka ketika ia kembali ke bumi, umur orang tersebut akan beberapa bulan (atau minggu) lebih muda daripada saudara kembarnya yang tetap tinggal di bumi. Contoh yang saya nyatakan ini terlihat lucu, namun dari beberapa sumber yang saya baca. Kejadian semacam itu mungkin dan nyata. Hanya saja, koefisien pergeseran waktu dan cara mengukurnya masih sulit untuk dilakukan.

Dalam contoh di atas, orang yang pergi ke luar angkasa dan kembali ke bumi dalam keadaan lebih muda beberapa waktu dalam definisi beberapa ahli sudah melakukan perjalanan waktu. Koefisien pertambahan dapat semakin berubah dengan semakin cepatnya subyek perpindahan waktu dalam bergerak. Misalkan, orang tersebut dapat bergerak dengan sebuah wahana yang berkecepatan sangat tinggi, hingga mendekati kecepatan cahaya, maka ia dapat melakukan lompatan waktu lebih jauh lagi.

Permasalahan untuk perjalanan waktu bukanlah apakah itu benar-benar mungkin untuk dilakukan (karena memang itu mungkin untuk dilakukan) namun wahana apakah yang dapat membawa kita untuk melakukannya. Kuncinya adalah, kita harus bergerak dengan kecepata luar biasa tinggi, apakah itu dengan memainkan sebuah jalur lubang hitam, ataupun dengan bergerak dengan menggunakan roket berkecepatan luar biasa tinggi. Dengan perkembangan teknologi yang semakin pesat, hal yang tidak mungkin terjadi dapat berubah seratus delapan puluh derajat menjadi sesuatu yang benar-benar berbeda.

Leave a Reply