Perang Dunia 1 vs Perang Dunia 2

Perang Dunia 1 dan Perang Dunia 2 sekilas terlihat mirip. Kedua perang itu dimainkan oleh Kekuatan besar Eropa seperti Jerman, Inggris, Perancis, Russia, dan Italia. Kekuatan baru dari seberang atlantik dan pasifik juga ikut ambil bagian seperti Amerika Serikat, Jepang, dan juga koloni-koloni Inggris seperti Australia & New Zeeland. Orang awam bahkan mengganggap kedua konflik tersebut sama. Kekuatan besar Eropa saling adu jotos dan membuktikan siapa yang terbaik diantara mareka. Namun nyatanya, kedua perang yang berselisih rentang waktu 20 tahun itu begitu berbeda. Baik secara latar belakang, maupun secara runtutan jalannya perang.

Gambaran Perang Dunia 1, Dimana Negara Central Berperang Melawan Sekutu

Perang Dunia 1 bisa dibilang adalah perang yang sudah diantisipasi semenjak lama. Otto Von Bismarck pernah memprediksikan perang itu jauh sebelum dekade 1900an. Pada waktu itu, seluruh kekuatan Eropa sedang pada masa puncak jayanya. Inggris menguasai sebagian afrika, India, malaysia, singapore dan menjadikan Australian, Canada, dan banyak kawasan kepulauan kecil sebagai koloninya. Perancis menguasai sebagian tanah di Afrika, Indochina, dan sedikit bagian di Amerika Selatan. Russia menguasai padang stepa Asia Utara yang sebelumnya didominasi Mongol. Dan Jerman yang pada waktu itu merupakan kekuatan baru di Eropa ikut ambil bagian mengiris-iris sebagian Afrika dan Papua Nugini untuk menjadi koloninya.

Pemandangan Sehari-hari Perang Dunia 1 (atas) Pasukan Infantri Menyerang dari Parit ke Parit dan Perang Dunia 2 (bawah) Pasukan Panzer Jerman di Front Russia

 

Selain menguasai banyak koloni, Eropa waktu itu sedang tumbuh dalam revolusi Industri yang pesat. Populasi negara-negara Eropa juga mengalami peningkatan yang signifikan. Ini disebabkan karena berkembangnya ilmu pengobatan dan kedokteran. Pertambahan penduduk yang cepat, dan industrialisasi menyebabkan negara-negara itu mampu memproduksi berbagai macam barang secara lebih efisien dan cepat. Dan salah satu jenis barang yang diproduksi secara cepat adalah senjata.

Militerisasi di Eropa waktu itu jauh dari apa yang pernah dunia lihat sebelumnya. Jerman misalnya mempunyai 1.5 juta prajurit sebelum perang pecah. Di bawah terdapat data pada 1904 dimana perlombaan militerisasi Eropa sedang gencar-gencarnya. Setiap negara tahu jika perang dapat pecah sewaktu-waktu sehingga mereka mencoba membangun militer sebaik mungkin dan perang itu bukan lagi perang yang biasa dunia catat sebelumnya. Perang saudara di Amerika Serikat pada 1861 membuktikan bahwa perang modern tidak mungkin berlangsung singkat dan memakan korban yang sedikit.

Europe Military Power in 1904

Puncak dari tensi tinggi di Eropa adalah terbunuhnya putra mahkota Austro-Hongaria di Sarajevo tahun 1914. Tersangka pembunuhnya adalah salah seorang nasionalis lokal yang disokong oleh Serbia. Kebenaran dari konspirasi ini masih diperdebatkan secara luas hingga sekarang. Meskipun begitu, seoarang putra mahkota yang terbunuh di jalan pasti harus disertai dengan tindakan tegas. Apalagi Austro-Hongaria pada waktu itu bisa dibilang adalah negara yang sedang sakit. Negara yang multi etnis itu nyaris ambruk dan pecah menjadi negara-negara kecil (seperti Yugoslavia pada 1990an) karena keberagaman etnis di dalamnya serta tumbuhnya nasionalisme diantara para penduduknya. Orang Cheko misalnya, mereka lebih memilih untuk menggunakan bahasa ibunya daripada menggunakan bahasa resmi negara yaitu bahasa Jerman yang secara gegabah dipaksakan untuk digunakan oleh pemerintah Vienna.

Jadi, negara yang sudah tua dan sakit itu butuh untuk membuktikan dirinya. Bahwa mereka masih mempunyai taring dan mampu untuk berbuat sesuatu. Ini penting, mengingat wilayah-wilayah di dalam Austro-Hongaria sendiri sudah meronta-ronta ingin lepas. Di samping itu, Jerman yang merupakan sekutu Austro-Hongaria menyatakan dirinya siap untuk membantu sahabat tuanya itu jika mereka menyerang Serbia. Serbia waktu itu dilindungi oleh Russia yang juga siap menyatakan perang kepada siapapun yang menyerang negara kecil tersebut. Russia waktu itu beraliansi dengan Perancis, dan Perancispun siap membantu Russia jika negara itu terlibat dalam perang. Sementara itu Inggris walaupun beraliansi dengan Perancis masih mencoba melihat situasi lebih jauh. Namun ketika Jerman pada akhirnya menyerang Belgia untuk menyerbu ke arah Perancis, maka Inggrispun dengan sigap ikut membela negara kecil tersebut.

Singkatnya, Perang Dunia 1 adalah perang yang sebenarnya berupa rentetan kejadian domino yang sebenarnya sudah dipersiapkan semanjak lama. Hanya saja, apa yang terjadi di dalam perang itu sama sekali tak mampu untuk diantisipasi. Teknologi modern seperti senapan mesin, bom, gas, pesawat terbang, dan artileri jarak jauh membuat korban berjatuhan dalam jumlah yang luar biasa. Di front antara Perancis dan Jerman, garis depan nyaris tidak berubah selama empat tahun peperangan. Perang ini bahkan mendapat julukannya sendiri, yaitu Perang Parit “Trench Warfare”. Karena tentara di dalam perang ini harus menunggu satu sama lain di dalam parit, untuk melindungi diri mereka dari hujan peluru artileri, gas mematikan, dan belum lagi serangan senapan mesin.

Perang Dunia 2 di sisi lain adalah perang yang begitu mobile. Tank, pesawat terbang, dan infantri bermotor adalah ujung tombak dari masing-masing negara. Pemain dari perang inipun sama. Inggris, Perancis, Jerman, Italia, Jepang, USA, dan Russia yang sekarang sudah menjadi Uni Soviet. Namun ada perbedaan mencolok di sini, Inggris dan Perancis tidak lagi perkasa seperti Perang Dunia 1. Iya, mereka mempunyai luas wilayah yang luar biasa. Iya, mereka mempunyai masing-masing angkatan darat dan laut yang tidak bisa dianggap enteng. Namun negara2 itu sedang sekarat karena masalah internal. Koloni mereka yang luas membuat biaya maintenance cenderung berat. Beberapa koloni Inggris seperti India, Burma, dan Mesir menginginkan kemerdekaan penuh. Perancis tidak jelas dalam kebijakan koloninya. Ada yang menginginkan koloni setara dengan warga metropolitan Perancis. Namun sebagian warga Perancis tidak mau disetarakan dengan bangsa kulit hitam di Afrika.

Di sisi lain, Jerman, Soviet, dan Jepang sedang naik daun. Jerman mencoba keluar dari keterpurukan ekonomi dengan merobek-robek Perjanjian Versailles. Produksi mereka meningkat, infrastruktur dibuat dalam kecepatan luar biasa, dan auto-bahn yang termahsyur sebagai jalan raya tanpa batas kecepatan itupun tercipta. Wilayah-wilayah mereka yang lepas setelah Perang Dunia 1 perlahan-lahan disatukan oleh Hitler. Rhineland, kemudian Austria dan Cheko dianeksasi dengan damai tanpa pertumpahan darah. Di Asia, Jepang mencoba memotong-motong wilayah China. Dari mulai Taiwan, negara boneka Korea, dan kemudian wilayah Manchuria. Mereka bahkan mendeklarasikan perang secara terbuka di Juli 1937 terhadap China Nasionalis dan Komunis, membuat kedua kubu yang berseteru itu justru bersatu padu menghadapi Jepang. Satu lagi bintang Perang Dunia 2 yang sering dipandang sebelah mata adalah Uni Soviet. Negara beruang merah itu mencoba berubah dari negara pertanian yang tertinggal di Era Tsar menjadi negara industri modern di bawah Sosialisme. Sosialisme ala Stalin yang lebih mirip diktaktorisme ala Fasis ini berhasil membuat industri Soviet booming.

Dengan meningkatnya kemampuan industri negara-negara besar dunia. Maka perangpun juga mengalami perubahan yang signifikan. Ini dapat dilihat dari Perang Saudara Spanyol di tahun 1936 – 1939. Perang tersebut menjadi ajang percobaan senjata-senjata baru yang belum pernah dunia lihat sebelumnya. Pesawat pembom, pesawat tempur, support infantri, peralatan infantri yang lebih canggih dan mobile, dan yang paling penting adalah tank.

Tank bisa jadi adalah primadona Perang Dunia 2, terutama di wilayah Eropa. Tank di Perang Dunia 1 memang sudah ada, namun fungsi dan hasilnya belum terlalu terlihat. Sedangkan di Perang Dunia 2, beberapa Jenderal Jerman seperti Heinz Guderian dan Von Manstein melihat tank sebagai mesin pendobrak yang mampu merubah jalannya pertempuran modern. Konsep tank sebagai tenaga pendobrak rupanya cukup revolusioner di kala itu. Perancis dan Inggris memproduksi tank dalam jumlah yang lumayan, namun kekuatan mereka disebar karena mereka menganggap bahwa tank adalah infantri support. Sedangkan Jerman memilih untuk mengkonsentrasikan tank dalam satuan divisi. 100 hingga 200 buah tank jumlah per satu divisi, ditambah lagi dengan infantri bermotor, artileri, dan tenaga support dari mulai medis, komunikasi, hingga reparasi. Konsep divisi tank ini atau panzer division nantinya diadopsi pula oleh negara-negara lain. Namun di awal perang dari tahun 1940 hingga 1941, panzer Jerman merupakan kejutan yang sangat mematikan.

Jadi, meskipun kedua konflik itu nampak sama dari permukaannya, namun sebenarnya kedua perang tersebut hampir bertolak belakang. Perang Dunia 2 dimulai dari ambisi Jerman dan Jepang untuk memperluas kekuasaannya. Jika Perang Dunia 1 dimulai dari niat balas dendam, Perang Dunia 2 dimulai dari ambisi mendapatkan wilayah baru. Mengapa demikian? Ada beberapa studi yang bagus tentang ini. Ada yang menyatakan adanya kebutuhan mendapatkan bahan mentah. Ada yang mengatakan masalah ideologis dan rasisme. Namun ada pula yang mengatakan bahwa negara-negara industri seperti Jepang dan Jerman membutuhkan lahan yang luas untuk memenuhi kebutuhan pangan penduduknya. Yang terakhir ini menarik karena jarang disinggung di buku-buku secara umum. Di masa itu, pertumbuhan penduduk luar biasa pesat, dan lahan pertanian subur di negara tersebut dikonversi menjadi tempat tinggal. Pupuk atau penyubur belum semaju sekarang, sehingga hasil pertanian masih tetap seperti ratusan tahun sebelunya, sedangkan orang yang butuh makan jauh meningkat. Barangkali memang masalah perut sedari dulu menjadi penyebab konflik manusia, tidak terkecuali perang-perang modern seperti ini.

Leave a Reply