Perang Dunia 2 Tidak Dimenangkan Di Garis Depan

Jika mengingat Perang Dunia 2, maka yang selalu hadir di dalam kepala kita kemungkinan besar adalah pertempuran-pertempuran besar yang ada di sana. Mulai dari pendaratan Normandia, Pertempuran Stalingrad, Battle of Britain, atau penyerbuan Pearl Harbor. Pertempuran-pertempuran itu memang penting dan sangat menentukan jalannya Perang Dunia 2. Akan tetapi dilihat dari waktunya, pertempuran itu hanyalah bagian kecil dari perang yang berkecamuk selama hampir 5 tahun lamanya itu. Sebagian besar kejadian berada di balik layar, jauh berada di garis aman.

Di pabrik-pabrik, baik di pihak Sekutu maupun Axis, jutaan manusia bekerja siang dan malam. Mereka memproduksi senapan, bom, tank, pesawat, dan kapal untuk digunakan bertempur di garis depan. Mereka juga memproduksi pakaian, makanan, bahkan obat-obatan untuk mengobati para tentara yang terluka.

Di beberapa negara sekutu seperti Kanada dan USA, mungkin keadaan para pekerja itu cukup baik. Kesejahteraannya tercukupi dan kehidupan mereka dapat berjalan normal seperti hari-hari biasa. Namun di negara-negara lain seperti Soviet, Jerman, Jepang, dan Inggris ada kalanya keadaan mereka tidak jauh dengan para tentara yang bertempur di garis depan. Jerman dan Jepang di akhir perang mendapatkan pemboman yang bertubi-tubi, tidak sedikit dari para pekerja itu yang terkubur hidup-hidup bersama dengan pabrik-pabrik mereka. Di Uni Soviet, para pekerja harus bekerja 24 jam non stop, terkadang tanpa penghangat yang memadahi di musim dingin karena relokasi industri mereka di pegunungan Ural, menjauhi jangkauan pesawat-pesawat pembom Jerman.

Kemampuan produksi negara-negara di Perang Dunia mempengaruhi bagaimana perang itu berjalan. Di Perang Dunia 2, alat-alat perang digunakan secara masif dan dalam takaran yang belum pernah ada sebelumnya. Tank misalnya baru dimunculkan pada akhir Perang Dunia 1, dan di Perang Dunia ke 2 sudah menjadi ujung tombak dari angkatan perang Jerman, Soviet, dan USA. Pesawat terbang memang sudah digunakan secara luas pada Perang Dunia 1, namun intensitas dan teknologinya sudah jauh berkembang di Perang Dunia 2. Belum lagi artileri, kapal perang, senjata ringan, dan kendaraan-kendaraan tempur lainnya. Semua alat-alat tempur itu diproduksi dalam industri-industri di belakang garis depan. Dan keberlangsungan proses industri, penyediaan supplay bahan mentah, serta ketersediaan tenaga manusia menjadi sebuah tugas yang sangat krusial.

allies-vs-axis-production-perang-dunia-2
Perbandingan Produksi Militer Sekutu dan Axis

Di atas terdapat data perbandingan jumlah produksi peralatan militer antara Sekutu dan Axis dari tahun 1939 hingga 1945. Data tersebut sangat disederhanakan dan tidak menunjukan jumlah dari tiap-tiap jenis angka tersebut. Misalnya saja, kapal tidak bisa dibandingkan antara produksi kapal Battleships dengan kapal selam mini. Namun secara garis besar, kita dapat melihat jika hampir disemua sisi, Sekutu jauh lebih mempunyai kapasitas produksi daripada negara-negara Axis. Mereka hanya kalah di bagian misil yang hanya Jerman saja yang melakukan produksi besar-besaran. Misil-misil ini seperti roket V1 dan V2 digunakan Jerman untuk membombardir Inggris. Hasilnya memang tidak seperti yang diinginkan, namun roket atau misil ini nantinya menjadi dasar bagi roket-roket ICBM (Inter Continental Balistic Missile) dan juga roket penjelajahan ke luar angkasa.

land-military-production-perang-dunia-2
Perbandingan Produksi Peralatan Militer Darat Saat Perang Dunia 2

Diatas, terdapat data lain tentang perbandingan produksi peralatan militer yang digunakan untuk pertempuran darat. Sekali lagi, kita menemukan data yang menarik dimana Sekutu mampu menandingi hampir sebagian besar jumlah produksi peralatan militer dibandingkan dengan Axis. Khusus untuk tank, sekutu mampu memproduksi lebih dari 2x lipat tank dibandingkan dengan Axis. Dari 76 ribu lebih jumlah tank yang Axis produksi, Jerman memproduksi lebih dari 69 ribu diantaranya.

airforce-production-perang-dunia-2
Perbandingan Jumlah Produksi Pesawat Sekutu vs Axis

Tabel ketiga ini adalah jumlah produksi pesawat terbang antara negara-negara Sekutu dengan Axis. Kebetulan Italia tidak ditambahkan di sini karena jumlah produksinya tidaklah begitu signifikan. Bisa dilihat dari total produksnya, Sekutu mampu memproduksi lebih dari 3x lipat pesawat terbang daripada Axis. Jumlah ini sangatlah signifikan mengingat pertempuran udara di Perang Dunia 2 adalah pertempuran yang kejam. Jika sebuah negara tidak mampu mempertahankan Air Superiority-nya, maka penduduk, infrastruktur, dan bahkan industrial capacity-nya akan terganggu. Ini dapat kita lihat di babakan terakhir dari Perang dimana Jerman dan Jepang mati-matian mempertahankan Air Superiority-nya melawan pembom-pembom sekutu.

2 Comments

Leave a Reply