Phobia Terhadap Komunisme

Akhir-akhir ini banyak sekali beredar foto-foto orang-orang memakai palu arit yang beredar di sosial media. Reaksi keraspun bermunculan dimana-mana dan slogan-slogan anti PKI-pun muncul layaknya kita masih hidup di jaman orde baru. Saya sendiri mencoba mencari apa yang salah dengan palu arit dan mengapa ketakutan itu bisa bangkit sekarang ini?

(Credit to Paradox Interactive)
(Credit to Paradox Interactive)

Saya jadi ingat pada masa-masa SMP dahulu, ketika saya mengajak teman-temanku untuk bermain game Red Alert di PC waktu itu. Di depan game, muncul lambang palu arit, dan sebagian mereka langsung tersentak. “Wah, gamenya tentang PKI?” kata mereka. Dan raut muka mereka berubah menjadi cukup tak nyaman.

Entah apa yang salah dengan lambang palu arit itu sendiri. Komunisme barangkali telah mengakar kuat sebagai musuh bangsa dengan cap PKI. Di luar negeri, paham komunisme telah runtuh satu demi satu. Dan oh ya tentu saja masih ada China, yang sekarang harus kita sebut sebagai Tiongkok karena alasan yang belum saya ketahui sepenuhnya.

Apakah China sekarang masih mengacu pada komunisme sosialis atau Stalinist seperti dahulu?

China sebenarnya berada pada level ekonomi dan politik yang lucu. Sebagian pendapat menyatakan bahwa China lebih dekat ke paham fasis daripada komunisme. Mana kesetaraan kesejahteraan atau pembagian lahan yang adil bagi masyarakatnya? Hal tersebut sama sekali tidak ditemukan di dalam cara tata kelola negara China sekarang ini. Yang ada justru ekspansi kapitalisme perusahaan-perusahaan China secara besar-besaran bahkan ke luar negeri. Entah perusahaan itu masih berbasis kerakyatan atau murni sebagai bisnis kapitalis yang berujung kepada keuntungan.

Lalu ekspansi ekonomi China sekarang ini mengingatkan saya pada era 1930an. Dimana Jerman NAZI waktu itu mencoba mendorong bisnis ekonominya secara luar biasa sehingga perusahaan-perusahaan Jerman yang terkenal sekarang lahir atau dibesarkan kala itu. Sebut saja Volkswagen, Messerschmict, Siemens, dan lain sebagainya. Dalam faham fasis, bisnis korporasi memang didorong sekuat mungkin. Namun bisnis itu harus tetap  mengabdi pada kepentingan negara, atau setidaknya mencoba untuk menyisihkan sebagian keuntungannya demi negara.

Yap, hal seperti itulah yang kita lihat di ekonomi palu arit ala China sekarang. Sosialisme yang digadang-gadang memberikan kesempatan lebih pada setiap orang telah menemui jalan buntu. Ada pepatah lama mengatakan “jika kita mencoba kuat di segala lini, maka kita akan lemah di segala sisi.” Dan pepatah itulah yang telah meramalkan keruntuhan ekonomi ala palu arit.

China sendiri telah mengabaikan falsafah ekonominya sejak lama. Lalu mengapa kita banyak yang masih berfikiran bahwa utopia sosialis masih mampu berdiri lagi? Phobia komunisme ala PKI orde baru barangkali sudah waktunya untuk dipikirkan kembali. Memang masih ada oknum yang berfikir bahwa makar sosialisme ala rakyat tertindas barangkali masih mampu untuk berdiri. Namun apalah artinya jika toh sosialisme yang mereka idamkan justru berubah menjadi diktator ala Korea Utara dan Kuba.

Sosialisme yang baik justru kita lihat di negara-negara Nordik. Mereka memilih Sosial-Demokratik, menerapkan pajak yang tinggi terhadap perusahaan dan individu berpenghasilan. Namun menghasilkan return output yang jelas terhadap kesehatan, infratruktur, dan jaminan keamanan bagi warganya. Negara-negara itu juga menempati urutan tertinggi negara-negara paling bahagia di dunia. Itulah sosialism yang seharusnya dituju. Sebuah negeri utopis yang mempunyai harapan hidup dan tingkat kebahagiaan yang besar.

2 Comments

  1. Bagus mas tulisannya.Jd miris memang bangsa ini msh bergelut di phobia komunis..mengakibatkan fitnah dn saling tuduh.pdahal sudah jelas2 ideologi tsb gagal.tidak ad yg perlu ditakutin.

Leave a Reply