Review (Buku) : Holy War – Perang Suci (Karen Armstrong)

Buku Holy War, atau yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sebagai Perang Suci adalahsebuah buku kritik sejarah yang ditulis oleh Karen Armstrong. Beliau adalah seorang pemerhati sejarah terutama sejarah keagamaan. Buku ini menitik beratkan kepada sejarah Perang Salib yang tidak saja melibatkan Agama Islam dan Kristen, namun juga agama pendahulunya yaitu Yahudi. Di sana ia mencoba membuka fakta-fakta, bukan dari salah satu sudut pandang agama saja melainkan dari ketiga sudut pandang agama sekaligus. Berikutnya, ia mencoba untuk menelusuri akar permasalahan Perang Salib yang tersisa hingga hari ini.

Holy War

Perang Salib adalah sebuah babakan sejarah yang unik. Untuk pertama kalinya dalam sejarah umat manusia, perang tidak lagi dilandaskan pada ambisi kekuasaan dan hegemoni suatu bangsa tertentu. Perang ini melandaskan pada ajaran agama, yang dipegang teguh oleh masing-masing pihak. Perang yang berlandaskan agama, dalam kasus tertentu menjadi jauh lebih mematikan dari beberapa perang-perang jenis lain. Perang jenis seperti ini tidak lagi memperebutkan emas, budak maupun kedudukan. Perang ini memperebutkan tempat, satu tiket untuk masuk ke surga.

Menurut Keren Armstrong, Paus Urban II adalah sosok manusia yang ia nilai paling mempunyai tanggung jawab di dalam meletusnya Perang Salib. Ia yang menyatakan bahwa kaum Nasrani harus menempuh perjalanan ke Timur untuk membebaskan Kota Suci Yerussalem dari tangan penakluk Muslim. Mereka mengklaim bahwa tanah suci, tempat di mana Yesus disalib merupakan tanah keramat yang harus dilindungi dan dibebaskan dari kaum kafir.

Di satu sisi, Muslim mempunyai klaim yang tidak kalah kuat untuk mempertahankan tanah yang telah mereka rebut tersebut. Kaum Muslim percaya bahwa Yerusalem merupakan tempat di mana Muhammad naik ke langit ke tujuh untuk mendapatkan perintah sholat. Ibadah wajib dan paling pokok di dalam dunia Islam. Umat Islam menyebut tempat itu sebagai Al Aqsa, yang berarti tempat ibadah yang jauh. Menggingat jaraknya yang cukup jauh dari pusat perkembangan Muslim pada masa awal yaitu di Mekkah dan Madinah.

Yahudi di satu sisi juga mempunyai peran di dalam klaim Yerusalem. Mereka mengganggap Yerusalem sebagai tanah yang dijanjikan Tuhan kepada mereka. Tanah tempat penyelamatan bagi Musa, kerajaan Solomon dan tempat di mana Ibrahim hidup.

Karen Amrstrong mencoba untuk menelisik akar permasalahan Perang Salib hingga yang paling mendasar. Kemudian ia mencoba untuk menelusurinya hingga konflik Perebutan Arab – Israel di masa modern. Di sisi lain, buku ini adalah sebuah upaya untuk meredakan keinginan yang menggurung cara pandang umat beragama dala teologi dendam dan kekerasan, yang telah mengakar begitu dalam sehingga menimbulkan sinisme kebencian diantara tiga agama semit di dunia; Yahudi, Kristen dan Islam.

Ketika saya menelusuri catatan demi catatan di dalam buku ini, perlahan-lahan saya dapat memahami bahwa konflik di timur tengah, kebencian barat – muslim dan khususnya pertikaian di Yerusalem sebenarnya adalah buah dari pertikaian di masa lalu yang sebenarnya dengan ceroboh sekali diluncurkan. Dimunculkannya doktrin-doktrin perang suci yang mengada-ada dan diluncurkannya sentimen kebencian di antara ketiga umat beragama itu telah mengakar begitu kuatnya hingga saat ini. Sehingga tanpa sadar bahwa kita telah memandang umat beragama lain dalam perasaan saling membenci dan memusuhi.

Leave a Reply