Sekedar Tulisan Yang Bisa Merubah Dunia

Mengenal tulisan merupakan milestone tersendiri dalam perjalanan kehidupan manusia. Pesan yang sebelumnya hanya mampu disampaikan secara oral antara satu orang dengan orang yang lain, sekarang dapat dilakukan dengan cara yang jauh lebih praktis melalui tulisan yang terukir di dinding, kertas, batu, maupun kayu. Pesan juga mampu bertahan lebih lama dan mempunyai konsistensi struktur sehingga kerancuan tidak terlalu terjadi.

Anindita Saktiaji - Mesir Kuno

Tulisan pertama bermunculan sekitar 3000 – 2000 tahun sebelum masehi di beberapa tempat seperti Mesopotami, China, dan Mesir. Kemunculan ini bukan sebuah hal yang terjadi tiba-tiba (seperti yang pernah kita dengan dari beberapa sumber), melainkan dari kebutuhan masyarakat pada waktu itu akan pencatatan hasil perdagangan, produksi pangan, maupun tata pemerintahan. Jika ditarik pada rentang waktu lebih lama lagi, tulisan-tulisan ini muncul dari kebiasaan masyarakat untuk mencatat ritual, buruan, atau kejadian unik pada dinding-dinding gua tempat tinggal mereka.

Seiring dengan perkembangan jaman, tulisan menjadi sebuah alat komunikasi praktis dimana pesan-pesan resmi (perdagangan dan kenegaraan) disampaikan satu sama lain. Kestabilan informasi menjadi kunci utama mengapa tulisan menjadi pilihan tersebut. Selain itu, tulisan dirasa lebih awet dan lebih mudah untuk diturunkan ke orang lain, bahkan ke generasi selanjutnya. Perlahan-lahan, jenis-jenis tulisanpun berkembang dari mulai berbasis objek seperti yang ada pada China dan Mesir, maupun jenis tulisan yang berbasis pada karakter seperti yang ada pada Mesopotami dan Yunani.

Rangkaian huruf menjadi kata dan rangkaian kata menjadi kalimat. Kalimat-kalimat dalam tulisan yang disampaikan secara turun temurun dari satu generasi menuju generasi berikutnya menjadi sebuah acuan, patokan, hukum, dan kepercayaan. Memang, sebagian besar kalimat-kalimat tersebut diucapkan secara oral oleh seseorang, namun tulisan-tulisan yang diwariskanlah yang menjadi sebuah obyek sakral yang sekarang kita kenal sebagai kitab.

Kitab-kitab atau yang sekarang kita kenal sebagai buku adalah sebuah mahakarya peradaban manusia. Dahulu, hanya orang-orang tertentu saja yang mampu membuat ataupun memesan buku tersebut. Dan yang lebih penting lagi, hanya kisah-kisah ataupun kalimat-kalimat tertentu saja yang dapat dituliskan dalam lembaran-lembaran kitab. Tulisan tersebut akhirnya menjadi sakral, bukan karena tingkat kepentingan yang ada di dalam tulisan tersebut, namun karena ke ekslusifan dari proses penulisan buku itu sendiri.

Kendati demikian, ada beberapa jenis buku yang menjadi sakral bukan karena proses penulisan, namun karena isi dari kandungan kalimat yang ada di dalamnya. Kitab suci agama merupakan contoh yang baik dari jenis buku tersebut. Kitab-kitab agama samawi mulai dari Taurat, Injil, hingga ke Al Quran menjadi sakral karena sumber dan tujuan penggunaannya. Kitab tersebut mengubah fungsi tulisan selain sebagai media penyampai informasi menjadi sebuah pedoman hidup yang suci. Beberapa pihak (secara individu) bahkan mengganggap tulisan itu (bukan kandungan di dalamnya) adalah perihal suci yang harus dijaga seutuhnya.

Kitab suci agama dianggap tidak hanya sebatas kumpulan kata-kata, namun lebih menjadi sebuah pedoman hidup yang telah mempengaruhi jutaan bahkan hingga milayaran manusia hingga saat ini. Manusia telah tergugah, tercerahkan, terdidik, atau sebaliknya. Semua tergantung dari penafsiran masing-masing kelompok dan individu terhadap kitab-kitab suci tersebut. Manusia tergugah untuk berjuang atau dapat juga manusia menjadi seorang yang sangat konservatif dengan pemikiran yang kolot hanya karena membaca kitab tersebut.

Kitab suci membuktikan bahwa tulisan dapat menjadi sebuah triger untuk mengubah tidak hanya sekelompok manusia namun mampu untuk mengubah peradaban manusia itu sendiri. Kemampuan manusia timbul dan tenggelam mengikuti perkembangan pasang surut peradaban manusia. Tulisan pernah bersemi ketika jaman keemasan Yunani dan Romawi, lalu tenggelam lagi pada masa kejatuhan romawi barat. Tulisan berkembang di semenanjung Arab dan China, menjadikan mereka sebagai pusat peradaban dunia yang baru. Namun di masa renaisance, kekuatan sains barat kembali menggambil alih.

Pada era renaisance, fungsi-fungsi tulisan menjadi lebih luas lagi. Filosofi, idealisme, ideologi, pergerakan politik, sains, sejarah, dan berita disampaikan dalam bentuk cetakan serta menjadi makanan sehari-hari umat manusia. Sekumpulan ilmu yang beberapa dekade sebelumnya hanya menjadi local knowledge sekarang berubah menjadi global wisdom.

Guttenberg adalah salah seorang yang paling berjasa dalam revolusi tulisan di abad pertengahan. Dia mempunyai visi untuk membuat buku tidak hanya dapat dikonsumsi oleh kalangan atas, namun juga oleh rakyat pada umumnya. Hal ini bukan saja menggemparkan, akan tetapi juga dianggap berbahaya oleh beberapa pihak. Rakyat yang dahulu hanya berperilaku sebagai (seperti) budak bagi kalangan atas, kini akan mempunyai akses pengetahuan yang sama dengan tuan-tuannya.

“Jika rakyat menjadi pintar, siapa yang mau mati di medan perang.” Begitulah kira-kira semboyan para kaum ningrat pada waktu itu. Semboyan tersebut cukup beralasan menggingat sampai detik itu, roda ekonomi Eropa pada umumnya digerakan oleh kaum buruh yang berasal dari rakyat jelata. Mereka adalah orang-orang yang dibayar murah, mempunyai kualitas hidup yang rendah, dan begitu penurut dengan perintah majikan mereka.

Dengan bermunculannya buku murah, tulisan-tulisan yang menggugah dan mampu membangkitkan semangat kaum kecilpun menyebar. Revolusi pemerintahan terjadi di Perancis, Inggris, Italia, dan bahkan Jerman. Revolusi-revolusi ini bertujuan menggubah struktur pemerintahan, dari royalist menjadi sesuatu yang (seharusnya) lebih berpihak kepada kaum bawah.

Memasuki abad baru, tulisan-tulisanpun bergerak secara lebih agresif. Manusia menyebarkan pemikiran-pemikiran individu secara luas lewat tulisan. Kebebasan berpikir telah merebak dan setiap manusia mampu menyebarkan gagasan dan pendapat mereka jauh lebih luas daripada masa-masa sebelumnya. Konsep inilah yang menyebabkan global knowledge semakin besar. Apa yang manusia tahu dapat diketahui oleh manusia lain dengan menggunakan tulisan.

Oleh: Anindita Saktiaji

Leave a Reply