Skala Manusia vs Alam

Kita pasti sering berfikir bahwa kehidupan kita adalah segala-galanya. Apa yang kita dapatkan dari kelahiran hingga kematian adalah sebuah konsekuensi logis kehadiran kita di alam semesta ini. Aku juga seringkali berfikiran seperti itu. Mengganggap bahwa dunia ini adalah sebuah medan pertempuran yang harus dimenangkan, bukan sebuah jalan panjang yang ujungnya bahkan tidak pernah kita ketahui.

A man gazes at the Milky Way outside his house

Jika kita melihat alam sekitar kita, bumi, matahari, planet-planet, galaksi, kita menyadari bahwa kita hanyalah bagian sangat kecil dari apa yang kita sebut sebagai alam semesta. Bahkan, bintang terdekatpun dari kita tidak akan pernah dapat kita kunjungi dengan teknologi yang ada pada kita sekarang ini. Dengan kecepatan cahaya, berharap saja kita bisa mendapatkannya, kita akan sampai pada proxima centuri pada rentang waktu 4 tahun. Namun, sesuai dengan perhitungan Einstein, kita tidak akan pernah mampu mencapai kecepatan cahaya. Karena kita adalah materi, dan materi tidak akan pernah mampu menembus batas kecepatan cahaya.

Usia alam semesta yang kita tempati nyaris 13.4 milyar tahun. Sebuah angka yang sangat-sangat tua dibandingkan usia umat manusia yang rata-rata tidak lebih dari 80 tahun. Dalam usia tersebut, barangkali beberapa orang diantara kita akan memperoleh kegemilangan yang menyilaukan, sedangkan yang lainnya akan hidup dalam sebuah arus kehidupan yang sama. Sebenarnya, apa yang menjadi prioritas kita ketika hidup? Apakah menjadi manusia yang baik? Menjadi manusia yang berbakti? Menjadi seorang religius? Atau menjadi seorang oportunis?

Ketika alam semesta lahir, ia tidak mempunyai apapun. Ia tidak mempunyai cahaya, ia tidak mempunyai bintang, ia tidak mempunyai planet, apalagi sebuah galaksi. Ia hanyalah sebuah tempat mungil, tidak lebih dari sebesar biji beras, sangat padat, penuh potensi, panas dan sangat terasing. Tidak ada apa-apa di dalamnya, namun dari sebuah ketiadaan, keberadaan bisa terbentuk. Lalu munculah materi dan antimateri yang bertempur layaknya prajurit yang berperang di Thermophilia. Setelah itulah muncul materi-materi dasar yang ada di tabel periodik unsur, muncul juga bintang-bintang pertama dan kemudian setelah kematian bintang-bintang itu, munculah generasi bintang-bintang kedua atau ketiga seperti matahari yang menjadi pusat tata surya kita.

Sekilas penjelasan diatas seperti donggeng anak-anak yang dibacakan sebelum tidur. Namun cerita itu bahkan tidak menyentuh sedikitpun rentang masa kita sebagai spesies. Sebuah cerita yang ada jauh di belakang waktu dan ruang yang kita tinggali. Namun demikianlah alam semesta yang kita tinggali. Ia besar, dibandingkan dengan ukuran kita tentu saja. Namun, apakah limit dari ukuran tersebut konstan terhadap apa yang ada di luar alam semesta yang kita tinggali. Bahkan kita tidak bisa membayangkan apa itu luar, karena ruang dan waktu itu hanya ada di alam yang kita tinggali?

Manusia  sekuat dan sebesar apapun, sebenarnya tidak mempunyai skala apa-apa dibandingkan dengan alam ini. Kita adalah kecil dan barangkali alam semesta ini kecil dibandingkan sesuatu yang lain. Dan walaupun kecil itu sendiri tidak bisa membandingkan antara alam semesta dengan sesuatu yang lain karena nyaris ukuran ruang waktu itu relative dan hanya ada di ruang dan waktu yang kita kenali.

Seperti alam siklus alam semesta ini, apapun yang mati akan menjadi penyebab munculnya sesuatu yang lain. Bintang-bintang pertama yang mati memungkinkan munculnya elemen-elemen berat pada bintang-bintang baru seperti matahari kita. Dan elemen-elemen itulah juga yang kemudian menyusun sebagian unsur di tubuh kita. Bintang-bintang baru matipun sebagian kecil akan menyebabkan timbulnya lubang hitam, sesuatu yang selama ini dirasa menakutkan. Namun dalam perhitungan terbaru, dari lubang-lubang hitam itulah alam semesta baru akan muncul. Dan mungkin di dalamnya ada bintang dan planet seperti kita, bahkan mungkin ada entitas hidup seperti yang kita lihat di sekitar kita.

Leave a Reply