Radikalisasi Agama dan Atheisme

Agama sejatinya muncul untuk memperbaiki kehidupan manusia. Dari yang penuh derita menjadi bahagia, dari tanpa aturan menjadi teratur, dari yang tanpa tujuan menjadi ada tujuan, dari yang tak berhukum menjadi ada hukum. Walaupun wujud dan sumbernya berbeda, namun semua agama kurang lebih mempunyai muara yang sama. Keharmonisan kehidupan manusia di muka bumi ini. Akan tetapi, sama dengan berbagai macam pemikiran manusia lainnya. Agama juga dapat diartikan dengan berbagai macam  telaah, dari yang paling longgar sampai yang paling ketat, dari yang masih murni sampai yang menyimpang, dari yang moderat sampai yang radikal.

Radikal

Di dunia barat, Atheisme merebak karena kekecawaan masyarakat terhadap gereja. Ilmu orthodox yang telah berabad-abad mengakar di dalam masyarakat seolah sirna dalam semalam. Atheisme telah menjadi virus dan merebak dengan sangat cepat. 20% masyarakat Uni Eropa dan 12% masyarakat USA menyatakan atheis. Di satu sisi, Islam di Uni Eropa meningkat pesat menjadi 8% sedangkan di USA kisarannya masih 0.9%. Namun ada satu fakta menarik, di Saudi Arabia terdapat sebuah survey yang menyatakan bahwa, ada 5% penduduk mereka yang menyatakan tidak berafiliasi dengan agama.

Jika survey diatas benar, maka 1 dari 20 penduduk Saudi Arabia memilih untuk tidak berafiliasi dengan agama manapun. Sebuah fakta yang cukup mencenggangkan bagi negara yang menerapkan hukum Islam secara ketat. 1.5 juta penduduknya dari 30 juta memilih untuk atheis. Apakah ada yang salah dengan negara itu?

Sebuah kutipan menarik dari salah satu responden menyatakan bahwa ia memilih untuk tidak berafiliasi karena ia melihat inkonsistensi dari pemeluk agama. “Apa yang ia katakan berbeda dengan apa yang ia lakukan”. – Kata orang itu. Agama yang seharusnya menjadi alat pemersatu dan tempat berkasih sayang justru berubah menjadi penindas. Begitulah jika agama menjadi alat pembenar, bukan alat untuk mencari kebenaran.

Continue reading →

Apakah Science Membuat Anda Atheis?

Atheis me sekarang meningkat pesat di negara-negara barat. Orang yang menyatakan Not religious atau not spiritual di Amerika sekarang mencapai angka 15%. Di Inggris angka tersebut mencapai lebih dari 39% dan mungkin akan terus meningkat. Sains diasosiasikan dengan fenomena ini. Adanya teori Evolusi, Big Bang, atau realisme lain dianggap mampu menggeser kepercayaan agama yang dicap sebagai penuh dogma. Agama dianggap sebagai sebuah pemikiran yang ketinggalan zaman, kuno, atau memang seperti itukah kenyataannya?

Religion vs Atheist

Di dalam sejarah, banyak sekali orang yang dicekal karena dianggap melecehkan institusi agama. Nama-nama terkenal seperti Copernicus dan Galileo adalah contohnya. Mereka di exkomunikasikan oleh institusi agama masing-masing, dikucilkan, dan bahkan dianggap sebagai seorang yang murtad. Di berbagai institusi agama lain, kejadian serupa kurang lebih juga pernah terjadi.

Copernicus dan Galileo dijadikan sebagai simbol oleh pendukung mereka. Menjadikan mereka sebagai martir dalam sebuah perang suci melawan institusi agama. Mengganggap bahwa institusi agama adalah sebuah kesalahan, dan pemikirian realisme adalah kunci untuk mendapatkan pencerahan. Bukan melalui jalan mempelajari agama. Dan jurang pemisah antara agama dan sains tidak pernah mengecil setelahnya. Hingga saat ini, scientist lebih memilih untuk menjauhkan diri mereka dari institusi agama dan mengatakan bahwa, “kami belum menemukan kebutuhan alam semesta ini untuk Tuhan.”

Continue reading →

Para Kaum Agnostic?

Alam adalah tempat kita lahir dan tumbuh, sebuah tempat yang begitu memukau sekaligus penuh dengan misteri. Sampai saat ini, kita belum jelas mengetahui apa itu sebenarnya alam semesta. Menurut Newton, alam semesta adalah sebuah ruangan statis, ada sebagaiamana ada sekarang ketika ia diciptakan. Sementara Einstein berpendapat bahwa alam semesta adalah sebuah ruang dan waktu yang merupakan satu kesatuan. Sedangkan, ilmuwan sekarang mengganggap bahwa alam semesta itu seperti sebuah getaran senar atau membran yang melintang diantara dimensi, suatu teori yang nantinya disebut sebagai “String Theory.”

Agnostic

Dalam agama, seseorang cenderung melihat bahwa alam semesta adalah bentukan dari Tuhan, titik dan itu final. Orang yang percaya terhadap doktrin seperti ini cenderung untuk tidak mempercayai bahwa bisa saja alam semesta ini tumbuh dan berkembang sesuai dengan waktu. Namun, ada kalanya juga, seorang religius seperti Georges Lemaître justru mengajukan sebuah proposal yang nantinya berkembang menjadi teori Big Bang. Sebuah teori yang justru bagi banyak orang membuktikan bahwa keberadaan alam semesta tidak membutuhkan campur tangan Tuhan untuk terbentuk.

Baik menjadi seorang atheis maupun religius bukanlah sebuah tolak ukur yang mampu mendefinisikan apakah seseorang akan dapat mencari arah kebenaran dari fenomena alam semesta ataupun tidak. Justru sekarang banyak dari ilmuwan yang menyatakan dirinya bukanlah seorang atheist. Padahal dahulu, atheisme sangat diidentikan dengan kematangan seseorang dalam berpikir rasonal. Sekarang, para ilmuwan itu lebih memilih untuk menyebut diri mereka sebagai seoarang agnostic. Yang berarti seseorang itu tidak mempercayai namun juga tidak menolak kepercayaan terhadap Tuhan.

Kaum Agnostic percaya kepada data, dan selama data hingga sejauh ini tidak membuktikan keberadaan Tuhan, maka mereka akan tetap berpendapat sesuai data yang mereka miliki. Namun, jika suatu saat mereka menemukan sebuah data yang mampu menunjukan keberadaan Tuhan, entah dalam bentuk fisik maupun matematis teori, maka mereka akan siap mempercayai bahwa Tuhan itu ada.

Continue reading →