Hitler Invaded Poland – 75 Years of World War 2

From: fox.com

On September 1, 1939, the German army under Adolf Hitler launched an invasion of Poland that triggered the start of World War II (though by 1939 Japan and China were already at war). The battle for Poland only lasted about a month before a Nazi victory. But the invasion plunged the world into a war that would continue for almost six years and claim the lives of tens of millions of people.

Poland Invasion

Hitler salutes as he oversees troops during the Nazi occupation of Poland. The troops march in formation toward a wooden bridge, constructed by the Nazis across the San River, near Jarolaw, Poland

Today, 75 years later, Hitler is regarded as one of history’s great villains. So it’s easy to forget how slowly and reluctantly the worlds most powerful democracies mobilized to stop him. France and Britain did declare war on Germany two days after the invasion of Poland, but it would take them another eight months before they engaged in full-scale war with the Nazis. The United States wouldn’t join the war against Hitler until December 1941, a full two years after the war began.

Why did Adolf Hitler invade Poland?

The short answer is that Adolf Hitler was a ruthless dictator with dreams of conquering all of Europe. Annexing Poland was a step in that larger plan. The Polish military wasn’t powerful enough to resist him, and Hitler calculated — correctly, as it turns out — that Europe’s other powers wouldn’t intervene in time.

This map shows how World War I reshaped Europe. The red lines show the new borders drawn by the victorious Allies at the Paris Peace Conference of 1919

This map shows how World War I reshaped Europe. The red lines show the new borders drawn by the victorious Allies at the Paris Peace Conference of 1919

The invasion of Poland occurred almost exactly 25 years after the start of World War I in August 1914. That war ended in Germany’s defeat, and in 1919 the victorious allies carved up territory that had been part of Germany, Austria-Hungary (Germany’s defeated ally), and Russia (which had fallen to the Bolsheviks) into an array of new countries.

One of these new countries was Poland, which before 1919 had last existed as an independent nation in 1795. Another was Czechoslovakia — its awkward name reflects the Allies’ decision to combine areas dominated by two different ethnic groups, Czechs and Slovaks, into a single nation.

Hitler was contemptuous of these new nations, which he regarded as artificial creations of the Allies. There were significant German populations in both countries, and Hitler used trumped-up concern for their welfare as a pretext to demand territorial concessions.

In the infamous 1938 Munich Agreement, British Prime Minister Neville Chamberlain agreed to Hitler’s annexation of the Sudetenland, portions of of Czechoslovakia with ethnic-German majorities (Czechoslovakia itself was excluded from the negotiations). Chamberlain claimed that the deal had averted another massive European war, but it only delayed the conflict while making Hitler more powerful when the war finally came.

Continue reading →

God Complex Bagi Para Gamer

Bermain game adalah sebuah kegiatan menarik bagi siapa saja. Permainan, akan membuat orang melupakan sejenak hiruk pikuk kegiatan yang melelahkan di dunia nyatanya. Bukan hanya anak-anak, bermain game juga sangat digemari oleh orang-orang dewasa. Apalagi sekarang banyak sekali bermunculan genre game yang memang ditujukan untuk dimainkan para orang dewasa (bukan berarti yang berifat konten dewasa dan pornografi).

Bolshoi

Alam Semesta Dalam Simulasi NASA

Game mempunyai banyak sekali jenis, dari mulai yang paling simple berupa permainan papan seperti catur dan halma, hingga game strategy yang mempunyai banyak sekali pertimbangan ketika memainkannya. Namun satu yang pasti, bermain game akan membuat seseorang mempunyai sebuah dunia yang baru, entah di dunia itu dia akan berperan sebagai seorang penyihir, tentara, petani, gubernur, jendral, atau bahkan presiden. Namun, ada sebuah kecenderungan persepsi lain ketika seseorang sedang bermain sebuah game. Seseorang kadang mempunyai kecenderungan untuk mengganggap dirinya sebagai Dewa atau Tuhan.

Ketika seseorang bermain game, dan dia seolah-olah dapat merubah jalannya sejarah atau sebuah peristiwa, maka orang tersebut kemungkinan akan merasakan sebuah sensasi bahwa ia mempunyai sebuah kekuatan lebih dibandingkan orang-orang pada umumnya. Pada tahapan tertentu, ini bukanlah sebuah hal yang buruk, bahkan bisa dikatakan justru merupakan sesuatu yang kreatif.

Beberapa ilmuwan sekarang ini sedang mencoba membuat sebuah simulasi alam semesta di NASA. Simulasi itu mencakup bagaimana Big Bang terjadi hingga terbentuknya galaksi seperti yang kita lihat sekarang ini. Namun, simulasi tersebut belum dapat melihat jauh lebih ke dalam, misalnya dalam pembentukan planet, atau bahkan partikel-partikel di dalam planet itu sendiri. Bagaimana jika simulasi semacam ini dapat dilakukan hingga pada level materi yang paling dalam?

Puluhan atau bahkan ratusan tahun dari sekarang, kemampuan komputer akan jauh lebih meningkat daripada sekarang ini. Dan di masa-masa itu, manusia akan mampu melakukan simulasi jauh lebih kompleks dan jauh lebih mendalam daripada sekarang ini. Bahkan, tidak menutup kemungkinan, pembuatan simulasi-simulasi kompleks tersebut akan menjadi sebuah kegiatan sehari-hari, yang dapat manusia lakukan dari sebuah game.

Continue reading →

Europa Universalis 4: Sebuah Game Strategi yang Membuat Anda Melek Sejarah

Paradox Entertaiment kembali meluncurkan seri terbaru Europa Universalis 4 pada Agustus 2013 dan terus merilis patch terbarunya hingga ada mod Wealth of Nations yang meluncur pada tanggal 29 Mei 2014 kemarin. Seperti seri Europa Universalis sebelumnya, game ini bergenre RTGS atau Real Time Game Strategy yang lebih mempertimbangkan aspek strategi daripada aksi dalam memainkannya. Anda diminta untuk memilih salah satu dari sekian banyak negara di dunia yang ada antara tahun 1444 hingga 1821 dan memainkannya. Setiap negara mempunyai tantangan dan tingkat kesulitan masing-masing dalam memainkannya, dan setiap misi yang anda ingin capai mempunyai konsekuensi tersendiri terhadap sejarah yang akan terukir.

Anindita Saktiaji - Europa Universalis

Inti dalam game ini adalah, apakah anda mampu mengubah sejarah? Misalkan saja, anda bermain sebagai negara Ottoman Empire atau Turki sekarang ini. Mampukah Ottoman Empire itu menaklukan Vienna pada tahun 1683? Atau bahkan menusuk jauh lebih dalam ke jantung Eropa. Atau, misalkan saja Anda bermain sebagai Spanyol, mampukah Anda mengkolonialisasi seluruh benua Amerika sebelum negara-negara eropa lainnya datang dan berebut kekuasaan kolonial mereka masing-masing di belahan Amerika Utara?

Tentu menarik sekali ketika kita dapat membuat sebuah perubahan sejarah dengan menggunakan game ini. Saya sendiri memainkan beberapa negara di dalam game ini. Dari mulai Nippon sampai Majapahit. Barangkali anda sekalian bertanya, Wait what? Majapahit? Ya, game ini menyediakan juga beberapa negara di Nusantara yang bisa dimainkan seperti Majapahit, Mataram, Banten, Aceh, Brunai, dan Malacca.

Namun, ada satu kelemahan di sini, luas wilayah dan timing daerah kekuasaannya kurang tepat. Misalkan, Brunai menguasai seluruh Kalimantan tanpa terkecuali pada tahun 1600an, Aceh menguasai seluruh sumatera pada tahun 1500an, Mataram hanya menguasai sedikit bagian dari pulau jawa sedangkan wilayah lainnya adalah tanah kosong yang dianggap dihuni oleh kaum primitive (mirip dengan benua Amerika, Australia, dan Polinesia). Padahal di seluruh pulau Jawa jelas-jelas sudah ada pemerintahan yang tetap dan kerajaan yang berkuasa di waktu itu.

Memang tidak ada game yang tak retak, ah maksudnya tidak ada gading yang tidak retak. Tidak ada game sejarah yang benar-benar sempurna menjelaskan segala aspek sejarah yang pernah terjadi. Namun, setidaknya Europa Universalis ini mampu memberikan anda sedikit gambaran tentang sejarah dunia, negara-negara apa yang terlibat, pemimpin-pemimpin dunia di waktu itu, tokoh-tokoh militer dan pemikir yang pernah lahir, ataupun bagaimana menjalankan sebuah pemerintahan di masa abad pertengahan.

Continue reading →