Seberapa Kuat Militer Indonesia?

Akhir-akhir ini kita sering mendengar perdebatan sengit mengenai seberapa kuat sebenarnya militer yang dimiliki oleh Indonesia. Ada yang mengatakan bahwa kekuatan militer kita masih jauh bahkan dari negara tetangga. Namun ada pula yang menyatakan bahwa militer Indonesia sudah jauh lebih kuat dan bahkan dapat disandingkan dengan negara-negara maju. Jadi mana yang benar?

Mengukur kekuatan militer sebuah negara sebenarnya tidaklah mudah. Sebagai contoh, Perancis pada tahun 1940 adalah militer terkuat kedua di dunia setelah Uni Soviet. Mereka memiliki ratusan divisi infantri serta mempunyai kekuatan udara dan laut yang tidak dapat dianggap enteng. Perancis juga mempunyai sekutu yang kuat seperti Inggris, dimana keduanya merupakan pemenang dari Perang Dunia 1. Hanya saja, kekuatan militer mereka tak mampu membendung taktik serangan Jerman, yang mungkin secara rangking waktu itu hanya berada di urutan ke 3. Lalu, apa yang salah dengan Perancis?

Kebanyakan orang, dan sebagian besar rangking (dalam hal apapun) biasanya terlena dengan faktor jumlah. Padahal, militer juga mempunyai aspek kualitas persenjataan, taktik level rendah, dan juga strategi level besar. Ketiga aspek itu dikombinasikan dengan moral dan disiplin pasukan menjadi penentu bagi kekuatan sebuah negara.

Continue reading →

Dualisme Strategi Militer Jepang di Perang Dunia 2

Bagi Jepang, Perang Dunia 2 dimulai jauh lebih awal daripada di barat. Invasi Jepang ke China di tahun 1937 yang terkenal dengan Marco Polo Bridge Incident menjadi titik awal perjalanan panjang militer negeri matahari terbit itu untuk mendominasi Asia. Sebuah perjalanan yang akan memakan jutaan nyawa baik militer maupun penduduk sipil. Konflik yang bahkan memakan jauh lebih banyak korban dibandingkan dengan pertempuran-pertempuran di Eropa.

Pertempuran dengan China diawali dengan kesuksesan yang cukup meyakinkan. Jepang dapat merebut kota-kota besar seperti Beijing, Shanghai, dan bahkan ibukota China Nasionalis di Nanking. Kekejaman Jepang di kota tersebut akan ditulis di dalam sejarah sebagai “The Rape of Nanking” atau “Nanking Massacre”. Dimana ratusan ribu penduduk kota Nanking terbunuh (atau dibunuh secara sistematis) dan ribuan wanita diperkosa oleh tentara Jepang.

Kejatuhan Nanking di tahun 1938 di atas kertas seperti menjadi titik akhir perjuangan China. Mereka seperti kehilangan taring untuk (bahkan sekedar) melindungi ibukotanya dengan perlawanan berarti. Kekuatan militer China, terutama China Nasionalis pimpinan Chiang Kai Shek sepertinya sudah berada di ambang kehancuran.

Continue reading →

Review Bali Zoo

Saya berkesempatan mengunjungi Bali Zoo pada 26 Agustus yang lalu bersama keluarga. Kebetulan, si kecil sangat suka dengan wisata kebun binatang jadi ketika ke Bali, kami memutuskan untuk mampir ke sana. Lagi pula, katanya Bali Zoo adalah salah satu kebun binatang terbaik di Indonesia. Hal itu menambah rasa penasaran kami untuk mengunjungi tempat wisata itu.

Welcome to Bali Zoo
Welcome to Bali Zoo

Satu saran sebelum mengunjungi Bali Zoo, ada beberapa paket wisata seperti dinner atau menungganggi gajah. Sebisa mungkin, beli paket itu dari situs travel terpercaya sebelum menggunjungi Bali Zoo. Kita bisa mendapat potongan harga yang cukup signifikan. Saya sendiri waktu itu hanya membeli paket basic. Itupun saya mendapat potongan harga cukup lumayan daripada harus beli on the spot. Harga per tiket rata-rata Rp. 200,000 jika membeli on the spot. Tapi dengan online, Rp 200,000 sudah bisa mendapatkan tiket untuk dua orang.

Continue reading →

Dari Indonesia Untuk Dunia

Nasionalisme menjadi fenomena yang fantastis di akhir abad 19 dan awal abad 20. Negara-negara di dunia disatukan atau dipisahkan oleh semangat tersebut. Kelompok-kelompok manusia mulai mencari apa yang menjadi pemersatu diantara mereka dan juga pembeda. Persamaan bahasa, warna kulit, dan sejarah biasanya adalah faktor-faktor utama. Bangsa-bangsa seperti Jerman dan Italia yang selama berabad-abad tercerai berai mulai menyatukan diri. Sementara itu Bangsa Arab dibawah Usmaniyah dan Slavia di bawah Austro-Hongaria mulai mempertanyakan jati dirinya. Di titik inilah, sebuah negara baru yang kuat akan lahir atau negara tua yang sakit akan tenggelam.

Peta Hindia Timur 1635

Dalam arus nasionalisme yang deras, hanya segelintir negara saja yang mencoba mempertahankan keberagamannya. United States adalah salah satunya, sebuah negara yang dibangun tanpa bangsa tertentu dan menerima hampir seluruh bangsa lain untuk tinggal di negaranya.

Memang ada satu dua hal yang bisa kita bantah dari argumen itu. Bangsa Indian, kulit hitam, dan beberapa bangsa Asia perlu berjuang lebih lama untuk mendapatkan status yang sama dengan saudara Eropa mereka. Namun, inti dari semangat negara tersebut adalah, tidak ada nasionalisme yang membangunnya. Semua dibangun diatas keberagaman dan persamaan nasib diatas tanah dunia baru.

Continue reading →

Bagi Penentang Demokrasi

Akhir-akhir ini, kita sering mendengar denggung-denggung yang mencoba mengusik demokrasi. Sistem politik yang secara de facto sudah menjadi jati diri negara ini semenjak 20 tahun lalu (walaupun orde baru dan orde lama sama-sama mengklaim demokrasi) mulai dari reformasi. Demokrasi, oleh sebagian orang itu, entah dianggap gagal, atau produk asing, atau tidak sesuai dengan agama, atau dianggap sesat. Intinya, demokrasi dianggap harus diganti dengan sistem lain yang bagi sebagian orang itu dirasa tepat.

Demokrasi, Pilihan, dan Kebebasan

Demokrasi sendiri disebut-sebut lahir di Yunani ketika era city-states berkembang. Namun ide dari demokrasi itu sendiri ada di banyak tempat lain dan berkembang dengan cara berbeda. Di Indonesia sendiri, demokrasi berkembang melalui cara musyawarah. Yang secara luas dikenal sebagai penggambilan keputusan bersama secara mufakat, tanpa menggunakan voting. Tapi pada masa-masa tertentu, penggambilan suara terbanyak terkadang tetap dilakukan di musyawarah dan itu sah-sah saja.

Selepas era rovulusi Amerika, perlahan negara barat mulai mengadopsi sistem demokrasi modern yang kita kenal sekarang ini. Pemilihan pemimpin dilakukan dengan pengambilan suara baik itu secara langsung ataupun diwakilkan melalui parlemen. Pun-banyak negara yang mengadopsi demokrasi-monarki (seperti Inggris sampai ke Jepang) dimana monarki masih menduduki tahta-nya, namun pemerintahan dijalankan oleh elit politik.

Continue reading →