Mengapa Penduduk Jakarta Malas Menggunakan Transportasi Umum

Penduduk Jakarta tiap hari mengeluhkan tentang kemacetan yang parah, namun sebagian besar mereka tetap saja memilih mobil maupun motor sebagai kendaraan utama mereka. Ini tentu sangat kontradiksi dengan semangat anti macet itu sendiri. “Jika memang tidak mau macet, beralihlah menggunakan transportasi umum.” Kurang lebih begitulah selogan yang terus digembor-gemborkan pemerintah. Namun, transportasi umum manakah yang mereka maksud?

Transportasi Jakarta

Jakarta sekarang mempunyai dua transportasi andalan, KRL (Commuter Line) dan Transjakarta. Jika KRL menghubungkan antara pusat kota dengan pusat-pusat perumahan penduduk di sekitaran jabodetabek, maka transjakarta menghubungkan antara satu titik dengan titik lain di tengah kota. Idenya sih seperti itu, tapi dalam kenyataannya, masih banyak sekali kelemahan dari dua transportasi utama tersebut. Dan berikut akan kami bahas beberapa kelemahan dari transportasi umum di Jakarta.

KRL barangkali adalah angkutan umum yang paling banyak penggunanya setiap pagi dan petang. Bertepatan dengan berangkat dan pulangnya orang dari tempat kerja mereka masing-masing. Ketika jam-jam padat tersebut, KRL seolah menjadi ladang pertumpahan darah. Banyak sekali orang yang menggunakan moda transportasi masal tersebut sehingga penuh sesak. Kenyamanan yang kurang seperti itu membuat orang malas menggunakan angkutan masal. Mereka lebih memilih mobil atau motor jika ingin cepat. Setidaknya, di mobil mereka dapat duduk dengan nyaman dan aman. Atau jika dengan motor, mereka dapat berangkat dengan cepat.

Continue reading →

One Stop Banking – Harapan Terhadap Sistem IT BNI

BNI adalah salah satu bank terbesar di Indonesia yang mempunyai lebih dari 1000 cabang dan melayani lebih dari 9 juta pelanggan di seluruh pelosok negeri. Ia sudah berbisnis selama lebih kurang 70 tahun, waktu yang tidak dapat dikatakan singkat untuk sebuah unit usaha. Saya sendiri mengenal BNI kurang lebih selama 4 tahun lamanya. Tercatat sejak awal saya bekerja di perusahaan tempat saya berkarya sekarang.

Bank BNI

Banyak harapan yang kami, sebagai nasabah, ingin sematkan dari BNI. Salah satunya adalah kemudahan akses terhadap sistem IT bank ini. Di sini saya memang khusus membahas mengenai harapan saya ke depan terhadap IT bank ini. Alasannya, yang pertama adalah, saya berlatar belakang pendidikan IT dan bekerja di bagian IT di sebuah perusahaan di Jakarta yang menggunakan layanan IT bank ini. Kedua, IT merupakan pokok dari dunia usaha, terutama sekali usaha di bidang perbankan.

IT atau information technology ke depan bukan lagi sebuah barang mewah yang membedakan antara pelayanan bank satu dengan bank lainnya. Melainkan sudah menjadi barang pokok yang harus dimiliki oleh sebuah bank untuk dapat bersaing dengan bank lainnya. Lalu apa yang menjadi pembeda diantara keduanya? Jika antara bank satu dengan yang lain mempunyai pelayanan dengan menggunakan IT?

Banking Service
Perkembangan Service Perbankan dengan IT

Jawabannya adalah kualitasnya, sebuah layanan IT akan dinilai baik buruknya dari kemudahan akses dan cara penggunaannya. Sebuah layanan perbankan yang diwujudkan dalam sebuah portal (contoh untuk BNI: http://bni.co.id/ atau lewat aplikasi mobile) adalah salah satu cara untuk memanjakan nasabah. Cukup dengan mengakses portal tersebut, nasabah dapat dengan mudah untuk melihat saldo atau melakukan transaksi e-banking. Dengan melalui IT, bank tidak lagi terbatas dengan masalah fisik atau gedung. Bank dapat berada dimanapun dan kapanpun, everywhere and anytime banking.

Namun ada satu yang perlu untuk diingat!

Bank saat ini bukanlah melulu sebuah tempat untuk menyimpan dan meminjam uang. Itu adalah paradigma lama yang harus segera diubah agar orang tidak tersesat di kemudian hari. Di Bank, saat ini kita bisa melakukan investasi, baik melalui deposito, reksadana, dan lain sebagainya. Ada juga jual beli obligasi dan sukuk, pembuatan Giro, atau juga pembuatan dana pensiun.

Continue reading →

Phobia Terhadap Komunisme

Akhir-akhir ini banyak sekali beredar foto-foto orang-orang memakai palu arit yang beredar di sosial media. Reaksi keraspun bermunculan dimana-mana dan slogan-slogan anti PKI-pun muncul layaknya kita masih hidup di jaman orde baru. Saya sendiri mencoba mencari apa yang salah dengan palu arit dan mengapa ketakutan itu bisa bangkit sekarang ini?

(Credit to Paradox Interactive)
(Credit to Paradox Interactive)

Saya jadi ingat pada masa-masa SMP dahulu, ketika saya mengajak teman-temanku untuk bermain game Red Alert di PC waktu itu. Di depan game, muncul lambang palu arit, dan sebagian mereka langsung tersentak. “Wah, gamenya tentang PKI?” kata mereka. Dan raut muka mereka berubah menjadi cukup tak nyaman.

Entah apa yang salah dengan lambang palu arit itu sendiri. Komunisme barangkali telah mengakar kuat sebagai musuh bangsa dengan cap PKI. Di luar negeri, paham komunisme telah runtuh satu demi satu. Dan oh ya tentu saja masih ada China, yang sekarang harus kita sebut sebagai Tiongkok karena alasan yang belum saya ketahui sepenuhnya.

Apakah China sekarang masih mengacu pada komunisme sosialis atau Stalinist seperti dahulu?

Continue reading →

Perlunya Membentuk Pakta Pertahanan ASEAN

China belum lama ini melakukan claim terhadap spartly island yang sekian lama dianggap dimiliki oleh Filipina. Mereka juga berseteru dengan Vietnam terkait batas wilayah perbatasan. Dan negara kita belum lama ini bersitegang masalah pencurian ikan, dimana kapal nelayan China yang akan ditangkap sengaja dihalangi oleh kapal coast guard negara tirai bambu itu. Tiga negara besar di ASEAN tanpa takut diganggu oleh China, apakah itu artinya persatuan Asia Tenggara ini tidak mempunyai taring di mata internasional.

Asean Military

Walaupun ASEAN secara rutin mengadakan pertemuan antar menteri-menteri pertahanannya, namun pakta pertahanan seperti NATO belum pernah terwujud. Dengan total penduduk 650 juta lebih dan sumber daya alam melimpah yang dimilikinya. ASEAN sebenarnya mampu menjadi pemain global dunia yang patut untuk diperhitungkan. Dan jika ia berniat untuk membentuk sebuah pakta pertahanan, guna membendung dua kekuatan besar yang sedang berkembang di Asia (India dan China). Maka tidak menutup kemungkinan jika ASEAN justru mampu lebih besar daripada kedua negara yang sedang naik daun tersebut.

Indonesia memang memegang teguh politik bebas aktif, sebuah falsafah yang merupakan wujud netralitas untuk tidak berpihak kepada Blok Barat maupun Blok Timur kala Perang Dingin. Sekarang, banyak yang mengartikan bahwa Indonesia seharusnya tidak tergabung dengan pakta pertahanan manapun dan lebih berpihak kepada perdamaian. Nampak jika kita lihat, Indonesia cukup aktif mengirimkan kontingennya ke berbagai negara lewat PBB. Namun, apakah itu cukup untuk menapaki tantangan ke depan?

Continue reading →

5 Sebab Kemacetan Jakarta Bertambah Parah

Jakarta sebagai pusat pemerintahan sekaligus ekonomi Indonesia mempunyai penyakit menurun yang sudah kritis. Penyakit itu adalah kemacetan, yang boleh dibilang telah menjadi pemandangan sehari-hari dan bahkan dianggap wajar oleh sebagian besar penduduk ibukota. Inovasi-inovasi coba digelontorkan, namun nyatanya sampai detik ini tak ada obat mujarab yang jitu untuk mengatasi kemacetan Jakarta.

Jakarta

Pertanyannya adalah, apakah ada kota-kota di dunia ini yang penduduknya banyak namun tidak macet? Jawabannya adalah Ya, dan ternyata kota-kota seperti itu banyak di dunia ini. Salah satu yang paling dekat adalah Singapore, yang sedikit jauh namun masih dapat kita contoh adalah Seoul dan Tokyo. Khusus untuk Singapore, kita seharusnya dapat belajar banyak dari kota sekaligus negara tetangga itu yang dapat dikunjungi hanya dengan tiket pesawat seharga 300 ribu, plus tanpa visa. Tiket itu kurang lebih harganya sama dengan tiket kereta api saya untuk pulang kampung.

Di bawah ini saya mencoba merangkum beberapa sebab mengapa kemacetan Jakarta kian hari makin parah saja. Pernyataan saya ini murni pengamatan seorang amatir dan bukan komentar ahli tata ruang kota. Jadi mohon maaf sebelumnya jika dirasa banyak kekurangan di sana-sini. Namun saya mencoba untuk tetap seakurat mungkin, seobyektif mungkin, dan se to-the-point mungkin – berdasarkan pengalaman pribadi dan kegiatan sehari-hari saya di kota ini. Berikut beberapa penyebab semakin ruwetnya kemacetan Jakarta dari kacamata pribadi saya:

1. Pejalan Kaki Belum Menjadi Raja

Mengapa Jakarta macet? Jawaban yang paling mudah adalah banyaknya kendaraan bermotor pribadi yang berlalu lalang. Coba saja jika orang tidak menggunakan kendaraan pribadi. Jalanan pasti terasa lenggang dan sepi. Ini bukan sebuah pernyataan lelucon, dan juga bukan sebuah konotasi maupun sarkasme. Dan mengapa orang memilih untuk menggunakan kendaraan bermotor daripada jalan kaki atau menggunakan angkutan umum? Itu karena pejalan kaki masih dianggap sebagai orang nomor sekian derajatnya dibandingkan dengan orang yang menggunakan kendaraan bermotor pribadi.

Di Jakarta, fasilitas yang digunakan pejalan kaki sangatlah minim. Trotoar sempit, rusak, atau bau karena ia hanya berfungsi sebagai pentup got. Tempat penyeberangan dibuat susah, atau dibuatkan jembatan penyeberangan yang sebenarnya sangat menyiksa para pejalan kaki. Entah mengapa Jakarta begitu hobi membuat jembatan penyeberangan – sebaliknya, tempat penyeberangan yang nyaman justru dibredel se-sedikit mungkin. Tidak ada tempat penyeberangan yang menggunakan timer, seperti di negara2 maju. Satu tempat penyeberangan yang pernah saya temui dengan menggunakan timer hanya ada di daerah sekitar monas. Entah apa fungsinya disana, karena pada jam sibuk, orang justru tidak ada yang menggunakan fasilitas itu.

Continue reading →