Apa Sebenarnya Khilafah Itu?

Dengan usaha dibubarkannya HTI oleh pemerintah Indonesia, kata Khilafah semakin lama semakin banyak dicari. Organisasi itu dianggap anti terhadap pemerintahan dan sistem demokrasi sekarang. Mereka selalu mengganggap bahwa Khilafah adalah hal yang wajib ditegakkan karena itu adalah termasuk ajaran Islam. Khilafah sendiri atau Caliph memang selama berabad-abad menjadi ciri dari pemerintahan Islam, terutama di timur tengah dan sekitarnya. Namun apa sebenarnya sistem Khilafah itu?

Pasukan ISIS dengan Bendera Khas Mereka

Khilafah dipimpin oleh Kalifah atau Caliphate, orang yang dianggap sebagai penerus dari Nabi Muhammad. Pada masa awal, penentuan siapa orang yang dianggap penerus Nabi terbilang cukup mudah. Walaupun tidak dipungkiri terjadi beberapa perselisihan dan pertumpahan darah. Orang-orang terdekat Nabi yang nantinya dikenal sebagai Kulafaur Rasyidin satu persatu menggantikan tampuk pemerintahan Nabi Muhammad dengan sistem dipilih melalui dewan Shura. Dewan ini jika di Indonesia mirip MPR yang jaman dahulu bertugas untuk memilih presiden dan wakil presiden.

Continue reading →

Review (Buku) : Holy War – Perang Suci (Karen Armstrong)

Buku Holy War, atau yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sebagai Perang Suci adalahsebuah buku kritik sejarah yang ditulis oleh Karen Armstrong. Beliau adalah seorang pemerhati sejarah terutama sejarah keagamaan. Buku ini menitik beratkan kepada sejarah Perang Salib yang tidak saja melibatkan Agama Islam dan Kristen, namun juga agama pendahulunya yaitu Yahudi. Di sana ia mencoba membuka fakta-fakta, bukan dari salah satu sudut pandang agama saja melainkan dari ketiga sudut pandang agama sekaligus. Berikutnya, ia mencoba untuk menelusuri akar permasalahan Perang Salib yang tersisa hingga hari ini.

Holy War

Perang Salib adalah sebuah babakan sejarah yang unik. Untuk pertama kalinya dalam sejarah umat manusia, perang tidak lagi dilandaskan pada ambisi kekuasaan dan hegemoni suatu bangsa tertentu. Perang ini melandaskan pada ajaran agama, yang dipegang teguh oleh masing-masing pihak. Perang yang berlandaskan agama, dalam kasus tertentu menjadi jauh lebih mematikan dari beberapa perang-perang jenis lain. Perang jenis seperti ini tidak lagi memperebutkan emas, budak maupun kedudukan. Perang ini memperebutkan tempat, satu tiket untuk masuk ke surga.

Menurut Keren Armstrong, Paus Urban II adalah sosok manusia yang ia nilai paling mempunyai tanggung jawab di dalam meletusnya Perang Salib. Ia yang menyatakan bahwa kaum Nasrani harus menempuh perjalanan ke Timur untuk membebaskan Kota Suci Yerussalem dari tangan penakluk Muslim. Mereka mengklaim bahwa tanah suci, tempat di mana Yesus disalib merupakan tanah keramat yang harus dilindungi dan dibebaskan dari kaum kafir.

Continue reading →

Kebencian Antar Agama

Sebagian manusia menggunakan agama untuk mencari benarnya sendiri, bukan untuk mencari kebenaran. Hal itulah yang membuat seseorang yang memeluk agama menjadi radikal dan penuh dengan kebencian terhadap siapapun yang berselisih paham dengannya. Semuanya terjadi baik di dalam kehidupan intern beragama maupun antara satu pemeluk agama dengan pemeluk agama lain. Di kehidupan modern, mungkin kita berharap bahwa kebencian antar umat beragama perlahan-lahan mulai runtuh. Akan tetapi, pada kenyataannya hal itu belum berubah sama sekali.

Pada 11 September 2015 kemarin, sebuah kecelakaan menimpa jamaah yang sedang berada di Masjidil Haraam di Makkah. Crane yang merupakan bagian dari proyek pembangunan pelebaran masjid jatuh dan menimpa sejumlah jamaah yang sedang berada di bawahnya. Beberapa video yang merekam jatuhnya crane bermunculan di youtube maupun situs video lainnya. Simpati mengalir deras dari seluruh penjuru dunia. Namun kontras dengan simpati itu, beberapa cibiran yang menghina juga cukup kental terasa.

Agama Kebencian

Diatas adalah satu capture komentar yang berhasil saya dapat dari dalam link youtube ini. Di sana, masih banyak lagi komentar-komentar yang terasa jauh lebih pedas dan menghina. Ada apa sebenarnya dengan orang-orang itu? Sebuah musibah datang bisa dari mana dan kepada siapapun. Ada baiknya, meskipun musibah itu menimpa musuh terbesar kita sekalipun. Sebagai manusia kita seharusnya mempunyai empati. Bukan karena perbedaan agama, ras, suku, maupun pendapat, kita dapat memberikan komentar seenaknya kepada orang yang tertimpa musibah itu.

Disini saya mencoba memberikan salah satu contoh musibah yang menimpa umat Muslim. Tapi bukan berarti jika umat muslimpun bebas dari kebencian agama semacam itu. Sebagian dari umat muslim masih merasa senang jika negara-negara yang dianggap kafir tertimpa musibah. Entah itu bencana alam maupun bencana buatan dari tangan manusia. Komentar-komentar semacam diatas sering juga saya baca di media-media. Apakah kebencian antar agama membuat manusia itu buta akan kemanusiaan?

Continue reading →

Radikalisasi Agama dan Atheisme

Agama sejatinya muncul untuk memperbaiki kehidupan manusia. Dari yang penuh derita menjadi bahagia, dari tanpa aturan menjadi teratur, dari yang tanpa tujuan menjadi ada tujuan, dari yang tak berhukum menjadi ada hukum. Walaupun wujud dan sumbernya berbeda, namun semua agama kurang lebih mempunyai muara yang sama. Keharmonisan kehidupan manusia di muka bumi ini. Akan tetapi, sama dengan berbagai macam pemikiran manusia lainnya. Agama juga dapat diartikan dengan berbagai macam  telaah, dari yang paling longgar sampai yang paling ketat, dari yang masih murni sampai yang menyimpang, dari yang moderat sampai yang radikal.

Radikal

Di dunia barat, Atheisme merebak karena kekecawaan masyarakat terhadap gereja. Ilmu orthodox yang telah berabad-abad mengakar di dalam masyarakat seolah sirna dalam semalam. Atheisme telah menjadi virus dan merebak dengan sangat cepat. 20% masyarakat Uni Eropa dan 12% masyarakat USA menyatakan atheis. Di satu sisi, Islam di Uni Eropa meningkat pesat menjadi 8% sedangkan di USA kisarannya masih 0.9%. Namun ada satu fakta menarik, di Saudi Arabia terdapat sebuah survey yang menyatakan bahwa, ada 5% penduduk mereka yang menyatakan tidak berafiliasi dengan agama.

Jika survey diatas benar, maka 1 dari 20 penduduk Saudi Arabia memilih untuk tidak berafiliasi dengan agama manapun. Sebuah fakta yang cukup mencenggangkan bagi negara yang menerapkan hukum Islam secara ketat. 1.5 juta penduduknya dari 30 juta memilih untuk atheis. Apakah ada yang salah dengan negara itu?

Sebuah kutipan menarik dari salah satu responden menyatakan bahwa ia memilih untuk tidak berafiliasi karena ia melihat inkonsistensi dari pemeluk agama. “Apa yang ia katakan berbeda dengan apa yang ia lakukan”. – Kata orang itu. Agama yang seharusnya menjadi alat pemersatu dan tempat berkasih sayang justru berubah menjadi penindas. Begitulah jika agama menjadi alat pembenar, bukan alat untuk mencari kebenaran.

Continue reading →

Palestina dan Israel – Perjuangan Tiada Akhir

Kembalinya putra Israel ke tanah Kanaan telah banyak disebut di dalam kitab-kitab kuno, bukan hanya di dalam kitab-kitab Yahudi, namun juga di dalam kitab Nasrani dan Muslim. Sebuah tanah yang bagi mereka adalah tanah yang dijanjikan, tanah yang diimpikan, tanah harapan bagi seluruh yahudi diaspora yang telah lama menantikan sebuah tanah air. Mereka yang telah disiksa, dibunuh, disia-siakan di tanah-tanah milik orang lain. Yang diantara mereka tidak lagi mempunyai harga diri, karena mereka tidak pernah menginjak sebidang tanah yang dapat mereka sebut sabagai tanah air. Sebidang tanah yang telah lama mereka nantikan, namun juga tak kunjung mereka dapatkan.

Palestine dan Israel

Palestine dan Israel

Adalah sebuah hak bagi sebuah bangsa untuk mendapatkan tanah air dan adalah sebuah hak pula bagi sebuah bangsa untuk merebut kembali tanah leluhur mereka. Namun yang menjadi masalah adalah bagaimana cara melakukannya? Apakah mereka akan datang sebagai seorang tamu baik-baik pada tanah yang telah berpenghuni atau apakah mereka datang dengan seringai lebar yang penuh dengan nafsu kebengisan yang tak kenal kesopanan?

Sayangnya anak-anak Israel, yang oleh banyak pihak disebut sebagai manusia-manusia pilihan, yang katanya mempunyai banyak keistimewaan, yang baru saja terlunta-lunta oleh pembantaian seorang diktator, datang ke tanah bertuan dengan penuh nafsu menguasai. Sebuah keinginan pembalasan dendam atas apa yang menimpa mereka selama bertahun-tahun di bawah cengkraman swastika. Sebuah keinginan besar untuk merebut tanah yang telah dihuni, secara turun temurun dan mengakar oleh bangsa lain. Hal itu seperti sebuah pengusiran bangsa Indian di kala lalu oleh penguasa kolonial eropa yang tak mempunyai belas kasihan.

Continue reading →