Sebuah Hubungan Manusia dan Alam

Semua tercipta dengan sebuah tujuan tertentu. Bumi tercipta untuk dihuni oleh makhluk hidup dan manusia. Buah-buahan yang tumbuh dengan baik dan manis rasanya berguna untuk dimakan. Air tercipta untuk diminum dan menghilangkan dahaga. Sinar matahari dan planet-planet tercipta untuk menjadi sebuah harmoni di alam. Sebuah alam yang penuh dengan tujuan, sebuah alam yang penuh dengan keteraturan. Benarkah seperti itu?

Rantai makanan adalah sebuah jaringan yang rumit. Manusia membutuhkan hewan dan tumbuhan untuk hidup. Hewan-hewan juga membutuhkan sumber nutrisi untuk memenuhi kebutuhannya. Semua nampak sebagai sebuah siklus yang teratur dan rapi. Karena sama sekali tidak ada energi yang terbuang. Rantai makanan adalah sebuah proses pengolahan energi yang efisien. Yang sama sekali tidak meninggalkan residu karena semua akan diolah untuk dijadikan sumber energi bagi makhluk hidup lain.

Hubungan antar makhluk hidup nampaknya berjalan dengan baik. Namun ketika kita menilik hubungan antara makhluk hidup dengan benda mati, ada sebuah gap yang begitu dalam. Kita membutuhkan bumi untuk hidup, namun bumi tidak membutuhkan kita sama sekali. Ia dapat saja bertahan dengan baik tanpa membutuhkan simbiosis dengan makhluk hidup lainnya.

Jadi apakah benar bahwa bumi tercipta untuk manusia? Apakah alam ini memang diciptakan untuk memenuhi kebutuhan makhluk hidup di dalamnya?

Jika ditilik lebih dalam, makhluk hidup sebenarnya adalah hasil dari proses panjang pertumbuhan dan perkembangan alam. Alam bukanlah bertujuan untuk memenuhi kebutuhan kita. Kita dan alam ada karena sebuah proses. Dan fakta mengapa kita butuh unsur-unsur alam adalah karena kita bagian dari alam itu sendiri.

Continue reading →

5 Sebab Mengapa Perang Dunia 2 Sampai Terjadi

Selama ini kita mendengar bahwa Perang Dunia ke 2 terjadi karena perlombaan senjata dan ideologi yang cukup sengit baik di Eropa maupun Asia. Negara otoriter melawan negara demokrasi yang berbasis kerakyatan. Namun sebenarny Perang itu sendiri tidak dapat dinilai secara hitam dan putih. Di Jerman misalnya, NAZI sendiri berhasil mengambil alih tampuk kepemimpinan lewat sebuah pemilu demokratis. Untuk itulah, mari kita bahas beberap sebab Perang Dunia ke 2 yang jarang kita temui di buku-buku sejarah:

1. Sistem Pertanian

Selama berabad-abad, manusia menggandalkan lahan garapan yang subur dan ternak untuk menghasilkan pangan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan penduduk. Traktor, pupuk buatan, dan mekanisme pertanian modern sama sekali belum tercipta. Memasuki abad baru, kebutuhan pangan dunia semakin meningkat. Manusia membutuhkan lahan baru untuk menghasilkan pangan yang cukup karena lahan lama sudah tidak mencukupi dan kalaupun masih mencukupi, lahan tersebut sudah tidak lagi sesubur yang dahulu.

Propaganda Jerman - Blut Und Boden (Darah dan Tanah)

Propaganda Jerman – Blut Und Boden (Darah dan Tanah)

Masalah pangan ini jarang sekali dibahas dalam sejarah Perang Dunia ke 2, namun beberapa ahli menyatakan bahwa masalah pangan adalah pemicu terjadinya perang yang membunuh lebih dari 50 juta manusia itu. “Lanbensraum” adalah semboyan Jerman untuk menyatakan bahwa mereka menginginkan untuk melakukan perluasan wilayah. Ada juga semboyan “Blut und Boden” atau tanah dan darah yang merupakan gerakan pekerja terutama bidang agrikultur.

Masalah pangan menjadi pelik karena jumlah penduduk di waktu itu begitu tinggi dibandingkan jumlah pasokan pangan yang mampu dihasilkan. Perubahan gaya hidup konsumtif juga mendorong perluasan wilayah antara negara-negara industri. Amerika mulai mengintensifkan pertanian di wilayah barat yang sebetulnya hak milik indian, Inggris memasok pangannya dari India dan Afrika selatan, Perancis dengan afrika utaranya, Belanda dengan Indonesia, dan Jepang dengan Manchuria.

2. Ledakan Penduduk dan Industri

Tidak dipungkiri, memasuki abad 20, jumlah penduduk bumi mencapai titik tertinggi di dalam sejarah umat manusia. Hampir 3 kali lebih banyak daripada satu abad sebelumnya. Jumlah penduduk ini tidak hanya menimbulkan masalah ketersedian pangan yang terbatas, namun juga masalah ekonomi.

Perang Dunia 2 Tank

Industri Militer Yang Banyak Menyerap Tenaga Kerja

Setelah perang dunia pertama, ekonomi dunia rata-rata ambruk. Penggangguran di negara-negara industri meningkat drastis seiring dengan tutupnya pabrik-pabrik dan perindustrian. Dunia yang tidak pernah dibebani dengan penduduk sebesar itu seakan hampir kolaps. Di beberapa negara industri, militerisasi menjadi sebuah opsi jalan keluar yang hampir tidak dapat dihindari. Di Soviet, militer dapat juga bekerja sebagai buruh pembangunan infrastruktur. Di Amerika, pabrik-pabrik senjata dibanjiri pelamar kerja. Di Jerman sendiri, hampir seluruh merek terkenal yang sekarang kita temui adalah penghasil senjata di masa itu.

Continue reading →

Global Trends In Defence Economics 2013 – 2014

From: The Military Balance IISS

Global economic growth slowed from 5.1% in 2010 to 3.8% in 2011 and an estimated 3.3% in 2012, as advanced economies continued to struggle with high levels of sovereign, bank and household indebtedness. Heightened financial contagion emanating from the eurozone – the 17 countries using the euro as a common currency – adversely affected European growth, while the unwinding of various domestic stimulus packages enacted in Asia in the aftermath of the 2008 financial crisis served to limit the extent to which Asia was able to drive global demand. High oil prices, an anaemic US economic recovery, and the lagged effects of incremental monetary tightening instituted across Asia and Latin America throughout 2011 acted as further constraints to 2012 activity.

global-spending-changes

Global Spending Changes 2011 – 2012

Despite the global downshift, emerging economies in Asia, the Middle East and Latin America are projected to maintain steady rates of growth, while advanced economies continue to address the weakness of their public finances. According to the International Monetary Fund’s April 2012 World Economic Outlook,

Gross debt-to-GDP ratios will rise further in many advanced economies, with a particularly steep increase in the G7 economies, to about 130% by 2017. Without more action than currently planned, debt ratios are expected to reach 256% in Japan, 124% in Italy, close to 113% in the US and 91% in the euro area over the forecast horizon. … In a striking contrast, many emerging and developing economies will see a decline in debt-to-GDP ratios, with the overall ratio for the group dropping to below 30% by 2017.

Defence Spending 2011–12

Reflecting these macroeconomic trends, global defence spending fell in real terms for a second year running in 2012. After a 1.5% real reduction in 2011, real defence spending declined by a further 2.05% in 2012 (constant 2010 prices and exchange rates).

Despite the overall reduction, defence spending trends varied considerably across regions. Real defence spending rose in Asia by 2.44% in 2011, before accelerating to 4.94% in 2012. In a similar vein, real defence spending in Russia and Eurasia grew by 3.11% in 2011, before rising by 13.28% in 2012. In Latin America, after a 0.71% real reduction in 2011 regional spending (caused in part by higher-thanexpected rates of inflation), real defence spending grew in 2012 by 4.0%. Similarly, after high oil prices in 2011 contributed to greater-than-anticipated inflation in the Middle East and North Africa, real defence spending is estimated to have fallen by 3.06% in 2011, before rising by an estimated 4.57% in 2012.

 

nato-vs-asia-military-spending

NATO vs ASIA Military Spending

Meanwhile, defence austerity in Europe saw real defence spending in Europe decline in both 2011 and 2012, falling by 2.52% in 2011 and by a further 1.63% in 2012. In North America, real military spending declined by 2.6% in 2011, and a further 7.5% in 2012. Sub-Saharan Africa saw a 0.3% real decline in 2011 spending (2012 trend unavailable at time of publication due to incomplete data availability), and continued to account for just 1% of global defence spending. (Note: real figures used here are measured at constant 2010 prices and exchange rates, see Figure 1 for further details.) See also ‘Comparative Defence Statistics’, pp. 41–2.

Asian and European Spending Converges

These general macroeconomic and defence-spending trends illustrate a broader shift in the underlying balance of global defence spending. This is highlighted by the convergence between Asian and NATO European defence-spending levels since the onset of the financial crash of 2008. As shown in Figure 2, between 2005 and 2007 (i.e. prior to the 2008 financial crisis), nominal defence spending in Asia (excluding Australia and New Zealand) rose from around US$148.1 billion to US$178.4bn, an average annual rate of increase of 9.8%. Nominal defence spending in NATO Europe rose at a broadly similar rate over the same period – from US$252.7bn in 2005 to US$298.5bn in 2007, an average annual rate of increase of 8.8%.

However, after the 2008 financial crisis, a marked convergence began between Asian and NATO European spending levels. Nominal NATO European defence spending fell from a peak of US$305.6bn in 2008 to a post-crisis low of US$262.7bn in 2012, declining by an average of 3.6% per annum in each of the four years since the crisis. By contrast, nominal Asian defence spending post-2008 has continued to rise at just under pre-crisis rates, with spending increasing from US$207.4bn in 2008 to US$287.4bn in 2012, equivalent to an average annual growth rate of 8.6%. In the process, nominal Asian spending overtook that of NATO Europe, with the former rising from US$268.8bn in 2011 to US$287.4bn in 2012, while the latter fell from US$290.0bn in 2011 to US$262.7bn in 2012.

Continue reading →

Knowledge vs Wisdom

Apa yang kita tahu adalah apa yang telah menjadi pengalaman, pelajari, dan hayati. Namun terkadang, kita tidak perlu mengetahui sesuatu untuk mendapatkan jawaban akan sebuah pertanyaan. Masing-masing menusia mempunyai dua sisi pemikiran, satu yang dilatarbelakangi oleh knowledge atau pengetahuan dan satu lagi yang di latarbelakangi oleh wisdom. Keduanya secara otomatis tertanam pada diri kita, sejalan dengan perjalanan hidup yang terus bertambah.

Anindita Saktiaji - Knowledge Wisdom

Kita tidak tahu, kapan kita akan membutuhkan knowledge maupun wisdom. Keduanya akan bekerja secara simultan untukmemecahkan segala kesulitan yang menghadang di depan mata. Terkadang, tanpa sadar kita telah menggunakan keduanya, namun terkadang pula, dengan sengaja kita meninggalkannya. Contohnya ketika anda mengacuhkan penderitaan orang lain, apakah anda ketika itu sedang menggunakan pengetahuan (knwoledge) maupun wisdom (kebijaksanaan) anda?

Ada sebuah quotes yang menyatakan bahwa “knowledge speaks but wisdom listens” oleh Jimi Hendrix, seorang musisi. Quotes cukup menarik untuk diperhatikan, karena ia mendefinisikan dengan jelas apa yang dimaksud dengan knowledge dan apa yang dimaksud dengan wisdom. Orang yang mempunyai pengetahuan yang baik, maka ia akan dengan mudah mengutarakan pengetahuannya tersebut (walaupun terkadang orang lain sulit untuk mengertinya). Namun jika seseorang mempunyai wisdom yang baik, maka ia akan lebih mampu untuk mendengarkan apa yang orang lain katakan kepadanya.

Continue reading →