Ketika Teknologi dan Manusia Tidak Ada Lagi Pembatas

Manusia menciptakan teknologi untuk mempermudah kehidupannya. Kita menciptakan kapak untuk mempermudah berburu binantang, membela diri dan memotongi pohon (untuk dijadikan hunian, senjata, maupun bahan bakar). Kita menemukan api dan menyebarkannya untuk dari sekedar mempermudah penglihatan kita di malam hari hingga membantu kita dalam memasak makanan secara lebih baik dan lebih sehat. Kita menciptakan masyarakat, adat, dan (hingga dalam batasan tertentu) agama untuk mendefinisikan tingkah laku yang benar atau buruk. Seluruh ciptaan manusia selama ini mempunyai ciri yang sama, kita lahir tanpanya dan kemudian mati juga tanpanya. Namun, baru-baru ini ada sebuah diskusi menarik yang menyatakan bahwa, bagaimana jika kita bisa mati dengan membawa teknologi?

anindita-saktiaji-human-technology

Tentu saja, mati membawa teknologi itu bukan berarti kita membawa laptop kita ke alam baka, dimana kita bisa bermain game online di sana atau chatting dengan teman dan sahabat kita yang (barangkali) masih hidup. Mati membawa teknologi lebih diartikan dengan mentransfer kehidupan kita ke dalam bentuk digital. Dimana setiap momen, ingatan, rasa, keputusan, pemikiran, dan anggapan akan diubah ke dalam bentuk data. Singkat kata, kita merubah fisik tubuh menjadi sebuah objek biner yang dapat ditransfer, disebarluaskan, diperbanyak, dan juga disimpan untuk kebutuhan di masa mendatang.

Selama ribuan tahun, manusia meninggalkan jejak pemikirannya dengan tulisan yang ia buat di batu, bambu, ataupun kertas. Beberapa dasawarsa ini, orang barangkali dapat pula meninggalkan jejaknya pemikirannya dalam bentuk digital. Lewat tulisan-tulisan yang ia post di mikro blog, blog, jurnal, group, mailing list maupun website. Keseluruhan ide diatas meskipun medianya berbeda, namun tetap mempunyai ciri yang sama. Orang yang telah meninggalkan tulisan itu sudah tidak ada lagi di dunia ini. Lalu bagaimana jika kita bisa menemukan cara untuk membuat pemikiran manusia itu ada selama-lamanya.

Continue reading →

Masyarakat Utopia Yang Semakin Jauh

Beberapa waktu yang lalu, ketika saya hendak berpergian menggunakan Trans Jakarta di koridor Blok M – Kota, saya mendapati sebuah bus yang cukup lenggang. Seperti bus Trans Jakarta Pada Umumnya, terdapat pembedaan antara tempat duduk yang digunakan oleh pria dan wanita. Ada sebuah tempat tersendiri bagi wanita yang terdapat di bagian paling depan dari bus. Wajarnya, tempat ini tidak boleh diduduki oleh pria walaupun keadaannya cukup sepi. Namun, apa yang aku lihat justru sebaliknya, beberapa pria dengan santainya duduk di tempat tersebut. Mereka bukannya tidak tahu kalau tempat itu dikhususkan untuk wanita, karena aku mendengar salah seorang rekan mereka sempat memberitahukan hal tersebut.

Utopia

Kejadian itu bukan pertama kali aku lihat di bus trans jakarta. Sebuah peraturan sederhana dan kecil yang bahkan dengan mudah kita dapat lakukan. Melanggar peraturan, terutama peraturan yang menyangkut kepentingan umum, hampir menjadi pemandangan sehari-hari di negeri kita. Mengapa kita melakukannya? Atau lebih tepatnya, mengapa kita terus melakukannya?

Kedisiplinan bukanlah sebuah bunga yang mekar dalam semalam. Perlu adanya tradisi panjang yang membuat sekelompok manusia menjadi manusia yang bertanggung jawab dan disiplin. Sayang sekali, kita sebagai bangsa belum mempunyai kematangan untuk melakukannya. Kita sering sekali melalaikan hal yang kecil dan sepele. Membuang sampah pada tempat yang sudah ditentukan adalah salah satu contohnya. Coba saja, berapa dari anda yang mau mengantongi bungkus permen kosong yang telah anda makan sebelum menumukan tong sampah? Atau mungkin anda termasuk orang yang dengan mudahnya akan membuang bungkus permen itu secara sembarang tanpa memperhatikan resikonya lebih jauh.

Kesadaran seorang manusia itu menjadi penting ketika setiap individu mempunyai andil di dalam kehidupan masyarakat modern dan padat seperti saat ini. Saya sempat berpikir, mengapa kebanyakan dari kita banyak yang tidak peduli terhadap kehidupan yang berskala nasional? Apakah ada yang salah dengan tata kehidupan nasional yang ada di negara kita?

Mungkin memang masa yang telah membawa pemikiran kita terpisah antara satu individu dengan individu lainnya. Keterikatan emosional kita dengan tetangga misalkan, jauh berkurang daripada beberapa dekade sebelumnya. Kejadian ini tidak hanya terjadi di wilayah perkotaan, namun juga di pedalaman desa. Kemajuan teknologi adalah salah satu faktor yang mendorong fenomena ini. Manusia akan semakin mudah berkomunikasi, dan atau, justru memutus komunikasi.

Continue reading →