Apakah Manusia Bisa Menjelajahi Alam Semesta?

Apakah manusia dapat menjelajahi bintang di galaksi terjauh? Apakah manusia dapat menjelajahi alam semesta? Untuk dapat menjawab pertanyaan diatas, pertama, kita perlu tahu apa itu alam semesta. Ilmuwan sekarang sangat berhati-hati dalam menyebutkan definisi alam semesta. Karena, semakin dipelajari, alam semesta yang menjadi tempat hidup kita ini semakin unik dan sulit untuk dimengerti.

Space Travel

Jika ilmuwan menyebutkan alam semesta atau “universe” sebagian besar mereka merujuk kepada “observable universe” atau alam semesta yang dapat diobservasi. Observable universe jaraknya adalah 13.3 milyar tahun cahaya secara diameter. Mengapa? Karena jarak tersebutlah yang dapat cahaya terjauh tempuh untuk sampai ke bumi.

Sekitar 13.4 milyar tahun yang lalu, big bang terjadi, atau kurang lebih secara matematisnya begitu. Radiasi Photon dari bintang2 tuapun muncul beberapa ratus juta tahun kemudian dan memancar hingga sekarang. Radiasi dari bintang-bintang itulah yang menyebabkan kita bisa mengamati galaksi2 tertua.

Continue reading →

Mars dan Kolonisasi

Melakukan kolonialisasi Mars menjadi target yang terus dikejar oleh sebagian besar ilmuwan antariksa di seluruh dunia. Dari mulai NASA hingga misi Mars One mencoba untuk mencari jalan terbaik untuk sesegera mungkin menjadikan planet merah nan tandus itu menjadi tempat tinggal umat manusia yang baru. Ada banyak keuntungan jika kita sebagai spesies mempunyai tempat tinggal kedua setelah bumi. Namun, melakukan kolonialisasi Mars juga bukanlah sebuah perkara yang mudah. Ada alasan mengapa selama puluhan tahun kita tidak pernah mengirimkan manusia ke bulan. Dan selama beberapa tahun ini, kita hanya mengirimkan manusia tanpa awak ke Mars.

Mars Colony

Mars meskipun mempunyai kontur permukaan mirip dengan Bumi, namun hidup di planet itu adalah sebuah tantangan yang begitu luar biasa sulit. Pertama, di Planet tersebut tidak ada oksigen. Sebagaimana kita ketahui, oksigen adalah kebutuhan pokok yang membuat tubuh kita tetap bekerja. Kedua, di sana tidak ada sumber makanan yang dapat membuat tubuh kita mendapatkan energi. Jadi, baik oksigen maupun makanan, kita harus memperolehnya secara mandiri. Membuatnya dari nol dan memastikan keberlangsungan hidup dari sebuah proses yang kita buat.

Ada banyak pertimbangan sebelum kita dapat mengirimkan manusia ke Mars dan hidup disana. Karena kemungkinan besar, pengiriman manusia ke Mars adalah sebuah proses satu arah maka misi haruslah diperhitungkan dengan sangat amat rinci. Dan misi tersebut sudah selayaknya tidak hanya bertujuan untuk mengirim misi manusia untuk hidup dan kemudian mati di sana. Tapi juga beranak-pinak, membentuk pemerintahan, kebudayaan, dan bahkan peradaban mereka sendiri nantinya. Bisa jadi, suatu saat nanti, suatu saat yang jauh dari sekarang. Kita akan menyebut sepupu kita di Planet Merah itu benar-benar menjadi seorang  Martian.

Membuat sebuah lingkungan yang aman ditinggali bagi manusia di Mars mungkin akan menjadi sebuah pekerjaan sulit. Planet itu haruslah mempunyai oksigen dan sumber makanan. Dan kalau memungkinkan, air yang sekarang membeku di kutub planet merah itu harus sebagian dicairkan. Jika air dan oksigen sudah tersedia, dilengkapi dengan berbagai unsur lain yang mendukung kehidupan tumbuhan. Maka jalan bagi manusia untuk beradaptasi dengan planet itu semakin mudah. Dan bukannya tidak mungkin jika proses pengiriman manusia ke Mars suatu hari nanti akan terjadi dalam proses besar-besaran.

Continue reading →

Apakah Kita Hidup Di Simulasi Raksasa?

Beberapa teori pembentukan alam semesta bermunculan dalam beberapa dasawarsa terakhir. Dan salah satu teori yang paling menarik dan banyak diperbincangkan adalah teori Big Bang. Big Bang menyatakan bahwa alam semesta dapat tercipta dari “nothing”. Dari suatu ketiadaan menjadi ada, dari tanpa energi menjadi sebuah energi masive. Teori Big Bang ini secara kasat mata begitu simpel, dan nyaris sangat mudah untuk dipahami (walaupun jika dipelajari lebih dalam, akan banyak sekali aspek yang harus diperhatikan).

anindita-saktiaji-cosmic-epochs

Perkembangan Alam Semesta Dari Big Bang Hingga Masa Kini

Namun, semakin ke depan, semakin banyak keganjilan yang ditemukan di alam semesta ini. Salah satu yang paliang mencolok adalah, perbedaan besar antara dunia makro dan mikro fisika (fisika quantum). Dunia makro (yang bisa kita amati dari mulai pergerakan bintang hingga atom) pasti mempunyai hukum fisika yang tetap dan konstan. Misalkan, jika kita menguji Jarak = Kecepatan * Waktu, maka di manapun kita akan menguji, kalkulasi tersebut akan menghasilkan hasil yang sama dan tepat. Namun di dunia mikro fisika, semua hukum yang kita kenal sama sekali tidak berguna.

anindita-saktiaji-simulasi-bholsoi-nasa

 Bolshoi – Simulasi Pembentukan Alam Semesta

Salah satu teori terobosan yang dibuat oleh Martin Savage salah seorang peneliti dari Universitas Washington mengusulkan sebuah proposal yang menyatakan bahwa alam semesta yang kita tinggali adalah sebuah simulasi raksasa. Bayangkan saja, ratusan atau puluhan tahun dari masa sekarang, manusia mampu membuat superkomputer yang mampu menjalankan simulasi raksasa tentang alam semesta dari mulai Big Bang hingga pembentukan kehidupan di bumi. Faktanya, simulasi semacam itu sekarang sudah dikembangkan oleh NASA. Proyek yang dinamai Bholsoi (Besar – bhs russia) mencoba untuk mensimulasikan bagaimana proses pembentukan alam semesta dari awal hingga nantinya berakhir.

Hasil simulasi Bholsoi yang dibangun selama 4 tahun itu berhasil dengan sangat mencenggangkan. Tidak hanya bentuk alam semesta, namun komposisi material, dark matter, dan dark energi dapat diprediksikan secara tepat. Memang komposisi kecil seperti planet dan tata surya belum mampu dilakukan pada tahapan ini. Namun, Bolshoi merupakan terobosan yang sangat besar bagi manusia. Bayangkan saja, dalam beberapa puluh atau ratus tahun mendatang, manusia mampu membuat sebuah simulasi alam semesta lengkap, dari mulai galaksi hingga hewan bersel satu yang hidup di dalamnya.

Continue reading →