5 Sebab Kemacetan Jakarta Bertambah Parah

Jakarta sebagai pusat pemerintahan sekaligus ekonomi Indonesia mempunyai penyakit menurun yang sudah kritis. Penyakit itu adalah kemacetan, yang boleh dibilang telah menjadi pemandangan sehari-hari dan bahkan dianggap wajar oleh sebagian besar penduduk ibukota. Inovasi-inovasi coba digelontorkan, namun nyatanya sampai detik ini tak ada obat mujarab yang jitu untuk mengatasi kemacetan Jakarta.

Jakarta

Pertanyannya adalah, apakah ada kota-kota di dunia ini yang penduduknya banyak namun tidak macet? Jawabannya adalah Ya, dan ternyata kota-kota seperti itu banyak di dunia ini. Salah satu yang paling dekat adalah Singapore, yang sedikit jauh namun masih dapat kita contoh adalah Seoul dan Tokyo. Khusus untuk Singapore, kita seharusnya dapat belajar banyak dari kota sekaligus negara tetangga itu yang dapat dikunjungi hanya dengan tiket pesawat seharga 300 ribu, plus tanpa visa. Tiket itu kurang lebih harganya sama dengan tiket kereta api saya untuk pulang kampung.

Di bawah ini saya mencoba merangkum beberapa sebab mengapa kemacetan Jakarta kian hari makin parah saja. Pernyataan saya ini murni pengamatan seorang amatir dan bukan komentar ahli tata ruang kota. Jadi mohon maaf sebelumnya jika dirasa banyak kekurangan di sana-sini. Namun saya mencoba untuk tetap seakurat mungkin, seobyektif mungkin, dan se to-the-point mungkin – berdasarkan pengalaman pribadi dan kegiatan sehari-hari saya di kota ini. Berikut beberapa penyebab semakin ruwetnya kemacetan Jakarta dari kacamata pribadi saya:

1. Pejalan Kaki Belum Menjadi Raja

Mengapa Jakarta macet? Jawaban yang paling mudah adalah banyaknya kendaraan bermotor pribadi yang berlalu lalang. Coba saja jika orang tidak menggunakan kendaraan pribadi. Jalanan pasti terasa lenggang dan sepi. Ini bukan sebuah pernyataan lelucon, dan juga bukan sebuah konotasi maupun sarkasme. Dan mengapa orang memilih untuk menggunakan kendaraan bermotor daripada jalan kaki atau menggunakan angkutan umum? Itu karena pejalan kaki masih dianggap sebagai orang nomor sekian derajatnya dibandingkan dengan orang yang menggunakan kendaraan bermotor pribadi.

Di Jakarta, fasilitas yang digunakan pejalan kaki sangatlah minim. Trotoar sempit, rusak, atau bau karena ia hanya berfungsi sebagai pentup got. Tempat penyeberangan dibuat susah, atau dibuatkan jembatan penyeberangan yang sebenarnya sangat menyiksa para pejalan kaki. Entah mengapa Jakarta begitu hobi membuat jembatan penyeberangan – sebaliknya, tempat penyeberangan yang nyaman justru dibredel se-sedikit mungkin.┬áTidak ada tempat penyeberangan yang menggunakan timer, seperti di negara2 maju. Satu tempat penyeberangan yang pernah saya temui dengan menggunakan timer hanya ada di daerah sekitar monas. Entah apa fungsinya disana, karena pada jam sibuk, orang justru tidak ada yang menggunakan fasilitas itu.

Continue reading →

Kritik Terhadap Pembangunan Jakarta

Beberapa waktu lalu, saya mendengar rencana Pemerintah Jakarta untuk membangun beberapa rumah susun yang digunakan sebagai kompensasi penggusuran warga di bantaran sungai. Jika rencana itu terlaksana, diharapakan pemukiman-pemukiman kumuh yang ada di seputaran sungai-sungai besar Jakarta dapat dihilangkan. Dan warga yang dahulu menempati rumah-rumah itu dapat dengan tenang bermukim di rumah susun yang disediakan secara gratis atau dengan biaya sewa yang cukup murah.

Jakarta

Rencana diatas terdengar cukup bagus, namun sayangnya banyak sekali aspek yang menurut saya kurang pas. Sekali lagi, tulisan ini adalah pendapat pribadi saya yang mungkin tidak sreg di hati sebagian besar teman-teman pembaca.

Ada pertanyaan mendasar yang bagi saya sangat urgent untuk dijawab, seberapa penting menyediakan hunian pengganti bagi warga bantaran sungai yang datang secara ilegal dan mungkin juga tidak mempunyai tujuan hidup yang jelas? Apakah kebijakan itu tidak terlalu berlebihan dan terkesan memberikan welas asih yang berlebihan kepada pihak yang salah?

Warga di bantaran sungai sebagian besar tidak mempunyai mata pencaraharian yang tetap. Dan mereka juga mungkin tidak mempunyai tujuan yang jelas mengapa harus menetap di Ibukota. Ada dari mereka yang hanya ikut-ikutan saudara yang lebih dulu hijrah ke ibukota dengan alasan yang kurang lebih sama tidak jelasnya. Alih-alih memberikan fasilitas yang berlebihan bagi warga itu, pemerintah seharusnya lebih memperhatikan kaum-kaum pekerja yang terpaksa hijrah puluhan kilometer setiap harinya dari rumah ke tempat kerja mereka.

Sebagian besar kaum buruh, profesional, dan tenaga pemerintah tinggal jauh dari pusat kota. Mereka tinggal di kota-kota satelit Jakarta seperti Depok, Bekasi, dan Tangerang. Artinya mereka harus menempuh perjalanan jauh dari rumah ke tempat mereka bekerja. Perpindahan sekian juta orang setiap pagi dan petang di Jakarta adalah sebuah hal yang sebenarnya sia-sia. Jika saja ada hunian yang layak di tengah kota, meskipun itu berbentuk rumah susun atau apartemen sederhana, maka tentu saja pergerakan manusia di Jakarta akan lebih praktis dan efisien.

Continue reading →

Melirik Singapore Yang Bersih, Nyaman, Rapi, Namun… (2)

(Lanjutan dari bagian 1…) Setelah sopir taksi, pelayan restoran, dan pembersih bendara yang kebanyakan adalah orang-orang tua. Satu hal yang mungkin tidak ditemui di Indonesia lainnya adalah, gerai seven eleven yang kecil. Entah kebetulan atau apa, namun saya sama sekali tidak pernah menemui gerai seven eleven yang besar dengan WIFI dan tempat nongkrongnya. Salah satu gerai tersebut tepat berada di samping hotel, sebuah gerai kecil yang bahkan antara tempat makanan dan kasir dibagi jadi dua bagian.

Skyline Singapore

Skyline Singapore

Pada hari pertama training, butuh waktu lama untuk menemukan Kallang Avenue. Daerah itu bahkan masih kosong di google maps. Dan ketika kami sampaipun, gedung di sana masih nampak baru dan masih sedikit sekali mempunyai tenant. Training berlangsung dengan baik, pengajarnya seorang berkembangsaan Amerika dengan nama Matthew Colona, namanya menggingatkanku dengan nama mobil.

Aku kira training di Singapura mirip dengan traning di Indonesia. Apa yang ada di benaku dan mungkin banyak orang lainnya adalah, makanan melimpah, snack, minuman gratis, dan lain sebagainya. Akan tetapi, kali ini aku harus kecewa karena segala fasilitas itu tidak pernah ada. Jangankan snack di kala break, makan siangpun tidak ada! Kami harus mencari makan sendiri di kantin-kantin gedung.

Rasa makanannya cukup enak, hanya saja saya binggung dengan kebiasaan orang disini. Sebagian besar orang makan tanpa menggunakan minum. Bahkan tidak untuk sekedar teh ataupun air putih. Saya baru sadar ketika melihat struk pembelian makan siang yang ada di tanganku, harga minum untuk segelas teh adalah $ 2.5, atau nyaris 24 ribu rupiah. Cukup mahal untuk ukuran teh hangat yang rasanya biasa-biasa saja. Tidak heran jika orang sana lebih memilih makan sambil tersedak-sedak daripada harus membeli minuman yang tidak setara harganya.

Continue reading →

Melirik Singapore Yang Bersih, Nyaman, Rapi, Namun… (1)

Bulan┬ákemarin, tepatnya tanggal 17 – 21 November 2014, saya mendapatkan kesempatan dari perusahaan tempat saya bekerja untuk melakukan training di Singapore. Sebuah kota metropolitan di pulau kecil yang lembab dan panas. Setidaknya, begitulah kata orang-orang Inggris dahulu ketika mereka melakukan perjalanan ke kota pelabuhan kecil di ujung Malaka itu. Jujur saja, ini adalah perjalanan pertamaku keluar negeri. Dan saya cukup bersemangat karena akan menggunakan paspor saya untuk pertama kalinya.

Marina Bay Sands Singapore di Malam Hari

Marina Bay Sands Singapore di Malam Hari

Perjalanan dari Jakarta menuju Changi memakan waktu kurang lebih 1 jam 30 menit. Waktu yang kurang lebih sama untuk menempuh perjalanan dari Jakarta ke Bali. Cuaca tanggal 17 pagi cukup cerah, dan perjalanan yang saya lalui cukup nyaman tanpa ada kendala berarti. Satu hal yang menjadi catatan dari saya adalah, siapkan sebuah tas kecil berisi pulpen atau pena. Imigrasi mengharuskan anda untuk menuliskan beberapa pernyataan di pesawat.

Saat ini Changi mempunyai 3 terminal dan antara satu terminal dengan terminal lain dihubungkan dengan monorail. Sangat memudahkan passanger untuk berpindah terminal jika dia tersesat atau ingin menuju ke MRT yang berada diantara terminal 1 dan 2. Dari bandara, saya menuju Hotel di daerah Selegie di dekat Little India. Entah mengapa perusahaan vendor memilihkan tempat itu, padahal tempat training ada di daerah Kallang yang kurang lebih berjarak 3.4 km dari hotel tempat saya menginap. Barangkali ada kesalahan pemilihan tempat karena di dua lokasi tersebut sama-sama terdapat hotel Fragrance. Hotel, entah bintang berapa, yang berfasilitas, yahh, cukuplah…

Malam pertama di Singapore, saya dan rekan saya mencoba untuk berjalan kaki dari Hotel ke Marina Bay. Ya, jalan kaki! Kurang lebih jarak yang harus kami tempuh adalah 3.1 km. Cukup untuk membuat kaki saya panas berjalan di malam hari yang kurang lebih juga, panas!

Continue reading →