Perlunya Membentuk Pakta Pertahanan ASEAN

China belum lama ini melakukan claim terhadap spartly island yang sekian lama dianggap dimiliki oleh Filipina. Mereka juga berseteru dengan Vietnam terkait batas wilayah perbatasan. Dan negara kita belum lama ini bersitegang masalah pencurian ikan, dimana kapal nelayan China yang akan ditangkap sengaja dihalangi oleh kapal coast guard negara tirai bambu itu. Tiga negara besar di ASEAN tanpa takut diganggu oleh China, apakah itu artinya persatuan Asia Tenggara ini tidak mempunyai taring di mata internasional.

Asean Military

Walaupun ASEAN secara rutin mengadakan pertemuan antar menteri-menteri pertahanannya, namun pakta pertahanan seperti NATO belum pernah terwujud. Dengan total penduduk 650 juta lebih dan sumber daya alam melimpah yang dimilikinya. ASEAN sebenarnya mampu menjadi pemain global dunia yang patut untuk diperhitungkan. Dan jika ia berniat untuk membentuk sebuah pakta pertahanan, guna membendung dua kekuatan besar yang sedang berkembang di Asia (India dan China). Maka tidak menutup kemungkinan jika ASEAN justru mampu lebih besar daripada kedua negara yang sedang naik daun tersebut.

Indonesia memang memegang teguh politik bebas aktif, sebuah falsafah yang merupakan wujud netralitas untuk tidak berpihak kepada Blok Barat maupun Blok Timur kala Perang Dingin. Sekarang, banyak yang mengartikan bahwa Indonesia seharusnya tidak tergabung dengan pakta pertahanan manapun dan lebih berpihak kepada perdamaian. Nampak jika kita lihat, Indonesia cukup aktif mengirimkan kontingennya ke berbagai negara lewat PBB. Namun, apakah itu cukup untuk menapaki tantangan ke depan?

Continue reading →

Demokrasi Sesungguhnya Di Era Informasi

Demokrasi yang kita kenal sekarang ini bukanlah demokrasi yang sesungguhnya (atau setidaknya yang dicita-citakan dahulu kala). Di dalam demokrasi, setiap individu seharusnya berhak menentukan roda jalannya pemerintahan dengan ikut dalam pengesahan undang-undang dan tata kelola negara. Namun, demokrasi yang ada sekarang justru memberikan mandat kepada sebagian kecil orang untuk merepresentasikan keinginan seluruh rakyat sebuah negara. Terkadang mereka bekerja untuk rakyat, namun seringnya suara mereka tidak mencerminkan keinginan mayoritas. Demokrasi terwakili seperti inilah yang umum ada di negara-negara dunia, dan menjadi standar yang pakem serta dianggap wajar.

Demokrasi

Mengapa demokrasi terwakili ini menjadi praktek umum di mana-mana? Jawabannya sangat sederhana. Kurang lebih ada dua alasan utama yang menyebabkan legislatif itu ada. Pertama, menghindari adanya tirani mayoritas. Para Founding Fathers Amerika Serikat misalnya, dahulu memilih demokrasi terwakili untuk menghindari adanya opresi mayoritas kepada kaum minoritas.

Alasan kedua adalah, bahwa demokrasi langsung sangatlah tidak praktis. Hingga sekarang, belum ada negara yang benar-benar melakukan demokrasi secara langsung untuk menentukan setiap permasalahan yang mereka hadapi. Paling banter, rakyat hanya berhak memilih wakil, presiden, atau referendum. Itupun dilakukan sekali dalam beberapa tahun lamanya. Rakyat tidak mempunyai hak sama sekali untuk membuat undang-undang, atau melakukan revisi terhadapnya secara langsung.

Continue reading →

5 Kesalahan Diplomasi Hitler Selama Perang Dunia ke 2

Selama Perang Dunia ke 2, baik pihak sekutu maupun axis mencoba untuk melakukan manuver-manuver diplomatis. Kawan menjadi lawan, dan lawan menjadi kawan adalah sebuah hal yang biasa. Di sini saya mencoba menganalisa bagaimana manuver diplomasi Hitler di era itu yang ternyata gagal dan akibatnya bagi Jerman selama perang.

Hitler Color

Dari beberapa kesalahan atau sitidaknya kegagalan manuver diplomatik yang Hitler lakukan, saya mencoba merangkum 5 diantaranya yang berakibat fatal. Berikut adalah 5 kesalahan diplomasi yang Hitler lakukan:

Mangabaikan Opini Penduduk Soviet Terhadap Stalin

Stalin Holodomor
Holodomor di Ukraina 1932 – 1933

Keputusan-keputusan politik yang diambil oleh Stalin tidak berpihak ke seluruh penduduk Soviet. Di Ukraina misalnya, pada tahun 1932-1933 terjadi kelaparan hebat yang disebut Holodomor. Penyebab utama dari kelaparan hebat ini masih diperbincangkan sampai sekarang. Namun bencana alam seperti kekeringan dan juga ekonomi yang buruk bagi sebagian peneliti bukanlah faktor utama. Mereka lebih percaya jika Holomodor sengaja dilakukan oleh Stalin untuk mengurangi jumlah penduduk Ukraina saat itu. Alasannya agar menekan jumlah gerakan resistensi di Ukraina yang meminta kemerdekaan. Hasilnya, antara 2.5 juta hingga 7.5 juta orang tewas akibat kebijakan tersebut.

Ketika Hiter menyerbu Soviet, pasukannya dianggap sebagai pembebas di beberapa negara. Di negara-negara Baltik yang mempunyai kedekatan darah dengan Jerman, penduduk mereka berpesta dan menyambut kedatangan Wehrmacht dengan karangan bunga. Namun sayang, kebijakannya tidak berlanjut ke masyarakat Ukraina, Belorusia dan negara-negara dibawah kontrol Soviet lainnya. Hitler mengganggap mereka sebagai negara jajahan, kurang lebih sama dengan yang Stalin lakukan. Seperti keluar dari mulut singa masuk ke mulut buaya. Beberapa negara bahkan lebih memilih untuk kembali ke pangkuan Soviet. Setidaknya, mereka masih sama-sama bangsa Slavia. Bukan bangsa ‘untermehnen’ seperti yang Jerman anggap.

Continue reading →

Bagaimana Jika Pendaratan Sekutu di Normandy Gagal?

Pendaratan Normandy pada 6 Juni 1944 adalah salah satu peristiwa paling penting di Perang Dunia ke 2. Pendaratan sekutu di pantai utara Perancis itu memungkinkan Amerika, Inggris, Kanada, beberapa pasukan Polandia, dan Selandia baru untuk menyerang Jerman langsung di jantung kekuasaan mereka. Selama empat tahun terakhir, mereka hanya bisa menyerang outpost Jerman di Afrika Utara dan Italia. Atau membombardir kota-kota mereka dengan B17, B25, atau Halifax.

Normandy
Pendaratan Sekutu di Normandy – Juni 1944 (Credit: https://en.wikipedia.org/wiki/Normandy_landings)

Di Normandy, terdapat 380,000 pasukan Jerman yang terbagi menjadi 4 Army Group. Jumlah itu hanya yang bertugas untuk menjaga AtlantikWall – benteng atlantik yang menurut Hitler tak dapat ditembus. Terdapat lebih banyak lagi pasukan Jerman di Perancis yang bertugas selain untuk pasukan cadangan, juga bertugas membasmi partisan.

Memang kita tidak tahu pasti bagaimana jika Jerman berhasil menghentikan laju serangan sekutu di Normandy. Apakah Jerman dapat bertahan, atau Russia justru dapat menguasai Eropa seutuhnya? Di sini, saya bukan berarti mendukung pemerintahan Jerman NAZI tetap bercokol di Eropa. Apalagi mendukung rezim otoriter mereka yang telah membuat Eropa menelan pahit getirnya peperangan modern. Saya hanya mencoba untuk menuliskan kemungkinan2 dari sekian banyak yang dapat terjadi.

Dengan mempertimbangkan beberapa aspek, dan sedikit pengetahuan saya tentang kronologi sejarah di masa itu. Berikut 5 kemungkinan yang terjadi jika sekutu gagal melaksanakan pendaratan di Normandy:

Continue reading →

Waffen SS – Ketika Bangsa Non Arya Menjadi Pasukan NAZI

NAZI terkenal dengan tindakan rasialnya yang mengganggap bahwa Bangsa Arya jauh lebih baik dibandingkan dengan bangsa-bangsa lainnya atau untermensch. Dengan menggunakan slogan “Deutsche Uber Alles” mereka mencoba menjadikan bangsanya menjadi pemimpin dunia. Dan “Labensraum” yang bertujuan untuk meluaskan tanah mereka terutama ke wilayah timur.

Schutzstaffel

Partai NAZI mempunyai pasukan mereka sendiri yang berada di bawah kendali langsung Reichfuher. Pasukan yang bernama Schutzstaffel atau SS ini awalnya hanyalah bertugas sebagai pengawal pribadi petinggi partai NAZI atau yang dahulu dikenal dengan nama Saal-Schutz. Namun dibawah komando Heinreich Himmler, SS menjadi pasukan paramiliter yang semakin besar. Namanyapun berubah menjadi Waffen-SS atau SS bersenjata. Puncaknya, Waffen-SS terdiri dari 1,2 juta pasukan dengan 38 Divisi. Uniknya, lebih dari setengah divisi SS adalah divisi non-Arya.

Seiring dengan berjalannya Perang di Russia, Jerman menderita kerugian tentara yang cukup besar. Dalam Operasi Barbarossa selama Juli sampai akhir tahun 1941 saja, 800,000 tentara Jerman tewas di front Russia. Meskipun kerugian Russia jauh lebih besar lagi, beberapa data menyatakan bahwa korban tentara Soviet mencapai angka 4,000,000 jiwa. Namun cadangan penduduk Soviet cukup besar sedangkan Jerman sendiri mempunyai penduduk yang tidak sebesar negara Tsar itu.

Continue reading →