Awal Perang Dunia 2 For Dummies

Perang Dunia ke 2 adalah salah satu babakan yang menarik dalam sejarah manusia. Subuah perang dimana kekuatan manusia masih mempunyai andil yang sama besarnya dengan kekuatan mesin. Di lain sisi, Perang Dunia ke 2 mempunyai keunikan tersendiri, karena perang tersebut adalah perang yang benar-benar mempertemukan 3 ideologi besar dunia. Fasisme, Komunisme, dan Sosialisme saling berbenturan satu sama lain, walaupun memang terkadang satu ideologi dengan ideologi yang lain saling bahu-membahu untuk menghancurkan yang lain.

Anindita Saktiaji - World War 2

Perang Dunia ke 2 mempunyai banyak sekali sebab sehingga harus terjadi. Namun, kejadian yang paling memicu terjadinya Perang Dunia ke 2 adalah, Perang Dunia sebelumnya. Weltkrieg atau Great War atau Perang Dunia ke 1 adalah sebuah konflik paling masif yang pernah dilihat oleh umat manusia hingga saat itu. Perang tersebut menghasilkan segelintir perjanjian dan konsensus yang sering disebut dengan perjanjian Versailes.

Perjanjian Versailes ini memaksa Jerman untuk merelakan sejumlah wilayahnya untuk dicaplok oleh negara lain. Sebagian wilayahnya di Prussia Timur dilebur ke dalam Polandia, kota Memel dilebur ke dalam negara Baltik ,dan daerah Rheinland diduduki oleh Perancis. Namun dua negara lain yang aktif di dalam perang juga mendapatkan kekecewaan karena mereka tidak mendapat jatah kemajuan apapun setelah perang. Dua negara itu antara lain Italia dan Jepang.

Awal dimulainya Perang Dunia ke 2 masih menjadi perdebatan panjang. Yang di sepakati oleh dunia sekarang ini adalah penyerangan Jerman atas Danzig pada 1 September 1939. Namun banyak yang mengganggap bahwa serangan itu hanyalah puncak dari konflik yang telah sekian lama timbul dan tenggelam. Aneksasi Jerman atas Austria pada 1938, Aneksasi Italia atas Albania pada 1939, Penyerangan Jepang ke China pada 1937 adalah beberapa kandidat yang pantas diperhitungkan untuk dimulainya konflik.

Yang jelas, setelah penyerangan Jerman atas Danzig, Inggris dan Perancis mendeklarasikan perang terhadap Jerman. Dan deklarasi perang tersebut membuat perang, hitam diatas putih, telah terjadi. Seluruh negara-negara besar di eropa berlomba-lomba untuk meningkatkan kapasitas produksinya. Di beberapa negara, kapasitas produksi bahkan meningkat lebih dari 100% dibandingkan dengan masa damai.

Jerman memang menjadi tokoh sentral dalang perang Eropa di tahun 1939 itu, namun negara yang menyerang Polandia bukanlah dia semata. Negara Soviet yang dipimpin oleh Stalin, melalui pakta Molotov-Ribbentrop pada 23 Agustus 1939, ikut-ikutan menyerang Polandia. Berdasarkan pakta itu, Polandia dibagi menjadi dua kekuasaan, di sebelah barat diduduki oleh Jerman sedangkan di timur dilebur di dalam kekuasaan USSR. Pembagian kekuasaan ini nantinya akan mirip sekali dengan keadaan Eropa sebelum terjadinya Perang Dunia I.

Continue reading →

Sang Presiden

Sebentar lagi, Indonesia akan kembali memilih pemimpin baru. Beberapa nama kandidat sudah bertebaran dan prediksi sudah dijalankan. Pemimpin yang baru ini nantinya akan mengarahkan dua ratus juta lebih manusia Indonesia yang multi kultur, multi agama, multi keyakinan, dan multi pandangan. Barangkali, tidak ada negara manapun di dunia ini yang mempunyai tingkat kompleksitas sosial sebesar dan sedalam negera kita. Menyatukan masyarakat yang kompleks tersebut adalah tugas yang begitu sulit. Tugas yang belum pernah sepenuhnya berhasil dilaksanakan oleh Presiden-Presiden Indonesia sebelumnya. Meskipun mereka adalah Sukarno maupun Suharto.

Anindita Saktiaji - Presiden Indonesia

Menjadi Presiden di negara seperti tempat kita tinggal tidak hanya membutuhkan kecerdasan lebih saja. Tidak juga seseorang yang mempunyai kemauan yang kuat ataupun kerja keras yang maksimal. Tidak juga dengan kombinasi ketiga-tiganya.

Masyarakat negara kita membutuhkan pemimpin yang tidak hanya cerdas, mempunyai kemauan dan pekerja keras, namun juga pemimpin yang dapat menjadi sosok ‘Bapak’. Indonesia adalah bangsa yang relatif baru terbentuk setelah negara ini merdeka. Sebelumnya, kita tidak pernah sadar bahwa kita bisa menyatukan kekuatan kita, kecuali segelintir kelompok-kelompok pergerakan nasional yang di kemudian hari menjadi bibit bagi pendirian bangsa.

Sosok seorang pemimpin yang berwatak kebapakan, orang yang mampu memberikan contoh, bukan orang yang mampu memerintah saja adalah sosok yang begitu ideal bagi bangsa Indonesia ini. Mengapa? Karena kebanyakan dari bangsa ini masih belum tahu arah dan tujuan bersama sebagai sebuah bangsa.

Continue reading →