Sebuah Sandiwara

Terkadang, kehidupan manusia adalah sandiwaraLife
Indah dan sedih menjadi bahan tertawaan manusia lainnya
Jenaka dan malang menjadi sebuah satir bagi mulut-mulut yang kering
Karsa dan rasa menjadi hambar dalam pemikiran yang kalut

Manusia dan manusia akan selalu bercerita
Tentang siapa dirinya dan apa yang akan ia lakukan
Lelucon dan angan akan menjadi satu
Dalam derap kebengisan yang tak berujung

Tawa dan tangis adalah warna kehidupan
Di sana sebuah raga kan luluh dalam sandiwara
Nyata atau semu tak bisa dibedakan
Hanya naluri yang akan membuat manusia dapat bertahan

Hewan dan manusia barangkali berbeda
Namun kosmos menentukan bahwa kita entitas sama
Kita hidup dan mati
Terkubur membusuk di dalam tanah, dan kembali ke kosmos

Continue reading →

Ketidakpastian

Mungkin juga keyakinanku salahPath
Mungkin pendirianku yang tak tentu
Atau sekedar perasaanku yang kacau balau

Aku tak mengerti kemana harus pergi
Apakah sebuah kepastian itu harus
Apakah semua yang dilakukan itu adalah tanggung jawab

Seseorang tidak mungkin untuk terus menerus maju
Aku pun tidak, kaupun tidak
Tidak ada yang mau terus seperti itu

Air mengalirpun akan berhenti suatu saat
Di batu yang tinggi menjulang
Hanya sebuah ketidakpastian

Anindita Saktiaji (18/09/2010)

Sebuah Persimpangan Jalan

Di sebuah persimpangan jalan yang meliuk tajamcross
Dan di sebuah padang asa yang penuh lumpur derita
Aku berjalan, layaknya karang yang tak tergoyahkan
Bergerak bagai angin yang tak terhentikan

Masa yang lalu kan terus berganti
Dan masa sekarang kan terus berlalu
Pelan-pelan namun pasti
Pergantian, demi pergantian kan terus terjadi

Ketika kita terus bertanya
Dan terpaku tanpa berbuat
Kita hanya akan menemukan kekosongan
Bukan menemukan sebuah jalan

Continue reading →

Kebencian

Aku ingin membunuh semua orang yang merasa dunia ini miliknyakilling
Yang merasa nyawa orang lain miliknya
Yang merasa hidup orang lain miliknya
Yang merasa milik orang lain miliknya
Yang merasa tujuan orang hidup orang lain itu sama dengan tujuannya
Yang merasa martabat orang lain itu miliknya
Maka ketika aku selesai melakukannya
Kan kubunuh diriku sendiri
Karena aku juga ingin membunuh orang yang semena-mena membunuh orang lain

Anindita Saktiaji (14/02/2009)

Sebuah Penantian

Sebuah penantian panjang, seakan melihat jalan tak berujungPuisi
Menanti sebuah mimpi yang tak kunjung juga tersampaikan
Mimpi yang ada jauh di langit, bersandar bintang yang penuh cahaya
Sendu yang meratap, tak hilang dan tak lekang

Hidup adalah konsekuensi pilihan
Tak ada yang salah, namun tak ada pula yang mutlak kebenaran
Semua pilihan adalah baik di satu sisi, dan buruk di sisi lain
Seakan koin yang punya dua muka

Kesenangan dan kegundahan adalah bunga kehidupan
Yang semuanya akan silih berganti, gugur dan mekar di saat-saat yang berbeda
Semua itu sama, layaknya keindahan
Di mana semua akan terasa lebih ketika kita menikmatinya

Pasang dan surut adalah keharusan
Tidak ada yang pasti, kecuali perubahan itu sendiri
Kehidupan dan kematian, baik dan buruk, yin dan yang, selalu ada dua sisi
Semuanya berujung pada penantian, berujuang pada ketidakpastian

Anindita Saktiaji (24/01/2012)