Borobudur dan Simbol Peradaban

Jika orang ditanya, bangunan kuno apa yang paling kita ingat yang dibangun kerajaan Nusantara jaman dulu? Mungkin sebagian besar akan menjawab Borobudur, barangkali diikuti dengan Prambanan dan beberapa candi megah lain. Uniknya, Borobudur dibangun bukan pada masa puncak peradaban Nusantara. Ia dibangun oleh sebuah kerajaan yang notabene tidak begitu agung. Kerajaan itu adalah kerajaan Mataram.

Candi Borobudur

Para ahli sejarah masih memperdebatkan apakah Mataram yang membangun Borobudur (dan Prambanan meskipun berbeda dinasti), adalah “juga” penguasa Srivijaya. Apakah kedua negara itu mempunyai hubungan “personal union.” atau justru hubungan Mataram adalah vassal bagi Srivijaya. Sampai sejauh ini tidak ada prasasti yang dengan tegas mengatakan itu. Yang jelas, Srivijaya dengan luas kekuasaan sepertiga Asia Tenggara sekarang ini sempat terlupakan oleh sejarah. Dan justru kerajaan kecil seperti Mataram, yang hanya menguasai sebagian Jawa Tengah dan Timur tak lekang oleh waktu.

Candi Borobudur

Peninggalan bangunan sejarah yang mempesona seperti candi-candi Jawa adalah salah satu bukti jika manusia ingin diingat selamanya. Motivasi itu juga yang melatar belakangi dibangunnya piramid-piramid raksasa di Mesir, atau monumen-monumen lain di seantero dunia yang diabadikan untuk mengingat seseorang. Itulah, mengapa dunia mengenal betul Borobudur. Sedangkan Srivijaya dan kemudian nanti Majapahit kurang begitu mendengung di telinga orang luar.

Continue reading →

Melirik Singapore Yang Bersih, Nyaman, Rapi, Namun… (2)

(Lanjutan dari bagian 1…) Setelah sopir taksi, pelayan restoran, dan pembersih bendara yang kebanyakan adalah orang-orang tua. Satu hal yang mungkin tidak ditemui di Indonesia lainnya adalah, gerai seven eleven yang kecil. Entah kebetulan atau apa, namun saya sama sekali tidak pernah menemui gerai seven eleven yang besar dengan WIFI dan tempat nongkrongnya. Salah satu gerai tersebut tepat berada di samping hotel, sebuah gerai kecil yang bahkan antara tempat makanan dan kasir dibagi jadi dua bagian.

Skyline Singapore

Skyline Singapore

Pada hari pertama training, butuh waktu lama untuk menemukan Kallang Avenue. Daerah itu bahkan masih kosong di google maps. Dan ketika kami sampaipun, gedung di sana masih nampak baru dan masih sedikit sekali mempunyai tenant. Training berlangsung dengan baik, pengajarnya seorang berkembangsaan Amerika dengan nama Matthew Colona, namanya menggingatkanku dengan nama mobil.

Aku kira training di Singapura mirip dengan traning di Indonesia. Apa yang ada di benaku dan mungkin banyak orang lainnya adalah, makanan melimpah, snack, minuman gratis, dan lain sebagainya. Akan tetapi, kali ini aku harus kecewa karena segala fasilitas itu tidak pernah ada. Jangankan snack di kala break, makan siangpun tidak ada! Kami harus mencari makan sendiri di kantin-kantin gedung.

Rasa makanannya cukup enak, hanya saja saya binggung dengan kebiasaan orang disini. Sebagian besar orang makan tanpa menggunakan minum. Bahkan tidak untuk sekedar teh ataupun air putih. Saya baru sadar ketika melihat struk pembelian makan siang yang ada di tanganku, harga minum untuk segelas teh adalah $ 2.5, atau nyaris 24 ribu rupiah. Cukup mahal untuk ukuran teh hangat yang rasanya biasa-biasa saja. Tidak heran jika orang sana lebih memilih makan sambil tersedak-sedak daripada harus membeli minuman yang tidak setara harganya.

Continue reading →

Melirik Singapore Yang Bersih, Nyaman, Rapi, Namun… (1)

Bulan┬ákemarin, tepatnya tanggal 17 – 21 November 2014, saya mendapatkan kesempatan dari perusahaan tempat saya bekerja untuk melakukan training di Singapore. Sebuah kota metropolitan di pulau kecil yang lembab dan panas. Setidaknya, begitulah kata orang-orang Inggris dahulu ketika mereka melakukan perjalanan ke kota pelabuhan kecil di ujung Malaka itu. Jujur saja, ini adalah perjalanan pertamaku keluar negeri. Dan saya cukup bersemangat karena akan menggunakan paspor saya untuk pertama kalinya.

Marina Bay Sands Singapore di Malam Hari

Marina Bay Sands Singapore di Malam Hari

Perjalanan dari Jakarta menuju Changi memakan waktu kurang lebih 1 jam 30 menit. Waktu yang kurang lebih sama untuk menempuh perjalanan dari Jakarta ke Bali. Cuaca tanggal 17 pagi cukup cerah, dan perjalanan yang saya lalui cukup nyaman tanpa ada kendala berarti. Satu hal yang menjadi catatan dari saya adalah, siapkan sebuah tas kecil berisi pulpen atau pena. Imigrasi mengharuskan anda untuk menuliskan beberapa pernyataan di pesawat.

Saat ini Changi mempunyai 3 terminal dan antara satu terminal dengan terminal lain dihubungkan dengan monorail. Sangat memudahkan passanger untuk berpindah terminal jika dia tersesat atau ingin menuju ke MRT yang berada diantara terminal 1 dan 2. Dari bandara, saya menuju Hotel di daerah Selegie di dekat Little India. Entah mengapa perusahaan vendor memilihkan tempat itu, padahal tempat training ada di daerah Kallang yang kurang lebih berjarak 3.4 km dari hotel tempat saya menginap. Barangkali ada kesalahan pemilihan tempat karena di dua lokasi tersebut sama-sama terdapat hotel Fragrance. Hotel, entah bintang berapa, yang berfasilitas, yahh, cukuplah…

Malam pertama di Singapore, saya dan rekan saya mencoba untuk berjalan kaki dari Hotel ke Marina Bay. Ya, jalan kaki! Kurang lebih jarak yang harus kami tempuh adalah 3.1 km. Cukup untuk membuat kaki saya panas berjalan di malam hari yang kurang lebih juga, panas!

Continue reading →