Teroris dan Agama

Insiden bom di Sarinah, Thamrin rasanya masih membekas erat di ingatan kita. Teroris mencoba meledakan bom di sebuah gerai kopi yang berpusat di Amerika Serikat. ISIS disinyalir menjadi dalang utama pemboman ini, sebuah upaya untuk menunjukan taring di negeri yang telah aman dari serangan bom selama kurang lebih enam tahun. Mengapa ISIS mencoba menunjukan kekuatannya lewat teror? Dan mengapa selalu ada kelompok ekstrimis yang melandasi dirinya dengan dalil agama?

Peace Religion

Di hampir setiap agama, selalu ada sekelompok orang yang mengganggap dirinya paling benar diantara lainnya. Mereka mengganggap bahwa kelompok mereka adalah yang paling layak untuk berdiri di muka bumi. Sedangkan kelompok lainnya salah, dan harus dimusnahkan. Esklusivisme semacam ini yang mendorong mereka untuk berbuat secara ekstrim dan radikal. Kegiatan ekstrim dan radikal semacam inilah yang membuat seseorang atau sekelompok orang nekat untuk berbuat anarkis atau bahkan terorisme.

Beberapa waktu setelah insiden bom oleh teroris di Sarinah, beredar sebuah selogan bahwa teroris itu tidak beragama. Slogan ini bertujuan untuk mendiskreditkan pelaku teroris sebagai orang yang tak mempunyai adab dan norma agama. Namun, dalam hemat saya, pernyataan seperti ini saya kira tidak pada tempatnya. Orang yang tidak beragama bukan berarti orang tersebut tidak mempunyai moral.

Negara-negara yang mendepankan kedisiplinan dan keteraturan bermasyarakat seperti Jepang dan Swedia, tercatat mempunyai penduduk yang minim berafiliasi dengan agama. Sebuah fakta yang sedikit memalukan justru berkata sebaliknya, beberapa negara (tidak semua dan tidak usah saya sebutkan) yang menyatakan mempunyai afiliasi kuat dengan agama malah mempunyai kecenderungan bersikap agresif dan kurang dalam toleransi. Bukan agamanya yang salah dalam hal ini,

Tidak ada yang salah dengan agama, dan juga tidak ada yang mengherankan dengan orang yang tidak ada afiliasinya dengan agama. Semua tergantung dari pola pikir masing-masing individu yang mempercayainya. Sejarah mencatat, bahwa ekstrimisme dari orang non-religious juga tinggi. Stalin misalnya, entah berapa juta rakyatnya sendiri yang mati dibawah pemerintahanya. Di dalam agama, negara Andalusia misalnya, di satu masa ia memperbolehkan penduduk Muslim, Kristen, dan Yahudi untuk hidup berdampingan, bahkan saling bersinergi untuk membentuk komunitas.

Jika ingin terorisme musnah, kuncinya adalah kita saling menghargai satu sama lain. Semua sama, mempunyai kedudukan yang sama, dan derajat yang setara. Jika satu kelompok masih menganggap dirinya lebih daripada kelompok lain, maka ekslusivisme akan terbentuk. Dan jika orang sudah merasa dirinya paling benar, maka ia akan menganggap orang lain salah dan patut untuk dihilangkan. Ini adalah sebuah pemikiran yang harus dijauhi. Manusia tidak dapat hidup sendiri, manusia harus saling mengasihi, membantu satu sama lain, dan menghormati antar sesamanya.

Pernyataan-pernyataan itu nampak mudah untuk dibaca, namun begitu sulit untuk diterapkan. Saya juga mengalami kesulitan tersendiri ketika dihadapkan pada toleransi. Pemikiran orang cenderung mengkotak-kotakan satu kelompok dengan kelompok yang lain. Kelompok saya adalah kelompok saya dan kelompok lain adalah kelompok lain. Namun jika kita mau sedikit demi sedikit saling memahami, suatu saat, toleransi universal di dunia ini akan ada. Semakin kita mau berubah, semakin cepat harapan itu akan terwujud.

2 Comments

Leave a Reply