Waffen SS – Ketika Bangsa Non Arya Menjadi Pasukan NAZI

NAZI terkenal dengan tindakan rasialnya yang mengganggap bahwa Bangsa Arya jauh lebih baik dibandingkan dengan bangsa-bangsa lainnya atau untermensch. Dengan menggunakan slogan “Deutsche Uber Alles” mereka mencoba menjadikan bangsanya menjadi pemimpin dunia. Dan “Labensraum” yang bertujuan untuk meluaskan tanah mereka terutama ke wilayah timur.

Schutzstaffel

Partai NAZI mempunyai pasukan mereka sendiri yang berada di bawah kendali langsung Reichfuher. Pasukan yang bernama Schutzstaffel atau SS ini awalnya hanyalah bertugas sebagai pengawal pribadi petinggi partai NAZI atau yang dahulu dikenal dengan nama Saal-Schutz. Namun dibawah komando Heinreich Himmler, SS menjadi pasukan paramiliter yang semakin besar. Namanyapun berubah menjadi Waffen-SS atau SS bersenjata. Puncaknya, Waffen-SS terdiri dari 1,2 juta pasukan dengan 38 Divisi. Uniknya, lebih dari setengah divisi SS adalah divisi non-Arya.

Seiring dengan berjalannya Perang di Russia, Jerman menderita kerugian tentara yang cukup besar. Dalam Operasi Barbarossa selama Juli sampai akhir tahun 1941 saja, 800,000 tentara Jerman tewas di front Russia. Meskipun kerugian Russia jauh lebih besar lagi, beberapa data menyatakan bahwa korban tentara Soviet mencapai angka 4,000,000 jiwa. Namun cadangan penduduk Soviet cukup besar sedangkan Jerman sendiri mempunyai penduduk yang tidak sebesar negara Tsar itu.

Dalam keterdesakan kebutuhan manpower, satuan-satuan militer Jerman mencoba membujuk negara-negara yang berada di bawah kekuasaannya untuk ikut ambil bagian dalam kampanye militer di Front Timur. Wehrmacht sudah mulai merekrut tentara Perancis dari tahun 1941. Para tentara sukarela itu nantinya akan membentuk Légion des volontaires français contre le bolchévisme atau Legiun Perancis untuk Melawan Bolsevik. Ada juga Blaue Division atau Divisi Biru dari Spanyol yang berkekuatan lebih dari 45,000 orang yang secara sukarela bergabung di dalam Operasi Barbarossa.

Waffen-SS juga akhirnya sedikit mengesampingkan doktrin rasial mereka. Mereka mulai merekrut legiun-legiun asing ke dalam kesatuan mereka. Perancis menyumbangkan 22,000 orang, Hungaria merekrut 40,000 orang, Russia lebih dari 60,000 orang yang terbagi menjadi beberapa bangsa (Cossack, Tartar, dan Russia sendiri), Belanda merekrut lebih dari 40,000 orang dan masih banyak lagi.

Sebagian, anggota yang bergabung di dalam legiun asing Waffen-SS adalah tawanan perang yang melihat peluang lebih cerah di tentara daripada harus mendekam di kamp tawanan. Namun, tidak sedikit pula dari anggota Waffen-SS yang merupakan tentara sukarela. Khusus untuk perekrutan wilayah Russia, ada beberapa indikasi yang menyatakan bahwa banyak tawanan-tawanan Soviet yang ikut bergabung dengan Waffen-SS maupun Wehrmacht yang tidak tercatat/catatannya hilang setelah perang berakhir. Sampai saat ini catatan-catatan itu masih belum diketmukan sehingga tidak jelas berapa jumlah tawanan Perang Soviet yang bergabung di angkatan2 bersenjata Jerman.

Yang unik, Waffen-SS juga mampu merekrut orang-orang non Eropa bahkan yang negara atau wilayah non Kristiani seperti Indisches Freiwilligen Infanterie atau tentara sukarela India yang mencapai jumlah 2,500 orang atau Waffen Mountain Division of the SS Handschar yang terdiri dari orang-orang muslim Kroasia, jumlah divisi itu mencapai 20,000 orang. Tercatat juga sekitar 20 orang sukarelawan asal USA dan 50 orang dari Inggris.

Salah satu rumor bahwa orang Indonesia atau pelajar Indonesia ada yang masuk ke kesatuan Waffen-SS barangkali memang benar. Ada dua orang Volksdeutsche dari Sumatra yang tergabung dalam  3rd Waffen-SS Panzergrenadier Division Freiwilligen Legion Nederland. Namun tidak ada bukti otentik terkait identitas dua orang itu yang cukup jelas selain foto yang menampilkan seorang berdarah asia yang memakai baju waffen-ss.

Dari sekitar 1 juta pasukan Waffen-SS, 500,000 diantaranya adalah legiun asing. Artinya setengah dari pasukan partai NAZI itu adalah orang non-arya (atau setidaknya non-Jerman). Waffen-SS sendiri menderita kerugian jiwa 650,000 lebih selama perang. Sebuah kerugian jiwa yang terbilang cukup besar untuk organisasi paramiliter.

Waffen-SS adalah sebuah kesatuan paramiliter yang rumit. Ia dibentuk dalam ideologi NAZI untuk mendukung kekuasaan mereka. Namun seiring perkembangan situasi di garis depan dan kebutuhan manpower, ia justru mengesampingkan ideologi pan-arya mereka dan memilih untuk merekrut anggota dari berbagai bangsa. Mungkin ada benarnya jika di dalam perang, kemengan lebih penting daripada ideologi. Kejelasan terkait siapa saja anggota legiun asing Waffen-SS terbilang sulit untuk dilacak. Orang mungkin masih mau mengaku jika ditanya apakah ia seorang anggota Wehrmacht, namun tidak untuk Waffen-SS. Organsasi itu di-cap sebagai penjahat perang selama Perang Dunia ke 2. Waffen-SS yang dahulu adalah pasukan elit dan kebanggaan NAZI, kini tidak lebih dari sebuah Legiun yang hilang.

Leave a Reply