We Are All Alone?

Kehidupan dan kematian bagaikan sebuah siklus yang pasti di alam semesta ini. Setiap apa yang lahir akan mati, dan dari kematian akan ada bibit-bibit kemunculan yang baru. Di sini saya tidak hanya membicarakan manusia, bukan juga hanya membicarakan makhluk hidup, namun setiap apa saja yang ada di alam semesta. Bahkan bintang-bintang yang matipun akan melahirkan bintang baru yang kelak akan menumbuhkan generasi baru di alam semesta.

You In Universe

Ketika kita melihat unsur-unsur yang ada di tubuh kita. Mineral-mineral yang mengalir di dalam sel darah dan mengendap di daging serta saraf kita dibuat di dalam bintang-bintang tua yang telah hancur. Generasi bintang kedua atau ketiga seperti matahari yang menjadi pusat tata surya kita mencoba menempanya kembali dalam bentuk gravitasi yang mengendapkan gumpalan mineral menjadi gas dan kemudian planet-planet seperti Merkurius, Bumi, Venus, dan Mars.

Dari sana, beberapa waktu lalu saya mempunyai pertanyaan menarik (atau setidaknya bagi saya menarik). Jika orang tua mempunyai hubungan darah dan kedekatan dengan anak-anaknya. Lalu bagaimana hubungan kita dengan alam semesta ini? Di dalam tubuh kita terdapat oksigen, hidrogen, nitrogen, karbon, kalsium, potasium, fosfor, sodium, iodine, zinc, dan masih banyak mineral lain yang semuanya tersebar begitu luas di alam semesta ini.

Di sekitar kita, banyak sekali tersebar bumbu dan bahan mentah untuk membentuk apapun yan menyerupai kita. Hanya butuh sebuah resep khusus untuk memasaknya dan jadilah entitas yang kita sebut sebagai manusia. Resep itu sekarang masih terpisah menjadi dua kubu, di satu sisi, Tuhanlah yang membentuk resep dan memasaknya, di sisi lain, resep itu tercipta dengan sendirinya oleh proses alam yang panjang. Apapun nantinya teori yang benar, kita mempunyai kedekatan raga (dan mungkin emosional) dengan alam semesta ini. Atau dapat dikatakan, kita adalah bagian tidak terpisahkan dari alam semesta ini.

Memikirkan bahwa kita adalah entitas yang menjadi bagian dari alam semesta ini adalah sebuah pandangan yang begitu menyenangkan. Kita menjadi merasa bahwa alam dan kita adalah entitas yang saling mendukung satu sama lain, dan memang begitulah kenyataannya. Hanya saja, sekarang ini kontribusi alamlah yang jauh lebih kita rasakan daripada kontribusi kita ke alam semesta. Entah ada atau tidak, aku harap suatu saat kita akan benar-benar mampu menemukan kontribusi nyata dari keberadaan makhluk hidup seperti kita di alam semesta ini.

Dari umur alam semesta yang cukup tua, entitas hidup seperti kita baru saja muncul dalam hitungan waktu yang sempit. Dan makhluk hidup cerdas jauh lebih mempunyai hitungan waktu yang sempit lagi. Wajar saja jika kita tidak tahu, dan tidak memahami apa alasan kita ada. Apakah kita hanya akan sekedar bertahan hidup di ombang-ambing oleh situs alam yang sama sekali tidak kita pahami. Atau apakah kita yang justru akan memanfaatkan alam untuk kehidupan kita, terus-menerus, dan terus sampai kepuasan kebutuhan kita yan tak terpuaskan itu akan terpenuhi sedikit demi sedikit?

Nyata atau tidak, barangkali ada juga ribuan atau bahkan jutaan jenis entitas seperti kita di luar sana yang berpikiran sama. Sebagian mungkin diantara mereka telah benar-benar menemukan tujuan dari keberadaan entitas mereka. Namun sebagian besar lainnya aku yakin masih sama seperti kita. Merana di alam semesta yang tak tahu ujungnya.

Leave a Reply