Kesalahan Fatal Hitler Selama Perang Dunia ke 2

Kekalahan Jerman di dalam Perang Dunia Ke 2 sebagain besar (secara ironi) justru disebabkan oleh keputusan-keputusan Hitler sendiri. Hal tersebut diakibatkan karena Hitler terlalu mengikat negaranya dan terlalu mengambil keputusan-keputusan penting bahkan keputusan militer. Sayang sekali Hitler tidak mempunyai kekuatan sebesar itu untuk mengontrol seluruh aspek di dalam negaranya. Berikut ini adalah 5 kesalahan Hitler selama Perang Dunia ke 2:

1. Pengepungan Dunkirk

Penyerangan Jerman ke Perancis pada April 1940 nampak begitu menjanjikan. Pertahanan sekutu sepanjang perbatasan Belanda, Belgia dan Luxemburg runtuh hanya dalam hitungan hari. Pasukan dari ketiga negara itu mundur ke garis perbatasan baru, yaitu di sepanjang garis marginot lini di Perancis. Di sana, bala bantuan Inggrispun telah siap. Total, Inggris mengirim lebih dari dua ratus ribu pasukan ke Perancis. Sehingga membuat kekuatan gabungan sekutu berjumlah lebih dari 1,7 juta manusia. Jauh lebih besar dari pasukan Jerman yang diperkirakan hanya berjumlah 1.2 juta manusia.

Pengepungan Dunkrik (Sumber : Wikipedia)

Pengepungan Dunkrik
(Sumber : Wikipedia)

Terdapat lebih dari tiga ratus ribu pasukan yang terkurung di Kota kecil Dunkirk. Pasukan itu adalah kumpulan dari Pasukan Inggris, Perancis, Belgia, sebagian kecil Belanda, Luxemburg dan Polandia. Tidaklah jelas keputusan Hitler untuk menghentikan serangan di Dunkirk. Namun karena keputusannya inilah, tiga ratus ribu tentara sekutu berhasil lolos ke tanah Inggris. Inggris memprioritaskan penggungsian ini dengan mengirim ribuan kapal (sebagian besar merupakan kapal nelayan dan komersial) untuk menyelamatkan pasukan yang telah terdesak ini.

Proses Evakuasi Dunkrik Yang Kacau dan Kalang Kabut

Proses Evakuasi Dunkrik Yang Kacau dan Kalang Kabut

Apapun alasan Hitler, pertempuran Dunkirk adalah menjadi sebuah blunder Hitler yang pertama dan paling buruk sepanjang pertempuran. Tiga ratus ribu pasukan sekutu yang terdiri dari Inggris, Perancis, Polandia dan Belgia itu kemudian mampu menjadi bibit untuk pengembangan sekutu di masa mendatang. Pasukan inilah yang kemudian mengalahkan Rommel di Afrika Utara, pasukan ini juga yang berhasil mendepak Jerman dari Italia, mereka pulalah pasukan yang diterjunkan di Perancis Utara saat Operasi Normandy pada tahun 1944. Barangkali hal itu tidak terjadi atau setidaknya sulit terjadi jika pasukan yang terkepung di Dunkirk itu tidak lolos. Namun apa boleh buat. Keputusan Hitler yang dibuat pada Mei 1940 itu adalah bulat. Bahkan walaupun Jendral kawakan seperti Heinz Guderian menentang keras.

2. Battle of Britain

Battle of Britain atau pertempuran Inggris Raya dikenal sebagai salah satu pertempuran udara paling besar selama Perang Dunia ke 2. Battle of Britain sebenarnya hanyalah salah satu bagian dari Rencana penyerangan Hitler ke Inggris yang dikenal dengan Operasi Seelowe (Singa Laut). Operasi tersebut direncanakan akan berlangsung pada lewat pertengahan tahun 1940. Tergantung dari tanggapan Inggris terhadap inisiasi damai yang dilakukan oleh Jerman.

Rencana Jerman di Battle of Britain tahun 1940

Rencana Jerman di Battle of Britain tahun 1940

Kesalahan yang barangkali paling kentara adalah masalah VD – Victory Disease (Penyakit Kemenangan). Jerman sampai detik itu belum pernah sekalipun kalah dalam medan perang manapun. Bisa dikatakan juga bahwa Battle of Britain itu sendiri bukanlah sebuah kekalahan karena Jerman hanya gagal untuk menundukan kekuatan udara Inggris dan bukannya kalah. Kekalahan Jerman baru akan ada di babakan Perang Rusia, dua tahun kemudian di Stalingrad, hampir bersamaan dengan itu adalah kekalahan Jerman di Afrika Utara. Victory Disease menyebabkan tentara menjadi terlalu underestimates lawannya dan memandang rendah potensi kekuatan lawan. Inilah yang membuat pilot-pilot Jerman kemudian shock ketika melihat pilot-pilot udara Inggris yang ternyata juga jago bertarung di udara.  

Hasil akhir Battle of Britain berakhir dengan kegagalan besar di pihak Jerman. Ratusan pesawat Jerman baik pembom maupun tempur rontok, walaupun kerugian di pihak Inggris tidaklah kecil. Sekitar 40.000 penduduk tewas selama pengeboman di kota-kota Inggris. Namun efek yang timbul bagi Jerman jauh lebih hebat daripada efek untuk Inggris. Inggris sementara itu masih dapat memperoleh sukucadang dan pesawat-pesawat baru dari Amerika Serikat melalui perjanjian dagang yang kala itu belum sudi terjun ke kancah peperangan. Kerugian mereka dapat ditutup hanya dalam hitungan bulan. Sementara itu Jerman yang self produce kekuatan militernya hanya dapat berharap dari produksi dalam negerinya sendiri. Ketika Jerman menyerang Uni Soviet delapan bulan kemudian. Kekuatan udara Jerman tidaklah lagi seperkasa dahulu ketika mereka memulai invasi ke Perancis dan Polandia. Itu sebabnya pula Uni Soviet dapat memindahkan mesin produksi pabrik-pabrik mereka ke tempat yang lebih aman yaitu di Pegunungan Ural sebelum pabrik-pabrik itu sempat di bom oleh pembom Jerman. Untuk kemudian dapat memproduksi mesin militer yang kemudian digunakan untuk menghantam kekuatan Jerman di kemudian hari.

3. Pertempuran Yunani

Pertempuran Yunani sebenarnya tidak dimulai oleh Hitler sendiri, namun oleh sahabatnya, Benito Mussolini. Mussolini yang pada tahun 1938 telah menguasai Albani mempunyai visi untuk menggembalikan kejayaan Romawi dahulu kala dengan merebut Yunani. Yunani ia anggap sebagai sasaran empuk karena mereka tidak mempunyai pasukan yang mumpuni. Sebaliknya, Italia telah menempatkan divisi-divisinya yanterlatih secara baik di Albania.

Pergerakan Pasukan Itali dan Jerman (serta Axis) di Yunani taun 1941

Pergerakan Pasukan Itali dan Jerman (serta Axis) di Yunani taun 1941

Italia, seperti diprediksi mampu membuat pertahanan Yunani kalang kabut. Akan tetapi hal itu tidak berlangsung lama karena pada November hingga Maret 1941 justru Yunani dengan pasukannya yang kecil dan tidak mempunyai peralatan yang baik  mampu mendorong Italia bahkan hingga ke wilayah Albania.

Battle of Crete

Pertempuran Pulau Kreta yang Didominasi Oleh Flashmichjager (Tentara Penerjun Udara Jerman) Tahun 1941

Kekalahan Yunani itu memaksa Hitler untuk membantu sahabatnya dan menunda Operasi Barbarossa hingga dua bulan lamanya. Sebuah keputusan penting yang sebenarnya dapat sangat mempengaruhi jalannya peperangan ke depan. Penundaan selama dua bulan itu artinya bahwa Operasi Barbarosa harus dimulai pada bulan Juni, terlalu dekat untuk musim dingin. Dan terbukti bahwa penundaan ini akan berakibat sangat fatal di kemudian hari. Tentara Jerman yang sudah berada di ambang kota Moskva ternyata benar-banar terjebak di musim dingin Rusia yang ganas.

4. Pengepungan Stalingrad

Pertempuran Stalindgrad (Agustus 1942-Februari 1943) adalah titik penting di dalam jalannya Perang Dunia ke 2. Pertempuran ini dapat dikatakan sebagai Turning Point. Titik balik kemajuan Jerman yang nyaris tidak terkalahkan selama 3 tahun peperangan. Stalingrad sendiri sebenarnya bukanlah kota yang penting. Ia adalah sebuah kota kecil di pinggir sungai Volga, ribuan kilometer dari ibukota Moskva. Dahulu (dan sekarang) kota itu bernama Volgograd atau Kota Volga (Volgo = Sungai Volga dan Grad = Kota).

Skema Battle of Stalingrad tahun 1943 (http://www.armchairgeneral.com)

Skema Battle of Stalingrad tahun 1943
(http://www.armchairgeneral.com)

Satu-satunya hal yang penting dari Stalingrad adalah namanya. Stalingrad mempunyai arti Kota Stalin (Stalin = Stalin dan Grad = Kota). Dan kota inilah yang Hitler harapkan dapat menjadi sebuah simbol kemenangan di Rusia. Terutama setelah kegagalanan Jerman merebut Moskva setahun sebelumnya. Merebut Stalingrad telah menjadi sebuah obsesi pribadi Hitler yang tidak melalui pertimbangan militer dan strategis.

Apakah Stalingrad tidak penting? Sebenarnya pernyataan tersebut tidak sepenuhnya salah. Stalingrad terletak di seberang sungai Volga yang penting bagi lalu lintas industri dari selatan ke utara Rusia. Kota ini juga mempunyai beberapa industri vital seperti sulfur yang cukup penting untuk membuat amunisi dan bahan peledak. Akan tetapi yang menjadi masalah utama adalah cara merebut Stalingrad. Hitler menginginkan Stalingradi direbut dengan cara mendudukinya. Itu berarti pasukannya harus dipaksa untuk berperang di jalanan kota. Dan hal semacam inilah yang sebisa mungkin untuk dihindari para Jendral Jerman. Pasukan Wehrmacht adalah pasukan yang dirancang untuk berperang dengan cara mobil, bergerak cepat, dan bermanuver. Mereka tidak terlalu handal jika berperang di dalam kota. Sebagai contoh adalah pertempuran Warsawa dan Moskva yang menelan banyak korban. Jendral Jerman menginginkan agar Stalingradi dilewati saja atau setidaknya dikurung dari sisi luar. Namun hal itu sama sekali tidak diinginkan Hitler mengingingat operasi semacam itu akan memakan waktu sangat lama.

Ketidaksabaran Hitler berbuah celaka. Ia telah membuat celaka tiga ratus ribu prajuritnya di sana dan membuat Jerman kehilangan di Front Timur. Kehancuran tiga ratus ribu tentara Jerman di Stalingrad membuat kekuatan negara itu lumpuh dan tak dapat lagi diperbaiki.

5. Battle of Bulge

Battle of Bulge atau Pertempuran Ardennes (Desember 1944-Januari 1945) adalah ofensif terakhir Jerman selama Perang Dunia ke 2. Disebut Battle of Bulge (tonjolan) adalah karena serangan Jerman ini bergitu menusuk sehingga membentuk seperti sebuah tonjolan jika dilihat di dalam peta. Tujuan pertempuran ini adalah merebut kembali Kota Pelabuhan Anterwepen dan membagi dua kekuatan sekutu yaitu di Belanda dan di Perancis.

Rencana Battle of Bulge 1944 - 1945 - Anterwepn Sebagai Sasaran Utamanya

Rencana Battle of Bulge 1944 – 1945 – Anterwepn Sebagai Sasaran Utamanya

Bagi pengamat militer, rencana Jerman ini adalah sebuah rencana yang menggagumkan dan jika berhasil akan mempengaruhi jalannya perang secara keseluruhan. Akan tetapi yang menjadi permasalahan adalah kesiapan dari pasukan Jerman sendiri. Jumlah pasukan yang disiapkan sebenarnya cukup besar yaitu sekitar lima ratus ribu orang dan dilengkapi dengan 800 panzer. Beberapa diantaranya bahkan jenis tank baru yaitu Koenigstiger atau King Tiger. Salah satu varian Panzer Tiger terbaru yang digadang-gadang sangat kuat. Namun pasukan sebesar itu tidak dilengkapi dengan logistik yang cukup. Bensin sebagai contoh, sangat nihil dan bahkan mereka direncanakan untuk merebut pos-pos pengisian bahan bakar sekutu di perjalanannya. Sebuah rencana yang sangat riskan.

Realisasi Battle of Bulge 1944

Realisasi Battle of Bulge 1944

Berkat operasi ini pula front timur harus terbuka lebar. Hampir seluruh sumber daya militer dipusatkan untuk keberhasilan Operasi ini sehingga Front Timur tidak mendapatkan pasukan tambahan atau peralatan yang baru. Itulah yang mempercepat jatuhnya Front Timur termasuk Berlin di kemudian hari.

Leave a Reply